Oleh: dhanuwangsa | November 11, 2010

Keberagamaan Masyarakat Modern

Krisis moral dan tragedi kemanusiaan bersifat universal yang ditandai oleh pengenduran tradisi, norma-norma, hukum, dan tatanan yang telah mapan sudah terjadi pada taraf mencengangkan. Krisis global yang serius ini melanda setiap aspek kehidupan merupakan suatu krisis yang kompleks dan multidimensional, seperti intelektual, moralitas, dan spiritual (Capra, 2004:3). Tragedi kemanusiaan yang bersifat universal ini merupakan refleksi kegelisahan intelektual dan moralitas karena manusia telah dihegemoni dan didominasi oleh pengetahuannya sendiri. Manusia lebih banyak dibentuk dan ditentukan oleh pengetahuannya sehingga pengetahuan mengatasi kesadarannya (Leahy, 2001:95). Menurut Radhakrishnan (2003:5) krisis semacam ini merupakan era kegelapan intelektual dan barbarisme etik sehingga persoalan rekonstruksi sosial dari sudut pandang idola-idola agama menjadi begitu penting.

Pentingnya rekonstruksi sosial berdasarkan cita-cita agama, juga karena pada masa kini telah terjadi proses dehumanisasi dan degradasi moral (Jacob, 2006:420). Malahan menurut Radhakrishnan (2003:21) telah mencapai stadium akut yang disebabkan oleh ketidakseimbangan perkembangan antara moral dan material. Manusia mengalami perkembangan material menakjubkan bersamaan dengan penurunan kesadaran sosial, yakni perkembangan yang terbatas dalam pengertian etika dan estetika. Berkaitan dengan kondisi ini Mulkhan (2007:65—69) menegaskan bahwa dalam dunia global yang mengalami kemungkaran lingkungan dan dehumanisasi sebagai akibat dari kapitalisme yang hedonis dan materialistik yang menyebabkan pemaknaan berbagai kesalehan sosial yang disumbangkan berbagai kitab suci agama semakin menemukan panggilannya. Radhakrishnan (2003:32) mengingatkan bahwa manusia harus belajar mematuhi kemanusiaan sekalipun terhadap mereka yang tidak berperikemanusiaan; manusia harus rela membiarkan perkembangan pikiran dan moralnya menjangkau jauh ke masa depan dan manusia tidak membiarkan kebencian menutupinya. Dalam konteks ini agama memiliki fungsi penting bagi penataan sistem sosial dan budaya.

Agama dalam kaitannya dengan kebudayaan dan praktik-praktik sosial dapat dipandang sebagai kepercayaan dan pola tingkah laku yang diusahakan oleh masyarakat. Agama digunakan untuk menangani masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan teknologi ataupun teknik organisasi yang diketahuinya (Haviland dalam Kahmad, 2000:119). Kenyataan tersebut ditunjukkan dengan masuknya agama ke dalam wilayah yang pada prinsipnya di luar jangkauannya. Agama telah terlibat dalam pergumulan kehidupan sosial dan kebudayaan termasuk menentukan sistem dunia. Hal ini sebagaimana digambarkan Casanova (2003:xvii) bahwa agama-agama di seluruh dunia memasuki wilayah publik dan kancah politik tidak hanya untuk mempertahankan budaya tradisional mereka, sebagaimana yang telah dilakukan pada masa lalu. Akan tetapi, juga agama-agama berpartisipasi dalam pergumulan itu sendiri, antara lain mendefinisikan dan menentukan batas-batas modern; antara wilayah privat dan publik; antara sistem kehidupan dan kosmos; antara legalitas dan moralitas; antara individu dan masyarakat; antara keluarga, masyarakat sipil, dan negara; dan antara bangsa-bangsa, negara-negara, peradaban, dan sistem dunia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa agama dalam konteks sosial dan budaya telah mengambil bagian dalam menentukan batas-batas identitas individu atau masyarakat. Agama juga telah mengambil bagian pada saat yang paling penting pada pengalaman hidup manusia. Agama bukan hanya mengikat individu dengan Yang Ilahi, melainkan juga manusia yang satu dengan yang lainnya sehingga agama memang berimpit dengan kehidupan sosial (Bleeker, 2004:98; Keene, 2006:6). Agama merupakan satu bentuk legitimasi yang efektif dalam kehidupan sosial dan budaya (Wattimena, 2007:xi). Agama merupakan sesuatu yang bersifat sosial karena representasi religius adalah representasi kolektif yang mengungkapkan realitas kolektif. Keyakinan dan ritual-ritual agama adalah ekspresi simbolis dari kenyataan sosial (Durkheim, 2003:10).

Agama sebagai sistem keyakinan dapat menjadi inti dari sistem nilai dalam suatu kebudayaan sehingga agama dapat menjadi pendorong dan pengontrol tindakan anggota masyarakat agar tetap sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran agamanya. Ketika pengaruh agama menjadi kuat terhadap sistem nilai kebudayaan suatu masyarakat, maka sistem nilai kebudayaan itu terwujud sebagai simbol suci yang maknanya bersumber pada ajaran agama yang menjadi kerangka acuannya (Kahmad, 2000:64). Apabila agama menjadi inti dari kebudayaan suatu masyarakat, maka fungsi dasar agama adalah memberikan orientasi, motivasi, dan membantu masyarakat untuk mengenal dan menghayati sesuatu yang sakral. Melalui pengalaman beragama (religious experience), yaitu penghayatan kepada Tuhan menyebabkan masyarakat memiliki kesanggupan, kemampuan, dan kepekaan rasa untuk mengenal dan memahami eksistensi Sang Ilahi (Maman, dkk., 2006:1).

Dengan demikian, agama memiliki daya konstruktif, regulatif, dan formatif dalam membangun tatanan hidup masyarakat terutama dalam masyarakat tempat  nilai dan norma agama itu diterima dan diakui keberadaannya (Kahmad, 2000:66). Boleh jadi, ini alasan bagi Maman, dkk. (2006:2) mengatakan bahwa pembangunan agama, pembinaan, pengembangan, dan pelestariannya menjadi agenda penting dan niscaya karena agama diakui memiliki peran transformatif dan motivator bagi proses sosial, kultural, ekonomi, dan politik pada masa depan. Apabila bisa disepakati bahwa penegasan Maman tersebut dapat dipahami sebagai himbauan moral, maka untuk memenuhi himbauan moral itu dapat dimengerti sebagai relevansi dan pentingnya diskusi tentang keberagamaan.

Ketika agama dipandang memiliki peran penting dalam penataan sosial, malahan banyak pengamat menilai akan munculnya penolakan terhadap agama dalam kehidupan sehari-hari. Pada masa depan akan tumbuh sebuah tatanan baru dalam keberagamaan. Kenyataannya modernitas telah mendorong kebangkitan kembali agama, bukan pada agama yang bersifat konvensional atau agama formal. Malahan muncul kecenderungan masyarakat untuk menghindari agama utama yang dianggap mengalami kemapanan dan tidak mampu merespons pencarian spiritual mereka. Kemudian, mereka masuk ke dalam aliran-aliran spiritual, sekte-sekte keagamaan atau kultus-kultus yang menawarkan ritus kontemplatif ekslusif yang memberikan nilai lebih bagi kehausan spiritual mereka. Ini merupakan suatu bentuk kerohanian tanpa agama formal, yaitu keberagamaan yang hanya mengambil dimensi spiritualnya (Robertson, 1998:65; Kahmad, 2000:65).

Ini menunjukkan bahwa pada era modern kehidupan agama tidak mati. Akan tetapi kehidupan agama, baik sebagai sistem keyakinan maupun praktik mengalami reformulasi dengan berbagai cara yang bervariasi. Tidak jauh berbeda dengan keberagamaan orang Bali, Jamil (2008:8) dengan mengacu pada hasil penelitian Greely di Amerika Serikat menunjukkan bahwa bentuk reformulasi kehidupan agama di Amerika Serikat cukup beragam, antara lain juga ditandai dengan munculnya gerakan-gerakan agama baru (gerakan New Age). Ini berarti keberagamaan masyarakat modern lebih mengutamakan dimensi spiritualitas daripada religiusitas. Padahal menurut Hardjana (2005:76) agama bersumber pada religiusitas dan disemangati oleh spiritualitas. Pertanyaannya, kenapa masyarakat modern lebih suka bermesraan dengan Tuhan tanpa agama?

I Wayan Sukarma


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: