Oleh: dhanuwangsa | Oktober 10, 2010

KONSTRUKSI IDENTITAS HINDU BARU DI JAWA

KONSTRUKSI IDENTITAS HINDU BARU DI JAWA

Oleh : Nanang Sutrisno

I    PENDAHULUAN

Sebagaimana telah disepakati oleh kalangan Sejarawan bahwa Hindu adalah agama pertama di Indonesia yang datang dari India sejak tarikh awal Masehi. Kemudian pada abad ke-4 masehi telah muncul kerajaan Hindu pertama di Indonesia, yaitu Kutai. Dalam kurun waktu berikutnya agama Hindu menyebar dan mencapai puncak kejayaannya di Jawa. Di Jawa Barat mulanya hadir kerajaan Hindu, yaitu kerajaan Tarumanegara dan Padjajaran, kemudian di Jawa Tengah ada Mataram Kuno, dan di Jawa Timur perkembangan Hindu selalu dikaitkan dengan Kerajaan Kadiri, Singhasari, dan Majapahit. Puncak-puncak kemegahan dan kejayaan kerajaan Hindu di masa lalu masih tampak dengan adanya peninggalan-peninggalan arkeologi, khususnya candi-candi yang tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa.

Namun demikian, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa Agama Hindu pada akhirnya, juga mengalami kemunduran di persada nusantara ini. Keruntuhan Majapahit yang juga menandai kemunduran Agama Hindu-Buddha di Jawa lazim ditandai dengan candra sengkala “sirno ilang kertaning bumi” yang bermakna hilang musnahnya kebahagiaan dunia. Akan tetapi, rumusan candra sengkala ini digunakan untuk menunjukkan persandian angka tahun, yaitu tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Berbagai gejolak politik yang terjadi di Majapahit, seperti perang Paregreg, dan mulai berkembangnya Malakka sebagai kota dagang dan pelabuhan penting yang telah beragama Islam, serta telah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit menjadi faktor utama penyebab runtuhnya kekuasaan Majapahit (Soekmono, 1981: 75). Semetara itu, di Jawa diperparah lagi dengan gerakan aktif para wali dalam penyebaran agama Islam, serta gerakan politik Kerajaan Islam Demak yang akhirnya berhasil menggulingkan kekuasaan Majapahit.

Keruntuhan Majapahit, penyebaran agama Islam, dan berdirinya kerajaan Islam Demak menjadi tonggak sejarah peng-Islam-an tanah Jawa, bahkan di seluruh nusantara.  Kemudian bagi umat Hindu yang masih ingin mempertahankan ke-Hindu-annya, mengasingkan diri ke berbagai pedalaman seperti Tengger, dan sebagian lagi ke Bali karena kerajaan Bali masih tetap eksis sebagai kerajaan Hindu. Sebaliknya, yang tidak mau meninggalkan tanah Jawa mereka masuk agama Islam dengan tetap melaksanakan beberapa tradisi Hindu, misalnya ritual, mistis, atau juga disebut kejawen. Komunitas Islam semacam inilah yang kemudian disebut dengan Islam Abangan oleh Clifford Geertz dalam bukunya “The Religion of Java” (1960). Kaum abangan dimaknai sebagai golongan masyarakat yang beragama Islam yang hanya namanya saja karena pada umumnya tidak melaksanakan syariat Agama Islam dengan patuh (Badudu-Zein,1994:1). Di samping itu, kalangan priyayi di Surakarta dan Yogyakarta, tampaknya juga menjadi bagian penganut Islam yang mendukung berlangsungnya tradisi kejawen hingga saat ini. Hindu Tengger, Hindu Bali, dan kejawen, menjadi tiga museum hidup yang dapat digunakan untuk melacak kembali Hinduisme Jawa di masa lampau, di samping artefak-artefak kebudayaan lainnya.

Dalam tiga dasa warsa terakhir ini, agama Hindu mulai tampak menyebar di tanah Jawa. Awal penyebarannya tidak dapat dilacak dengan pasti, tetapi dari komunitas-komunitas Hindu yang muncul di beberapa daerah dapat dianalisis proses penyebarannya. Pertama, tumbuhnya kesadaran dari beberapa tokoh kejawen untuk kembali kepada agama atau kebudayaan leluhur, yang diidentikkan dengan Hindu-Buddha. Kebangkitan Hindu Jawa, juga sering dihubungkan dengan jangka (ramalan) tokoh mistis Sabdopalon dan Noyogenggong yang termuat dalam beberapa kesusasteraan Jawa; kedua, Hindu menyebar di tanah Jawa karena pengaruh orang Bali yang datang ke Jawa, baik dalam hubungannya dengan transmigrasi maupun karena tugas dinas atau tugas belajar; dan ketiga, berdirinya Parisada Dharma Hindu Bali sebagai embrio Parisada Hindu Dharma Indonesia, yang diikuti dengan diakuinya Hindu sebagai salah satu agama resmi di Kementerian Agama Republik Indonesia, mendorong umat yang ingin memeluk Agama Hindu segera beralih agama karena telah Hindu telah diakui secara resmi dan dilindungi oleh negara (Sutrisno, 2006). Berbeda dengan ini, Andrew Beatty (2001) dalam penelitiannya tentang umat Hindu di Banyuwangi menyatakan bahwa salah satu faktor berkembangnya Hindu di Banyuwangi adalah gejolak politik yang terjadi pada tahun 1965. Muslim nominal yang mayoritas pendukung Partai Nasional Indonesia (PNI) banyak beralih ke agama Hindu-Bali karena tekanan politik orde baru, juga karena banyaknya kesamaan tradisi Hindu-Bali dengan kepercayaan kejawen yang mereka laksanakan selama ini.

Pemeluk agama Hindu yang muncul belakangan inilah yang ingin dimaksudkan sebagai “Hindu-baru” di Jawa. Istilah ini bukan bermakna bahwa Agama Hindu adalah agama baru bagi orang Jawa, atau munculnya paham Hindu baru di Jawa, tetapi merujuk pada fenomena kebangkitan kembali Agama Hindu di Jawa dari tidur panjang selama 500 tahun lamanya. Setidak-tidaknya, apabila keruntuhan Majapahit dipandang sebagai awal lenyapnya agama Hindu di Jawa maka sejak itu pula orang Jawa tidak lagi mengenal ajaran-ajaran Agama Hindu, meskipun dalam praktiknya masih tetap dilaksanakan. Sebaliknya, telah ada ajaran-ajaran lain khususnya Islam yang mengisi kekosongan rohani orang Jawa. Neils Mulder (2007: 112), mencontohkan misalnya, kata-kata Arab seperti lahir, sarengat, sujud, tarikat, hakikat, mulai digunakan untuk melukiskan kegiatan-kegiatan mistik kejawen. Jadi,  Hindu tidak pernah baru atau lama karena Hindu adalah kebenaran abadi (sanatana dharma). Demikian halnya Hindu tidak pernah hilang di tanah Jawa.

Dengan bermunculannya beberapa komunitas Hindu hampir di seluruh daerah di Jawa, persoalan identitas religius menjadi hal yang penting untuk dibicarakan. Sebagai sebuah identitas baru, Hindu Jawa sedang menghadapi berbagai persoalan dinamika internal, yakni dari penganut Hindu sendiri maupun dari konversi agama resmi lainnya. Dari dalam penganut Hindu sendiri, setidaknya ada tiga wacana yang berkembang, yakni Indianisasi, kolonisasi budaya Hindu-Bali, dan kembali ke Jawanisme mainstream. Sebaliknya, pengaruh dari agama resmi lainnya terutama adalah Islamisasi dan Kristenisasi.

Ketiga dinamika internal ini bergulat dalam tubuh umat Hindu di Jawa dan tidak jarang menimbulkan riak-riak kecil, bahkan menjurus pada perpecahan yang lebih besar. Ditambah lagi dengan gerakan Islamisasi dan Kristenisasi, benar-benar menjadikan umat Hindu Jawa berada dalam keterkepungan dari persaingan institusi keagamaan, di samping persoalan-persoalan internal yang dihadapi. Hal ini penting mendapatkan perhatian yang lebih serius karena akan sangat berbahaya bagi keutuhan umat Hindu di Jawa. Jangan sampai Hindu yang sudah kecil (secara kuantitas), bercerai berai hanya karena pertentangan identitas fisik dan atribut-atribut religius, dan sebaliknya kehilangan kedalaman spiritual sebagai esensi Hinduisme. Untuk itu diperlukan kontruksi identitas Hindu-Baru di Jawa yang dapat mewadahi seluruh kepentingan umat Hindu sehingga terbangun jati diri ke-Hindu-an yang kuat.

II   HINDU JAWA : SEBUAH DIALEKTIKA KEBUDAYAAN

Sejak masuknya Hindu ke Indonesia dan dalam perkembangannya, Hindu memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia. Hal ini dapat dibuktikan dari evolusi agama Hindu yang terjadi pada masa kerajaan-kerajaan Hindu nusantara. Agama Hindu yang datang dari India tidak serta merta merubah watak, perilaku dan pandangan hidup orang Indonesia karena Hindu tidak pernah memaksakan ajarannya agar selalu dilaksanakan sama persis seperti di tanah kelahirannya, India. Oleh sebab itu penting melihat Hindu Jawa sebagai sebuah dialektika kebudayaan.

Pandangan dialektis berpendapat bahwa kebudayaan lokal telah memiliki kemampuan dan posisi yang sama kuat ketika berhadapan dengan kebudayaan yang datang dari luar sehingga proses lahirnya kebudayaan baru terjadi dalam proses dialogis yang panjang (Utama, 2003). Hal ini misalnya, terjadi pada proses pertemuan antara tradisi Veda (Arya) dengan budaya lembah sungai Sindhu (Dravida) yang akhirnya melahirkan Hindu di India (R.C. Majumdar, 1998). Pertemuan antara bentuk-bentuk kepercayaan asli Indonesia dengan Agama Hindu yang datang dari India telah menghasilkan agama Hindu Indonesia. Proses interaksi ini terjadi secara alkulturatif, dimana unsur-unsur asing diolah ke dalam kebudayaan lokal tanpa kehilangan kepribadian dasar kebudayaan lokal (Geria,2000). Kemampuan kebudayaan lokal inilah yang dikenal dengan local genious yang pertama kali diperkenalkan oleh Quarich Wales untuk mendeskripsikan kemampuan budaya setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan itu berhubungan (Magetsari, 1986). Hal ini sejalan dengan pernyataan Soekmono (1973) bahwa masuknya unsur India sebaiknya dianggap sebagai zat penyubur yang menumbuhkan Hindu Indonesia yang tetap memperlihatkan kekhasannya. Artinya, kebudayaan Indonesia ketika terjadinya proses alkulturasi dengan kebudayaan India (Hindu) telah berada dalam posisi yang kuat sehingga mampu beradaptasi dan tidak terjadi dominasi.

Kontak awal masuknya kebudayaan Hindu ke tanah Jawa menandai bertemunya dua kebudayaan, yaitu kebudayaan asli Jawa dengan kebudayaan Hindu yang datang dari India. Beberapa bukti artefaktual, misalnya bentuk bangunan suci Hindu di Jawa (Candi)  menunjukkan bahwa kebudayaan India tidak mendominasi kebudayaan asli Jawa, melainkan terjadi asimilasi yang indah antara keduanya. Local genious Jawa menjadi kekuatan penyaring masuknya budaya Hindu India sehingga Hindu di Jawa hidup sejalan dengan kebudayaan asli orang Jawa dan menjadikannya sebagai agama Hindu yang khas dan berpenampilan beda dari tanah kelahirannya, India. Proses dialektika ini rupanya berlangsung terus-menerus dalam perkembangan agama Hindu di seluruh nusantara sehingga Hindu nusantara menampakkan diri sesuai dengan karakter lokal masing-masing daerah. Hindu Jawa, Hindu Bali, Hindu Kaharingan, Hindu Dayak, dan lain sebagainya menjadi karakter-karakter khas Hindu nusantara yang jauh dari kesan uniformalitas.

Dalam hubungannya dengan agama asli Indonesia, Rahmat Subagya (1981:6) menyimpulkan bahwa agama Hindu murni tidak pernah menjadi milik bangsa Indonesia. Dia mengatakan bahwa Hinduisme tenggelam dalam lautan pemikiran asli, dimanfaatkan untuk lebih menegaskan pandangan hidup Indonesia dimana ia masih samar-samar. Artinya, agama Hindu yang datang ke Indonesia diterima oleh masyarakat dan berintegrasi dengan kepercayaan asli untuk menyempurnakan pandangan hidup dan rohani mereka. Sejalan dengan ini Sura (2005) mengatakan bahwa sagama Hindu “mempermulia” kepercayaan asli di mana ia tumbuh dan berkembang.

Sebelum masuknya Hindu ke tanah Jawa, orang Jawa telah memiliki bentuk-bentuk kepercayaan asli Jawa. Bentuk kepercayaan asli Jawa ini dapat dijadikan petunjuk awal bagaimana ajaran tantra dapat hidup dan berkembang di Jawa. Pertama, kepercayaan terhadap adanya alam kehidupan setelah mati. Kedua, kepercayaan animisme dan dinamisme, yaitu keyakinan terhadap adanya daya-daya gaib pada benda-benda yang ada di alam. Kepercayaan ini menjadi bibit lahirnya tindakan-tindakan magis dan mistis, yakni saat manusia ingin mendapatkan daya-daya gaib tersebut. Ketiga, konsep tentang pola ruang kosmis (keblat papat lima pancer) bahwa ruang dibagi atas empat dan satu sebagai pusat. Pola ruang primordial ini dapat berkembang menjadi pola delapan (Hindu: Astadala) dalam wilayah yang lebih luas. Keempat, kepercayaan terhadap ruang dan waktu relatif yang bersifat dualistik (binary oposition), seperti sakral-profan, gunung-laut, siang-malam, absolut-riil, dan sebagainya. Melalui perkawinan kosmis kedua polarisasi ini diharmoniskan, direkonsiliasi, disatukan maka semua akan kembali ke yang Tunggal, yang Absolut (Sumardjo, 2002: 10 – 26). Kepercayaan-kepercayaan inilah yang menjadi jenius lokal masyarakat Jawa dalam menerima kebudayaan India sehingga agama Hindu yang datang dari India ditransformasikan atau diintegrasikan sesuai dengan karakter Jawa.

Demikianlah kearifan Hindu dalam proses penyebarannya ke seluruh nusantara sehingga tidak pernah sekalipun ditemukan bukti bahwa Hindu menimbulkan kekacauan dalam kontak kebudayaan dengan masyarakat pribumi. Harmonisasi ini tidak saja terjadi dalam tataran kebudayaan, melainkan juga dalam keberagamaan Hindu nusantara di masa silam. Sejak zaman Mataran Kuno (sekitar abad ke-6 M), kesusasteraan Hindu berkembang pesat di tanah Jawa dan itu pun ditulis kembali ke dalam bahasa Jawa Kuno sehingga agama Hindu benar-benar dibumikan dalam kehidupan masyarakat. Abad ke-10 menandai kemegahan besar dalam kontak budaya Hindu-Nusantara, di mana Raja Dharmawangsa Teguh Anantawikrama Tunggadewa mengumandangkan perintah besar untuk “mengjawaken byasa mata” (membahasajawakan ajaran Maharsi Wyasa) sehingga sastra-sastra Hindu dapat dibaca dan diwarisi hingga sekarang.

Uraian di atas menunjukkan bahwa orang Jawa memiliki kemampuan selektif, adaptif, dan kreatif dalam menerima kebudayaan dari luar. Jenius lokal ini telah terbukti mampu menransformasikan Agama Hindu India ke dalam kebudayaan Jawa sehingga ajaran agama Hindu benar-benar membumi dan sesuai dengan pandangan hidup orang Jawa. Selanjutnya, sikap selektif, adaptif, dan kreatif ini perlu dikembangkan oleh umat Hindu di Jawa ketika berhadapan dengan kebudayaan yang datang dari luar sehingga proses dialogis terjadi secara terus-menerus. Dengan cara ini, umat Hindu di Jawa tidak mesti cepat-cepat menolak atau menerima berbagai ajaran yang datang, baik dari India, Bali, atau pun varian-varian Hindu lainnya. Semua yang datang mesti diseleksi dengan ketat sesuai dengan kepribadian orang Jawa, diadaptasikan dengan budaya Jawa, dan sedapat mungkin ditransormasikan sebagai bagian yang utuh dalam membangun identitas Hindu Jawa. Dengan demikian proses konstruksi identitas berlangsung terus-menerus dengan pembaharuan-pembaharuan dan tetap mengutamakan keseimbangan (uquilibrium) di tubuh umat Hindu.

III  KONSTRUKSI IDENTITAS HINDU BARU DI JAWA

Pada hakikatnya, agama merupakan seperangkat aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesamanya, dan dengan alam lingkungannya (Suparlan, dalam Robertson, 1998:v; dan Kahmad, 2000:12). Dalam tataran ideal, agama bersifat sangat individual karena memberikan kebebasan setiap individu untuk mengekspresikan aktivitas religiusnya sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Namun dalam kenyataannya, agama telah memasuki wilayah sosial budaya karena agama telah mengambil bagian dalam menentukan batas-batas identitas individu atau masyarakat dan agama telah mengambil bagian pada saat yang paling penting pada pengalaman hidup manusia. Dalam konteks ini agama dirumuskan dengan ditandai oleh tiga corak pengungkapan universal. Pengungkapan teoretis berwujud kepercayaan (believe system); pengungkapan praktis sebagai persembahan dan ibadah (system of workship); dan pengungkapan sosiologis sebagai sistem hubungan masyarakat (system of social relation) (Maman, 2006:1). Malahan, dalam praktiknya lebih jauh agama telah berkoalisi dengan kekuasaan sehingga praktik-praktik keagamaan harus mengikuti ketentuan yang diatur oleh penguasa.

Salah satu bentuk campur tangan kekuasaan dalam menentukan keberagamaan seseorang adalah formalisasi agama di Indonesia, bahwa setiap warga negara harus memeluk satu di antara enam agama yang secara sah diakui oleh pemerintah. Meskipun pemerintah berkilah bahwa peran serta pemerintah dalam mengatur lalu lintas keagamaan bertujuan untuk meminimalisir terjadinya konflik horizontal antaragama, tetapi ekses-ekses negatif, seperti diskriminasi minoritas dan terberangusnya agama-agama lokal tak terhindarkan lagi. Di samping itu, formalisasi agama telah mengkotak-kotakkan masyarakat dalam kelompok-kelompok berdasarkan atas agama yang dianutnya. Secara mekanis perbedaan agama ini akan mendorong masing-masing kelompok untuk mengukuhkan identitasnya masing-masing. Dengan kata lain, perbedaan agama menjadi bagian dari proses konstruksi identitas, di mana peranan penguasa begitu menentukan.

Identitas merupakan ekspresi eksistensi budaya suatu kelompok. Identitas sebuah etnik misalnya, dapat ditentukan oleh faktor-faktor material budaya, seperti makanan, pakaian, perumahan, peralatan, dan faktor-faktor nonmaterial seperti bahasa, adat istiadat, kepercayaan, cara berpikir, sikap dan lain-lain (Liliweri, 2005: 48). Akan tetapi, Identitas budaya tidak datang sendiri, tetapi dibentuk atau dibangun, buah interaksi dinamis antara konteks (dan sejarah) dan construct, maka sifatnya situasional dan bisa berubah, disusun dalam hubungannya dengan sejumlah other (yang lain). Mengikuti definisi ini, maka identitas agama merupakan ekspresi religius dari suatu kelompok yang dibentuk atau dibangun melalui sebuah proses yang terus-menerus menjadi. Selanjutnya, identitas ini menentukan keberbedaan suatu kelompok dengan kelompok lainnya dalam suatu masyarakat yang multikultur/ multiagama.

Demikian halnya dengan Hindu Jawa yang menjadi bagian kecil di antara bagian besar masyarakat Jawa yang mayoritas Islam beragama perlu terus-menerus mengkonstruksi identitasnya. Identitas ini di satu pihak harus mampu memelihara warisan-warisan tradisional dan di lain pihak, sekaligus mampu mendorong ke arah kemajuan dan modernisasi (Dharmaputra, 1984: 6). Tujuannya jelas adalah untuk mengukuhkan jati dirinya sehingga tidak mudah tergoyahkan dengan datangnya berbagai –isme/paham baru, termasuk di dalamnya konversi agama. Identitas ke-Hindu-an ini perlu dibangun sedemikian rupa sehingga setiap umat Hindu merasa betah dan nyaman menjadi Hindu sehingga tidak muncul fenomena ketakberumahan (homeless) dalam istilah Peter L. Berger.  Pindah agama – konversi internal, yaitu berpindah kepada bentuk spiritual lain yang masih dalam satu agama, maupun konversi eksternal, yaitu berpindah ke agama resmi lainnya – merupakan bentuk nyata dari ketidakbetahan atas rumah sosialnnya, dalam hal ini agama yang dianutnya.

Dalam rangka konstruksi identitas Hindu Jawa, tampaknya persoalan internal dalam tubuh Hindu cukup mendasar untuk diselesaikan lebih dahulu. Adanya tiga arus pemikiran utama yang berkembang dalam Hindu Jawa, yaitu Indianisasi, Kolonisasi Budaya Bali, dan Gerakan Jawanisme mainstream, menjadi tantangan yang mesti dicarikan jalan keluarnya.

Indianisasi, dapat dimaknai sebagai pemikiran Hindu India yang dibawa oleh orang-orang Jawa atau Bali yang telah menganut salah satu sekte Hindu dari India dengan penekanan pada pelaksanaan ajaran agama Veda (tanpa kepastian Veda yang mana), dengan menggunakan tradisi-tradisi India, misalnya menyanyikan lagu-lagu rohani (bhajan), agni hotra, dan upacara lain yang kental nuansa India di dalamnya.

Kolonisasi budaya Hindu-Bali, dimaknai sebagai upaya menggunakan budaya Hindu-Bali dalam pelaksanaan ritual Hindu di Jawa. Hal ini diduga karena adanya beberapa faktor misalnya, banyaknya orang Bali yang menduduki jabatan penting di Parisada Hindu Dharma Provinsi atau Kabupaten di Jawa, sehingga banyak menentukan berbagai macam kebijakan di bidang keagamaan khususnya berkaitan dengan pelaksanaan ritual. Di samping itu, para pendharmawacana banyak didatangkan dari Bali sehingga seringkali mereka mengajarkan agama Hindu sebagaimana yang mereka laksanakan di Bali. Kemudian faktor lain adalah bahwa perguruan tinggi Hindu pada awalnya hanya ada di Bali, yaitu Institut Hindu Dharma yang banyak melahirkan sarjana-sarjana agama Hindu di Jawa yang dididik secara Bali. Para sarjana ini ada yang berusaha menggali kebudayaan Jawa dan menemukan Hinduisme di dalamnya sehingga mampu mengajarkan Hindu dengan budaya Jawa, tetapi ada juga yang hanya menerima begitu saja pelajaran yang didapatkan dari Bali termasuk tradisi ritual di Bali sehingga ketika di Jawa mereka turut mengembangkan agama Hindu dengan tradisi upacara seperti di Bali.

Dan, gerakan Jawanisme mainstream, dapat dimaknai sebagai pemikiran Hindu yang benar-benar lahir dari para pemikir Hindu di Jawa sendiri. Kebanyakan dari mereka ingin menjalankan agama Hindu dengan budaya Jawa, dan secara ekstrim menolak budaya-budaya yang lain, terutama budaya Bali dan budaya India.

Menyikapi ketiga persoalan di atas, semestinya umat Hindu di Jawa mampu menggunakan kemampuan selektifnya untuk menyaring inti-inti pemikiran dari ketiganya, sebab ketiganya memiliki kebenarannya masing-masing dan sama-sama menggunakan Veda sebagai referensi otentiknya. Selanjutnya, proses adaptif perlu dilakukan sehingga setiap pemikiran yang diambil dapat diterima dan dilaksanakan oleh seluruh umat Hindu sesuai dengan prinsip-prinsip keseimbangan dan nir-konflik. Akan menjadi kebanggaan dan pertanda kemajuan apabila pemikiran Hindu yang datang dari luar itu mampu ditransformasikan ke bentuk kebudayaan di masing-masing komunitas sehingga menjadikan warna baru bagi umat Hindu di Jawa. Perlu dimengerti bahwa Hindu tidak menginginkan adanya keseragamaan, melainkan keberagaman sejauh tidak bertentangan dengan isi ajaran Veda. Misalnya, seni bleganjur di Bali, berhasil ditransformasikan menjadi kesenian khas Banyuwangi dan itu digunakan untuk mengiringi kegiatan-kegiatan ritual keagamaan.

Sebaliknya, untuk mengatasi terjadinya konversi agama ke agama lain maka perlu digali persoalan mendasar atau faktor utamanya. Mengikuti pendapat Triguna (1990:30-33) bahwa ada tiga aspek penting dalam proses transformasi sosial, yakni pendidikan, ekonomi, dan komunikasi. Setuju atau tidak, ketiga hal ini merupakan persoalan besar dalam pengembangan sumber daya umat Hindu di Indonesia. Sementara agama lain, khususnya Islam dan Kristen harus kita akui telah begitu mapan dalam tiga bidang ini. Apabila ketiga hal ini dipandang sebagai penyebab mendasar terjadinya pindah agama maka ketiganya perlu diberdayakan oleh umat Hindu. Setidak-tidaknya, melalui jalan pemberdayaan pendidikan, ekonomi, dan komunikasi maka umat Hindu akan memiliki modal intelektual, modal ekonomi, dan modal budaya yang kuat dalam dirinya sehingga mampu menghadapi tantangan ke depan.

Meminjam istilah Koentjaraningrat (1987) tentang sistem religi, maka secara sederhana dapat dikatakan bahwa identitas umat Hindu adalah orang yang meyakini ajaran agama Hindu, melaksanakan sistem peribadatan secara Hindu, menggunakan peralatan ritual Hindu, dan memiliki lembaga-lembaga keumatan yang berbasis Hindu. Komponen-komponen religi tersebut seluruhnya telah terangkum dalam tiga kerangka agama Hindu, yaitu tattwa (sistem keyakinan/ panca sradha), susila (sistem tindakan/ etika/ budi pekerti), dan acara (sistem ritual/ upacara dan upakara). Dengan demikian identitas umat Hindu dapat dibangun di atas tiga kerangka agama ini.

Tatwa misalnya, pada hakikatnya adalah berbicara mengenai sangkan paraning dumadi (asal mula dan tujuan kembalinya semua ciptaan). Filsafat sangkan paran inilah yang kemudian diulas secara lebih terperinci dalam Panca Sradha (lima dasar keyakinan Hindu), yakni mulai dari Widdhi Sraddha (asal mula segala yang ada/ sangkaning dumadi), hingga Moksa Sraddha (tujuan akhir, kembalinya segala yang ada/ paraning dumadi). Prinsip Tattwa ini sesungguhnya tidak ada bedanya dengan kepercayaan kejawen, bahkan perlu kembali diingat bahwa Tattwa Saiwa Siddhanta adalah berasal dari Jawa.

Tema-tema utama Panca Sradha seluruhnya menjadi bagian penting dalam pembahasan Mistisisme Jawa (Kejawen), antara lain :

(1)     Dari mana asal mula dan kembalinya segala yang ada (sangkan paraning dumadi);

(2)     Siapa sesungguhnya manusia, yaitu tentang hakikat sang diri (sapa sejatining ingsun);

(3)     Bagaimana manusia menjalani kehidupannya di dunia ini, baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan manusia lain (budi pakarti);

(4)     Apa yang terjadi setelah kematian, ke mana roh akan pergi, reinkarnasi; (tumimbal lahir atau panitisan); dan

(5)     Kemenyatuan manusia dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti).

Demikian halnya dengan kerangka yang lain, susila dan acara, perlu digali kearifan-kearifan budaya Jawa yang sejalan dengan ajaran-ajaran agama Hindu. Persoalan yang kerap muncul di dalam umat Hindu di Jawa terutama adalah berkenaan dengan Acara agama. Acara Agama sesungguhnya mencakup aspek yang sangat luas, di antaranya Panca Yadnya, Tempat Suci, Orang Suci, dan Hari-hari  Suci keagamaan. Acara agama sering menjadi topik pembicaraan yang dibenturkan antara Jawa dengan Bali. Semestinya hal ini tidak perlu terjadi mengingat apa yang dilaksanakan di Bali pada dasarnya telah sesuai dengan sastra-sastra suci, seperti Tutur Gong Besi, Dewa Tattwa, Widdhi Tattwa, Plutuk Bebantenan, dan sebagainya. Sebaliknya, Jawa juga memiliki beraneka macam tradisi ritual dari mulai tingkat yang terkecil hingga yang terbesar sebagaimana dilaksanakan oleh Kraton Surakarta dan Yogyakarta, termasuk juga Pakelem Kerbau yang dilaksanakan oleh masyarakat Tengger.  Di lain pihak, Acara Agama Hindu memiliki tingkatannya masing-masing dari nista, madya dan utama, yang pada dasarnya memberikan kebebasan kepada umatnya untuk melaksanakan ritual keagamaan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dengan demikian peranan kecerdasan lokal dalam mengejawantahkan ajaran-ajaran Agama Hindu perlu dikembangkan sehingga upacara yang dilaksanakan sesuai dengan pengetahuan yang umat miliki. Hal ini mengingat bahwa yang utama dari sebuah upacara atau persembahan adalah untuk menggetarkan emosi keagamaan dalam diri penganutnya sehingga rasa keiklasan, ketulusan, dan kesucian sebagai inti yadnya dapat menyentuh naluri terdalam manusia. Melalui jalan inilah rasa kemenyatuan dengan Tuhan akan dapat dirasakan. Pendek kata, kearifan lokal menjadi kata kunci dalam konstruksi identitas Hindu di Jawa sehingga umat Hindu di Jawa tidak tercabut dari akar tradisinya.

Dengan terbentuknya identitas Hindu Jawa tidak bermakna bahwa Hindu Jawa akan menjadi kelompok ekslusif di antara kelompok-kelompok yang lain. Justru, keberadaan umat Hindu yang membaur dengan umat beragama yang lain menuntut agar umat Hindu senantiasa menghargai keberlainan itu (the otherness) dengan menjunjung tinggi kebebasan hak masing-masing individu dan kelompok lain dalam menjalani kehidupannya. Melalui tindakan saling menghargai inilah dapat tercipta hubungan yang harmonis, berkeseimbangan dan berkeadilan di antara kelompok mayoritas dan minoritas. Apabila distingsi mayoritas dan minoritas ini telah mampu dihilangkan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara maka kenyamanan dalam melaksanakan ibadah dan kedamaian masyarakat niscaya akan terwujud. Inilah poin penting dari identitas, yaitu untuk mengekspresikan keyakinan religius di tengah-tengah kehidupan multibudaya dalam koridor multikulturalisme.

IV SIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, identitas Hindu Jawa bukanlah sesuatu yang final, melainkan selalu dalam proses “menjadi”. Oleh sebab itu pengembangan diri dan pembelajaran terus-menerus merupakan kewajiban bagi seluruh umat Hindu di Jawa agar agama Hindu selalu kontekstual sesuai dengan perkembangan zaman. Kedua, Kearifan-kerifan lokal (local genious) Jawa perlu dikembangkan untuk merekontekstualisasi ajaran-ajaran agama Hindu sejalan dengan kebudayaan Jawa, sehingga agama mampu menyentuh sisi terdalam dari manusia, yaitu kemanusiaannya.  Mengingat ajaran agama adalah ngelmu (dharma) yang harus diwujudkan dalam bentuk laku, atau disiplin tindakan.  Ketiga, berbagai perbedaan pandangan yang berkembang di dalam tubuh umat Hindu hendaknya disikapi dengan arif dan bijaksana sehingga tidak menimbulkan ketegangan dan tetap dalam prinsip keseimbangan.

DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Jakarta. Pustaka Jaya.

Beatty, Andrew. (2001). Variasi Agama di Jawa. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.

Berger, Peter L. 1994. The Secret Canopy. Terjemahan Hartono, Jakarta: LP3ES

Dharmaputra, Eka. 1987. Pancasila: Identitas dan Modernitas Tinjauan Etis Budaya. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Geertz, Clifford. (1960). The Religion of Java. Glencoe,III. The free Press.

Geria, I Wayan. (2000). Transformasi Kebudayaan Bali memasuki Abad XXI. Percetakan Bali. Denpasar.

Giddens, Anthony. 1991. Modernity and Self-Identity. Cambridge: Polity Press.

Kahmad, Dadang, H, 2000, Sosiologi Agama, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya.

Koentjaraningrat, 1987. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: UI Press.

Liliweri, Prof. Dr. Alo, M.S. 2005. Prasangka dan Konflik, Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta: LkiS.

Majumdar, RC. 1998. Ancient India. New Delhi: Delhi University Press

Phalgunadi, I Gusti Putu. 2005. Sekilas Sejarah Evolusi Agama Hindu. Denpasar. Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan.

Prijohutomo. 1959. Kebudayaan Hindu di Indonesia. Jakarta: J.B. Wolters-Groningen.

Robertson, Roland, 1988, Agama: Dalam Analisas dan Interpretasi Sosiologi, Jakarta: Rajawali.

Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta. Kanisius.

Subaya, Rahmat. 1981. Agama Asli Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.

Sumardjo, Jakob. 2002. Arkeologi Budaya Indonesia: Pelacakan Hermeneutis-Historis terhadap Artefak-Artefak Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Qalam.

Sutrisno, Nanang. 2006. Bangga Menjadi Hindu di Jawa. Artikel. Disampaikan dalam Dharma Thula serangkaian upacara Melasti di Pura Segara Tawang Alun, Pesanggaran, Banyuwangi.

Triguna, Ida Bagus Gde Yudha. 1990. Munculnya Kelas Baru dan Dewangsanisasi: Transformasi Ekonomi dan Perubahan Sosial di Bali. Tesis. Yogyakarta: UGM.

Utama, I Wayan Budi. 2003. Hindu Bali, Hindu Nusantara dan Hindu India. Makalah disampaikan dalam penyegaran dan pelatihan Dharmaduta 22-24 Juni 2003. Denpasar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: