Oleh: dhanuwangsa | November 23, 2010

GALUNGAN : MEMBANGUN KESADARAN MORAL

GALUNGAN : MEMBANGUN KESADARAN MORAL

Oleh : Nanang Sutrisno, S.Ag, M.Sij

 

Ragadi musuh maparo,Ri hati ya tonggwannia, tan madoh ring awak

(Musuhmu ada dalam dirimu, di hatilah tempatnya, tidak jauh dari badan)

 

Om Swastyastu,

 

I. Prawacana

S. Radhakrishnan (1987:9) mengatakan bahwa kemanusiaan sekarang ini mengalami krisis terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Kemajuan pesat di dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan tekhnologi dewasa ini rupanya tidak disertai dengan hal yang sama dalam bidang kehidupan moral, etika, dan spiritualitas. Bahkan, bidang ini semakin rapuh dibawa arus materialisme, hedonisme, dan pragmatisme peradaban modern. Hal ini tercermin dengan semakin renggangnya rasa kebersamaan, keakraban, nasionalisme, upaya-upaya memajukan kepentingan dan ketertiban umum, pelanggaran nilai-nilai sosial, etika, dan agama terjadi hampir di semua belahan dunia. Bahkan, yang sangat memalukan adalah negara-negara yang diakui religius, ternyata tingkat korupsinya sangat menonjol, Indonesia misalnya.

Sistem ekonomi dunia semakin mengglobal, tetapi semangat agama dan budaya semakin melokal, sektarian, dan individual sehingga sangat rentan memicu konflik dan perselisihan. Semangat beragama ekslusif dewasa ini semakin menguat di masyarakat, tak urung telah merontokkan sendi-sendi kedamaian dan kesucian agama itu sendiri. Mungkinkah, Tuhan yang begitu pemurah, pemaaf, pengasih dan penyayang membenarkan umatnya melakukan tindakan saling hujat, saling caci, bahkan saling bunuh hanya demi membela nama-Nya. Kondisi ini menempatkan manusia pada posisi transisi, disharmoni, disintegrasi kepribadian antara manusia dengan alam dan dengan sesamanya. Sebab itu, tugas kita sekarang adalah melakukan revolusi moral dan spiritual untuk membangkitkan dunia. Bukankah agama dihadirkan di dunia untuk memberikan kedamaian (santih) dan kebahagiaan (hita) tanpa batas kepada seluruh makhluk di bumi ini.

Dalam pandangan Hindu agama bukanlah seperangkat doktrin, ajaran, prinsip-prinsip di dalam kitab suci, tetapi lebih jauh merupakan pengalaman dan pengamalan kebenaran universal. Beragama atau tidaknya seseorang tidak dinilai dari seberapa fasih yang bersangkutan di dalam membaca dan menghafal isi kitab suci, seberapa hebat dalam debat agama, seberapa pintar dalam memberikan dharmawacana atau khotbah, namun paling mendasar adalah kesesuaian antara apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat di dalam kehidupan sehari-hari, juga bagaimana caranya bergaul dalam masyarakat yang lebih luas sesuai dengan ajaran agamanya. Kebenaran agama perlu direalisasikan di dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, etika mempunyai nilai yang sangat strategis di dalam membina masyarakat agar ajaran-ajaran agama yang abstrak dijadikan acuan tindakan sehingga dapat dinikmati langsung kemuliannya oleh diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan demi kebahagiaan seluruh makhluk di muka bumi ini (sarva prani hitangkara).

Untuk itu melalui tulisan singkat ini penulis ingin merefleksikan kembali nilai-nilai Galungan yang akan dilaksanakan oleh umat Hindu, pada Rabo Kliwon Wuku Dungulan, 12 Mei 2010 nanti. Hari raya keagamaan mestinya dipahami bukan sekadar sebagai momentum untuk bersenang-senang (happy religion) sehingga perayaan yang berlebihan dengan menggunakan baju baru dan menyediakan makanan yang lezat, sama sekali bukanlah substansi. Justru, hari raya merupakan saat yang paling tepat untuk membangun kesadaran dan kesucian rohani melalui smaranam (selalu eling kepada Tuhan), kirtanam (memuja Tuhan secara tulus), dan sevanam (pelayanan kepada seluruh umat manusia).

Dari sinilah, Galungan mendapatkan makna sesungguhnya sebagai hari kemenangan dharma atas adharma, kebenaran yang mengatasi ketidakbenaran, dan kebijaksanaan yang mengatasi kebathilan. Agama Hindu mengajarkan pada hakikatnya kebenaran akan selalu menang, bukan ketidakbenaran (satyam eva jayate nanrtam). Oleh sebab itu setiap enam bulan (210 hari), secara simultan umat Hindu diajak untuk mendalami dharma, merenungkan maknanya, dan merefleksikannya kembali dalam tindakan nyata pada seluruh aspek kehidupannya.

 

 

II. Uttama Wacana

Dalam lontar Sundarigama, Galungan berarti galang apadang (terang benderang). Ini bermakna bahwa hakikat Galungan adalah pencerahan. Pikiran dicerahi dengan dharma (kebenaran/kebijaksanaan), perkataan dicerahi dengan satya (kejujuran), dan perbuatan dicerahi dengan tapa (pengendalian diri), yajna (pelayanan) dan kirti (ketulusikhlasan). Bila dalam diri manusia telah ada kesesuaian dan keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan, maka tidak diragukan lagi, dialah orang yang tercerahi. Pencerahan inilah yang berusaha dibangun oleh umat Hindu dalam setiap pelaksanaan Galungan.

4

Pencerahan pada tahap awal dilakukan melalui cara membangun prilaku harmonis dengan alam semesta (palemahan). Ini ditandai dengan proses perayaan hari suci Galungan yang diawali dengan upacara tumpek wariga atau tumpek uduh, yaitu pemujaan Ida Sang Hyang Widdhi Wasa dalam perbawaNya sebagai Sang Hyang Sangkara, penguasa semua jenis tetumbuhan. Dalam teologi Hindu, tetumbuhan (eka pramana) adalah makhluk yang awal diciptakan oleh Tuhan. Inilah bukti kemaha-bijaksanaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena tanpa adanya tetumbuhan mustahil akan ada kehidupan selanjutnya, baik binatang (dwi pramana) maupun manusia (tri pramana). Dari tetumbuhan hadir oksigen dan udara bersih, dari tetumbuhan binatang mendapat makanan bagi keberlangsungan hidupnya, dari tumbuhan hadir hujan yang memberikan kesejahteraan bagi seluruh makhluk di muka bumi ini. Demikianlah Hindu, mengedepankan nilai harmonis dengan alam melalui ritual sakral sehingga melalui ritual ini niscaya kelestarian alam, lingkungan, tetumbuhan dapat dijaga dan tetap memberikan kesejahteraan kepada seluruh umat manusia.

4

Pencerahan tahap kedua adalah membangun keharmonisan dengan sesama manusia (pawongan) yang ditandai dengan prosesi upacara sugihan jawa sampai dengan penampahan galungan. Sugihan jawa dimaknai sebagai penyucian bhuwana agung dan sugihan Bali sebagai penyucian bhuwana alit. Sampai pada tahap ini, semestinya manusia telah membekali dirinya dengan kesucian hati menyambut turunnya sang kala tiganing Galungan, yaitu Bhuta Dungulan (kebodohan), Bhuta Galungan (nafsu indriawi), dan Bhuta Amangkurat (Kekuasaan). Kesucian hati dalam perspektif etika adalah pengetahuan mendalam mengenai kebijaksanaan (wiweka jnana). Dalam hati yang suci terpancar kebijaksanaan (wisdom) yang mampu meneratas semua keadaan, baik di dalam maupun di luar diri. Secara sederhana, kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membedakan dan memposisikan mana yang baik dan mana yang tidak baik, yang benar dan yang tidak benar. Dalam bingkai kebijaksanaan antara dewa (kecermerlangan) dan bhuta (kegelapan) dipandang sebagai dua entitas yang berbeda, tetapi dalam dirinya sendiri adalah satu, dewa ya bhuta ya. Namun, orang bijaksana tidak akan larut dalam dualitas daiwi sampat dan asuri sampat ini karena ia yang bijaksana mampu memancarkan kecermelangan dalam semua keadaan, baik dalam terang maupun gelap. Mereka yang bijaksana adalah mereka yang mampu menjadi emas, baik dalam air maupun lumpur. Demikianlah Mahanirvana tantra mengajarkan kebijaksanaan. Inilah keadaan sesungguhnya yang ingin dicapai oleh umat Hindu melalui pelaksanaan sugihan jawa dan sugihan Bali.

Prosesi Galungan selanjutnya adalah penyajaan galungan. Kata penyajaan memiliki beberapa arti, di antaranya adalah kesungguhan, keteguhan hati. Dalam pelaksanaannya ditandai dengan mempersembahkan jaja (kue). Dalam bahasa Jawa Kuno, jaja berarti dada. Kedua pengertian tersebut memiliki makna yang sejalan, yaitu keteguhan hati. Artinya, setelah hati disucikan dengan kebijaksanaan maka kebijaksanaan tersebut dipelihara terus-menerus terutama menyambut turunnya sang kala tiganing galungan keesokan harinya. Orang bijaksana adalah orang yang mampu memancarkan kebijaksanaan dalam kondisi apapun, termasuk juga ketika sang kala tiganing galungan turun ke dunia membawa kegelapan mahadahsyat, maka umat Hindu telah berada dalam kesadaran rohaninya sehingga dalam kegelapan, kebijaksanaan tetap memancar dari sang diri.

Keesokan harinya (anggara wage dungulan) peperangan yang sesungguhnya antara dharma melawan adharma dimulai, yaitu saat turunya sang kala tiganing galungan yang bagi umat di Bali disebut panampahan galungan. Pada hari ini umat Hindu nampah (memotong, membunuh) Babi sebagai simbolik sifat dari sang kala tiganing galungan, yaitu bhuta dungulan, bhuta galungan, dan bhuta amangkurat. Ketiga bhuta ini sesungguhnya adalah perwujudan dari musuh yang ada dalam diri manusia, yaitu sad ripu (kama, lobha, krodha, moha, mada, matsarya).

6

Bhuta dungulan melambangkan sifat moha (kebodohan) dan krodha (kemarahan). Orang yang bodoh adalah orang yang tidak mengerti siapa dirinya, apa yang mesti dikerjakan, dan bagaimana mengerjakannya. Kebodohan juga tercermin dari cara seseorang menyikapi suatu permasalahan. Orang bodoh cenderung mengedepankan emosinya dalam menghadapi suatu keadaan sehingga kebenaran dipandangnya sebagai ketidakbenaran. Inilah ciri manusia tanpa wiweka jnana (kebijaksanaan). Sementara itu, bhuta galungan melambangkan sifat mada (kemabukan) dan matsarya (keirihatian). Sifat dari bhuta galungan adalah merasa diri “paling….”, dia mabuk kekayaan, dia mabuk ketampanan dan kecantikan, dia mabuk kekuasaan, dan segala kemabukan yang menyesatkan dirinya. Orang yang mabuk tidak pernah menyadari bahwa di luar dirinya masih banyak kelebihan-kelebihan yang tidak dia miliki. Oleh sebab itu, ketika dia menemukan orang lain yang memiliki kelebihan maka tumbuhlah sifat iri hati dan dengki dalam dirinya (matsarya). Selanjutnya, bhuta amangkurat melambangkan sifat kama (nafsu) dan lobha (ketamakan). Amangkurat berarti memangku atau menguasai dunia. Inilah sifat dasar manusia yang selalu ingin, ingin, dan ingin tanpa pernah mengerti arti kata puas (santosa). Ketiga sifat tersebut pada hakikatnya ada dalam diri manusia yang tanpa-pengetahuan (awidya), manusia yang tanpa kebijaksanaan (awiweka).

Melalui pelaksanaan hari suci Galungan, kesemua sifat tersebut dihancurkan oleh dharma. Dharma bersumber dari weda (pengetahuan) (wedho kilo dharma mulam… artinya, Weda adalah asal mula dari dharma). Dengan mempelajari weda orang mendapatkan dharma, dari dharma terpancar kebijaksanaan (wiweka jnana), dan kebijaksanaan yang memancar keseluruh alam semesta menciptakan bhuwana santih (kedamaian semesta). Inilah siklus pengetahuan suci Weda yang menjadi sumber pencerahan bagi kebahagiaan dan kedamaian dunia. Dalam keadaan tercerahi inilah umat Hindu membangun hubungan dengan Ida Sang Hyang Widdhi Wasa (parhyangan) melalui puja bhakti tepat pada Budha Kliwon Galungan. Dan selama 10 hari berturut-turut sampai Hari Suci Kuningan umat Hindu menerima berbagai anugerah Hyang Widdhi menuju Moksartham Jagadhitaya ca iti dharma.

 

 

III. Anta Wacana

Hari suci Galungan telah dilaksanakan sejak berabad-abad lamanya sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma. Akan tetapi kemerosotan moral masyarakat yang terjadi dewasa ini mengharuskan kita untuk mengaktualisasikan kembali makna hari suci Galungan untuk membangun kesadaran moral. Kesadaran moral dalam Hindu diwujudkan dengan mengembangkan kebijaksanaan (wiweka jnana) dengan mempelajari, memahami, mengapresiasi dan mengamalkan ajaran yang tertuang dalam kitab suci Weda.

6

Kebijaksanaan lahir dari lenyapnya kebodohan dan kegelapan (awidya) dalam diri manusia. Kebijaksanaanlah yang mampu meneratas kegelapan manusia, memancar dari dalam diri ke seluruh alam semesta, mewujudkan bhuwana santi (kedamaian semesta). Dalam pelaksanaan hari suci Galungan,  membangun kesadaran moral diwujudkan dengan membangun hubungan harmonis dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan, sebagaimana dikenal sebagai konsep tri hita karana.  Inilah kearifan Hindu, bahwa perbaikan moralitas harus dimulai dari dalam diri, memancar keluar untuk menciptakan kebahagiaan semua makhluk (sarwa prani hita) dan kedamaian dunia (bhuwana santih).

 

Om Santih Santih Santih Om

 


j Disampaikan dalam Dharma Wacana di Pura Dharma Kerti, Purnama Sada, 28 April 2010, dan menyambut

Galungan, 12 Mei 2010.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: