Oleh: dhanuwangsa | November 23, 2010

HARI RAYA SIWARATRI

HARI RAYA SIWARATRI

Oleh : Nanang Sutrisno, S.Ag, M.Si

 

I. PENDAHULUAN

Pada prinsipnya manusia diciptakan oleh Ida Sanghyang Widhi Wasa terdiri dari dua unsur yang utama yaitu purusa dan pradana atau unsur kejiwaan dan unsur kebendaan. Purusa adalah jiwa yang penuh kesadaran karena bersumber dari atman. Atman berasal dari Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan Pradana adalah unsur material yang menjadi dasar jasmani terdiri dari lima unsur yang disebut Panca Maha Bhuta (tanah, air, api, udara dan angkasa). Oleh karena itu dalam kitab Bhagavadgita ada disebutkan bahwa manusia memiliki dua kecendrungan yaitu kecendrungan kedewaan atau dewa sampad dan kecendrungan keraksasaan atau asura sampad. Kedua kecendrungan itu bisa silih berganti muncul setiap saat menguasai manusia. Jika kecendrungan kedewaan yang menguasai manusia, maka segala perbuatannya selalu berdasarkan pada sreya karma. Sreya karma ini mengarahkan perbuatan yang selalu berdasarkan dharma, karena didorong oleh kesadaran. Kesadaran itu adalah penguasaan indria oleh pikiran dan pikiran oleh budhi yang disinari pancaran suci atman. Sebaliknya, kalau kecendrungan keraksasaan yang menguasai diri manusia, maka segala perbuatan manusia selalu didasarkan oleh wisaya karma. Wisaya karma ini mengarahkan manusia berbuat diluar dharma bahkan bertentangan dengan dharma. Perbuatan itu semata-mata didorong wisaya atau hawa nafsu semata.

Sreya karma mengarahkan perbuatan yang disebut subha karma (perbuatan baik) dan wisaya karma mengarahkan perbuatan yang disebut asuba karma (perbuatan yang penuh dosa). Dalam Epos Mahabharata, Pandawa dibawah tuntunan Sri Krishna selalu melaksanakan perbuatan dengan penuh pertimbangan dharma. Sebaliknya Korawa, saudara sepupu Pandawa, berbuat atas dasar dorongan hawa nafsu keduniawian saja. Contoh perbuatan yang baik dan buruk, juga bisa kita temukan dalam Epos Ramayana.

Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk pelaksanaan ritual bagi umat Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa.  Diakui  atau  tidak,  manusia  adalah gudangnya  kealpaan (lupa), hal ini disebabkan karena manusia memiliki keterbatasan. Karena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkanlah upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagra-lah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Dalam Bhagavadgita III,42, dinyatakan orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indriya. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit mendapatkannya. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa.

Siwa Ratri  ( Ratri juga sering ditulis Latri ) adalah malam untuk memusatkan pikiran kepada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Oleh karena  itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut “malam kesadaran” atau “malam pejagran”, Bukan “malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang awam. Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena perbuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya adalah untuk menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian. Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indriya atau Tri Guna.

Siwa Ratri pada hakekatnya adalah merupakan kegiatan namasmaranam pada Siwa. Namasmaranam artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungkan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan bathin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidaklah harus dilakukan setiap tahun,  melainkan bisa  dilaksanakan  setiap  bulan sekali, yaitu setiap  menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita biasa menyucikan diri dengan melakukan SANCA. Sanca dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan sebagai berikut “Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira“. Artinya : Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedangkan dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, “Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana “, Artinya : dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

 

II. SUMBER AJARAN SIWA RATRI

Brata Siwa Ratri pada mulanya dirayakan amat terbatas, yaitu hanya oleh sejumlah Pandita di Bali dan Lombok. Pada tahun 1966, setelah hancurnya Komunisme di Indonesia, kesadaran akan kegiata rohani kian bangkit. Semenjak tahun 1966 itulah, perayaan Siwa Ratri mulai dimasyarakatkan oleh Parisada dan pemerintah lewat Departemen Agama.

A. Sumbernya ajaran Siwa Ratri ada pada :

1.      Kitab Padma Purana,

2.      Siwa Purana,

3.      Garuda Purana,

4.      Skanda Purana,

5.      Kekawin Siwaratri Kalpa.

 

B.Sejarah pelaksanaannya :

1.      Di Eropa disebut dengan perayaan “ BERI”.

2.      Di Arab disebut “OKAZ”, tapi lama kelamaan disebut “SHABE BARAT”.

3.      Di Indonesia khususnya Bali dan Lombok disebut “ MALAM SIWA RATRI “. Dan perayaannya bersumberkan pada Karya Mpu Tanakung yaitu berupa kekawin Siwa Ratri Kalpa.

Mengapa Siwa Ratri dimasyarakatkan, tentu karena memang dianjurkan oleh kitab suci Hindu. Di India, setiap menjelang bulan mati setiap bulannya umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka  berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini adalah suatu pertanda, bahwa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Kemudian baru sejak tahun 1966 Siwa Ratri dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.

 

C. Tingkatan Pelaksanaan Brata Siwa Ratri :

Brata Siwa Ratri dilaksanakan dengan tiga tingkatan yaitu :

1.      Nista, yaitu pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan Jagra, artinya kesadaran itu dalam pelaksanaan Brata Siwa Ratri disimpulkan dengan melek semalam suntuk, sambil memusatkan segala aktifitas diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Siwa. Ada yang melaksanakan jagra semalam suntuk dengan membahas sastra-sastra agama,seperti kakawin dalam berbagai judul. Ada pula yang melaksanakan sauca dan dhyana. Dalam kitab Wrhaspati Tattwa disebutkan, “Nitya majapa maradina sarira”. artinya sauca adalah melakukan japa dan selalu membersihkan badan. Sedangkan Dhyana dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, Nitya Siwa Smaranam, artinya selalu mengingat dan memuja Sanghyang Siwa. Brata Siwa Ratri dengan jagra tidaklah tepat kalau hanya begadang semalam suntuk tanpa arah menuju kesucian Tuhan.Jagra dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang yang memiliki kesadaran budhi. Melek semalam suntuk hanyalah prilaku yang bermakana simbolis untuk memacu tumbuhnya budhi yang sebenarnya.

2.      Madya adalah pelaksanaan Brata Siwaratri dengan jagra dan upawasa. Upawasa dalam kitab Agni Purana berarti “kembali suci”. Yang dimaksud kembali suci ini adalah dilatihnya indriya melepaskan kenikmatan makanan. Lezatnya makanan adalah sebatas lidah. Kalau sudah lidah dilewati makanan itu tidak akan terasa lezat. Lidah harus dilatih untuk tidak terikat pada kelezatan makanan.

3.      Uttama, yaitu pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan cara Jagra, Upawasa, dan Mona Brata, artinya pelaksanaan dengan cara melek atau menyadarkan diri, menahankan kenikmatan makanan dan berusaha mengurangi berbicara (Mona). Mona artinya tanpa mengeluarkan ucapan-ucapan yang bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa berbicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian.

 

III. PELAKSANAAN BRATA SIWA RATRI

Tata tertib pelaksanaan brata Siwa Ratri telah diseminarkan oleh PHDI Pusat bersama dengan IHD Denpasar tahun 1984.  Hasil seminar tersebut telah ditetapkan oleh PHDI Pusat menjadi Pedoman pelaksanaan Brata Siwa Ratri. Brata Siwa Ratri dilaksanakan pada hari “Catur Dasi Krsna Paksa” bulan Magha yaitu panglong ping patbelas sasih kapitu. Tujuan brata Siwa Ratri untuk menemukan “Kesadaran diri” (atutur ikang atma rijatinia ).  Brata tersebut dilaksanakan dengan upawasa , monobrata dan jagra.

Sehabis sembahyang atau meditasi dan japa biasakan melakukan mona atau agak membatasi berbicara. Hal ini akan bermanfaat untuk memberikan kesempatan pada berkembangnya “positif energi” untuk menggeser “parasit energi”. Positif energi dalam diri akan dapat memberikan kita kesehatan,  ketenangan dan kesucian. Kalau tiga hal ini dapat kita miliki dalam hidup maka hidup yang bahagia lahir batin akan semakin kita rasakan.

Demikianlah tiga tingkatan pelaksanaan brata Siwa Ratri berdasarkan nista, madya, utama. Dari segi makna amat tergantung kesungguhan sikap kita melaksanakan brata tersebut. Meskipun kita mengambil yang nista namun sikap yang melandasi bersungguh-sungguh, maka yang nista itu pun akan menghasilkan yang utama.

 

IV. MAKNA SIMBOL-SIMBOL

Kalau kita telaah ceritera LUBDAKA yang tertuang dalam kekawin Siwa Ratri Kalpa, buah karya Mpu Tanakung, terdapat beberapa simbol-simbol yang mempunyai makna sangat mendalam yaitu :

1.      Beburu;

2.      Binatang;

3.      Hutan;

4.      Lubdaka kemalaman;

5.      Lubdaka Takut;

6.      Lubdaka Naik Pohon;

7.      Takut Jatuh;

8.      Memetik Daun Billa;

 

MAKNANYA :

  1. Berburu; maksudnya adalah berburu ilmu pengetahuan untuk dapat meningkatkan taraf hidup akibat tuntutan hidup berupa dharma artha, kama dan moksa.
  2. Binatang, lain kata binatang adalah SATTWA, terdiri dari sat dan twa.
  • Sat sama dengan Inti, yaitu hakekat yang mulia, dan Twa adalah sifat. Jadi SATWA adalah hakekat yang mulia atau benar.
  • Rajanya Binatang adalah Harimau dan juga disebut PASUPATI, ini tiada lain adalah Sang Hyang Siwa.  Jadi hakekat yang mulia itu dikejar dan ada pada Sang Hyang Siwa.
  1. Hutan, adalah symbol keinginan yang bersifat duniawi yang sulit dihitung seperti banyaknya pohon-pohon di hutan.
  2. Lubdaka kemalaman, ini bermakna manusia itu diliputi penuh dengan kegelapan dan papa, penuh dengan ketidak sadaran dan ketidak tahuan (awidhya) akibat kurang mendalami ilmu pengetahuan.
  3. Lubdaka Takut, bermakna karena tidak memiliki pengetahuan dan penuh dengan kegelapan alam piker, maka takutlah mengarungi kehidupan ini.
  4. Lubdaka naik pohon, maksudnya “NAIK”, ada meningkatkan diri dalam mencari Ilmu Pengathuan supaya tidak mengalami kegelapan lagi.
  5. Takut Jatuh, maknanya adalah takut akan kekurangan dengan Ilmu Pengatahuan.
  6. Memetik Daun Billa, maknanya adalah membuang secara bertahap dosa-dosa yang ada pada diri manusia.

Diatas telah diuraikan pelaksanaan Brata Siwa Ratri ada 3, yaitu Jagra, Upawasa dan Mona Brata. Ketiga cara ini mempunyai arti sebagai berikut :

1.      Jagra, artinya adalah mawas diri, introspeksi diri.

2.      Upawasa, artinya usaha pengendalian diri untuk membebaskan diri dari pengaruh duniawi.

3.      Mona Brata, artinya usaha mengendalikan diri agar dapat menciptakan suasana yang hening, tenang, tentram, untuk menuju tercapainya jiwa yang terang (Widhya).

 

I. Berikut ini dilampirkan pelaksanaan Brata Siwa Ratri, secara sederhana :

 

1.       Di setiap Desa Pakraman, dilaksanakan acara persembahyangan bersama dipimpin oleh Prajuru Desa Pakraman masing-masing.

2.       Atau mengikuti pelaksanaan Brata Siwa Ratri (Pejagraan) di masing-masing Desa Pakraman dengan alokasi tempat yang telah disetujui atau ditentukan, sambil melaksanakan Pesanthian, memperdalam sasatra-sastra suci keagamaan.

3.       Pagi hari sebelum pelaksanaan Malam Jagra, agar melaksanakan kegiatan ASUCI LAKSANA, yaitu berupa pembersihan badan lahir bathin.

4.       Menjelang malam harinya :

a.       Maprayascita, ngaturang upakara semampunya kehadapan Sanghyang Siwa dan Ista Dewata, bertempat di Pemerajan atau Pura, dengan upakara sesuaikan dengan Drsta setempat, minimal  sebagai berikut :

1)      Daksina jangkep,

2)      Soda rayunan putih kuning,

3)      Segehan,

4)      Sekar arum,

5)      Bubuh empehan,

6)      Bubuh Gula,

7)      Nasi tepeng madaging kacang ijo,

8)      Kwangen medaging daun bila 108 bidang (18 kwangen, masing-masing kwangen berisi 6. lembar daun Bila).

b.      Melaksanakan persembahyangan 3 (tiga) kali, yaitu :

1)      Sembahyang pertama dilaksanakan jam : 19.00 Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

a)      Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;

b)      Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, berpirantikan bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Radetya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.

c)      Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.

d)      Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.

e)      Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.

f)        Sembah kehadapan Sanghyang Ghana, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Kebijaksanaan.

g)      Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).

2)      Sembahyang kedua dilaksanakan jam : 24.00. Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

a)      Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;

b)      Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, berpirantikan bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Radetya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.

c)      Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.

d)      Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.

e)      Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.

f)        Sembah kehadapan Sanghyang Giri Putri, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Sumber Kemakmura.

g)      Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).

3)      Sembahyang ketiga dilaksanakan jam : 05.00 Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

a)      Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;

b)      Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, berpirantikan bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Radetya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.

c)      Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.

d)      Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.

e)      Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.

f)        Sembah kehadapan Sanghyang Kumara, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Penyagom Serba Kehidupan.

g)      Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).

5.       Ngelebar Brata Siwa Ratri.

 

 

 

 

 

II. Mantram-mantram yang dipakai waktu pelaksanaan persembahyangan Siwa ratri :

1.      Sembah Puyung :

Om Atma Tattwatma Suddhamam Swaha.

(Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba).

2.      Sembah Kehadapan Sanghyang Siwa Aditya :

Om Aditya sya param jyotir,

Rakta teja namo stute,

Sweta pankaja madyastha,

Bhaskara ya namo namah swaha.

(Om, sinar surya yang maha hebat, engkau bersinar merah, hormat padamu, Engkau yang berada di tengah teratai putih, hormat pada-MU pembuat sinar).

3.      Sembah Kehadapan Sanghyang Brahma :

Om , Isano sarwa widnyana,

Iswara sarwa bhutanam,

Brahmano dhipati Brahman,

Siwastu sada siwaya,

Om, ciwa dipata ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, Hyang Tunggal yang maha sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk, selaku Brahma raja daripada semua Brahmana, selaku Siwa dan Sada Siwa. Om Hyang Siwa, hamba menyembah pada-MU)

4.      Sembah Kehadapan Sanghyang Wisnu :

Om, Giripati maha wiryyam,

Mahadewa pratista linggam,

Sarwa dewa pranamyanam,

Sarwa jagat pratistanam,

Om, Giripati dipata ya namah.

(Ya Tuhan, bergelar Giripati yang Maha Agung, Mahadewa dengan lingga yang mantap, semua dewa sembah pada-MU.

Om Giripati, hamba memuja-MU).

 

5.      Sembah Kehadapan Sanghyang Iswara :

Om, Catur Dewi Mahadewi,

Catur Asrame Bhatari,

Siwa Jagatpati Dewi,

Durga Masarira Dewi,

Om, Anugraha amreta sarwa lara winasanam ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, saktiMU berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Siwa, raja semesta alam, dalam wujud Iswara, Ya, Catur Dewi, hamba menyembah kebawah kaki-MU).

 

6.      Sembah Kehadapan Sanghyang Ghana :

Om, Ghana parama Tanggohyam,

Ghana Tattwa Para ya namah,

Ghana diparamanopti,

Sukha Ghana namostute,

Om, am Ghana dipata ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, bergelar Ghana yang maha bijaksana, dewanya kebijaksanaan, kami semua sembah kehadapan-MU).

 

7.      Sembah Kehadapan Sanghyang Giri Patti:

Om, Am Am Giri Patti Wandi,

Lokanatam Jagatpati,

Danesan Arana Karanam,

Sarwa Guna Mahadyatam,

Om, Maharudram, Mahasudham, Sarwa Rogha Winasanam ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, bergelar Giripatti, dewanya kemakmuran, pemberi anugrah seisi jagatraya, kami semua sembah kehadapan-MU).

 

8.      Sembah Kehadapan Sanghyang Kumara :

Om, Namah Kumara ya,

Sedhana ya,

Siki dwaja ya pratimaya loka,

Sad kartika nanda karya ya nityam,

Namastute tasme dwaja pudhitam.

(Ya Tuhan, bergelar Kumara, dewanya pengayom semua kehidupan di jagatraya ini, kami semua sembah kehadapan-MU).

 

9.      Sembah Puyung :

Om, Dewa suksma paramacintya ya nama swaha.

Om, santih, santih, santih, Om.

(Om, hormat kami kepada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi, yang gaib).

=== selesai ===

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: