Oleh: dhanuwangsa | November 23, 2010

KAMASASTRA

KAMASASTRA

Oleh

Nanang Sutrisno, S.Ag, M.Si

BAB I

PENDAHULUAN

Selama ini seksualitas seringkali dipahami sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan apalagi jika itu dikaitkan dengan agama. Sudah barang tentu banyak yang menolak kalau pembicaraan porno dilakukan dalam konteks beragama. Akan tetapi Hindu memberikan pandangan yang berbeda tentang seksualitas. Dalam Hindu seksualitas dipandang sebagai hal yang sakral dalam kehidupan manusia sebab secara implisit termuat dalam ajaran catur purusārtha, yaitu dharma, artha, kama, dan moksa. Salah satu tujuan hidup manusia adalah terpenuhinya nafsu atau keinginan (kama) yang mendorong orang berbuat sesuatu; yang membuat orang bergairah dalam hidup ini (Sura, 1993: 92). Salah satu wujud kama adalah pemenuhan terhadap kebutuhan seks (Utama, 2004: 3).

Persoalan seks rupanya telah menjadi topik menarik yang menggelitik minat para sastrawan sejak zaman dahulu kala hingga sastrawan-sastrawan modern belakangan ini. Seksualitas tampaknya menjadi inspirator para sastrawan untuk menggugah rasa estetik, khususnya srenggara rasa (rasa birahi) sehingga karya sastranya menjadi lebih hidup dan menarik untuk dibaca. Banyaknya karya sastra yang mengeksplorasi seksualitas menunjukkan adanya kecenderungan bahwa masalah seksualitas telah menjadi masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia dari zaman ke zaman. Pada zaman Hindu kuno misalnya, muncul kitab-kitab Kamasastra dan yang paling terkenal ditulis oleh Watsyayana, yaitu Kama Sutra. Di China mempunyai buku Shu Ni Jing, Hung Lou Meng dan Yin Yuan Thu yang membahas seks secara hampir sempurna (Hariwijaya, 2004: 41). Dalam kesusasteraan Hindu Indonesia juga muncul lontar-lontar berbahasa Jawa Kuno, antara lain lontar Rsi Sambhina, Rahasya Sanggama, Yaning Stri Sanggama dan lain-lain. Dalam sastra-sastra Jawa Tengahan di Jawa, lahir sastra-sastra yang membicarakan seksualitas di antaranya, Serat Nitimani, Serat Kamaweda, dan Serat Centhini. Di zaman modern ini, masalah seksualitas bukan saja hanya ditulis oleh novelis-novelis picisan seperti Fredy S., Mila Karmelia, dan lain-lain, melainkan juga sudah menjadi konsumsi publik sehingga sangat mudah diakses dalam media massa dan internet.

Sementara itu, masalah seksualitas tidak hanya ada dalam karya-karya sastra Hindu, tetapi juga ada dalam bentuk arsitektur, pahatan, relief-relief, arca dan sebagainya. bahkan, beberapa simbol seksual seperti lingga-yoni menjadi bangunan utama dalam sebuah candi atau pura. Salah satu Kuil penting di India yang bernama Khajuraho menampilkan pahatan-pahatan tentang berbagai macam posisi dan ritual seks kamasutra. Menurut Anand Krishna (2000) bahwa kamasutra adalah tantra. Setelah para siswa tersebut selesai belajar teori kamasutra, mereka diajak oleh guru spiritual tersebut ke Kuil Khanjuraho. Di kuil itulah mereka menuntaskan ajaran spiritual sekaligus belajar teknik percintaan kamasutra. Di Jawa, terdapat dua buah candi peninggalan Majapahit akhir, yaitu Candi Cetho dan Candi Sukuh yang sering disebut candi lanang (candi laki-laki) dan candi wadon (candi wanita). Di Candi Cetho yang juga disebut sebagai candi lanang terdapat sebuah gambaran phalus atau alat kelamin laki-laki yang dalam kepercayaam Hindu disebut Lingga. Sebaliknya, di Candi Sukuh terdapat sebuah simbol vagina (alat kelamin wanita) yang dalam kepercayaan Hindu disebut Yoni. Di Bali, juga banyak terdapat simbol lingga-yoni di beberapa Pura. Bahkan, arca Kebo Edan di Pejeng, juga menggambarkan sebuah bentuk Lingga, berupa Phalus yang sangat besar. Oleh karena ajaran seksual dalam Hindu berkaitan erat dengan ajaran tantra dan merupakan bagian dari veda, yaitu bagian upaveda maka semakin jelas bahwa seksualitas adalah sakral menurut Hindu.

Kama adalah bagian penting dalam kehidupan manusia yang harus dicapai demi kebahagiaan duniawi, jagadhita. Dalam hal kama sebagai seks maka ajaran kamasastra bertujuan untuk memberikan ajaran-ajaran seksualitas yang benar bagi para grehastin agar tercapai kebahagiaan rumahtangga. Oleh sebab itu perkawinan bagi Hindu adalah hal yang sangat sakral karena seksual hanya bagi mereka yang telah berkeluarga, bukan bagi brahmacarya dan perlahan-lahan harus ditinggalkan oleh mereka yang telah menjalani hidup wanaprasta dan bhiksuka. Rupanya hal ini tidak dipahami oleh manusia modern dewasa ini sehingga banyak yang menyalahgunakan seksualitas hanya demi kesenangan semata, terutama dapat diamati dari munculnya fenomena seks bebas di kalangan remaja, maraknya perselingkuhan dan sebagainya.

Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas tentang Kamasastra, yaitu ilmu bercinta menurut Hindu. Pembahasan utama dalam makalan ini adalah Kamasutra karya Watsyayana Mallannaga, seorang tabib besar di India pada masa itu. Ilmu pengetahuan tentang cinta dan Kamasastra dimasukkan di dalam bagian Vajikarana dari Ayurveda. Pembahasan yang paling dahulu ditulis tentang topik ini adalah Kamasutra (Sudharta, 2006: 15). Inilah yang mendasari bahwa Kamasutralah yang akan dibahas dalam makalah singkat ini.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kamasastra

Kamasastra berasal dari dua kata, yaitu kama dan sastra. Kama berarti keinginan dan nafsu yang mendorong orang berbuat sesuatu; yang membuat orang bergairah dalam hidup ini (Sura, 1993: 92). Dalam bahasa Sansekerta, kama berarti keinginan, cinta kasih, kasih sayang, nafsu, kesenangan sensual, dan sejenisnya. Kama juga dapat dinyatakan sebagai Dewa Cinta yang dalam beberapa hal sama dengan Cupido dan Eros (Maswinara, 1997: 4-5).

Dalam rumusan konsep catur purusārtha, yaitu dharma, artha, kama dan moksa dijelaskan bahwa kama adalah keinginan yang harus dicapai berdasarkan dharma (Sudharta, 2002). Kata kama juga ditemukan dalam konsep sad ripu, yaitu enam musuh yang ada dalam diri manusia. Suka Yasa (2005) menjelaskan bahwa kama berarti keinginan yang mendorong manusia untuk mendapatkan segala sesuatu sebagai akibat dari kebodohannya (awidya/moha).

Dalam beberapa Smrti seringkali dikatakan seolah-olah antara dharma, artha, dan kama, saling berbeda antara satu dengan yang lainnya, yang satu lebih tinggi dari yang lain. Dalam Arthasastra dikatakan bahwa artha yang tertinggi di antara dharma dan kama, sedangkan Dharmasastra mengatakan bahwa dharma-lah yang tertinggi di antara kama dan artha, maka demikian halnya dengan Kamasastra mengatakan bahwa kama-lah yang tertinggi di antara ketiganya. Hal ini dapat dilihat dari Mahabharata, bagian Santiparwa 167 yang menyatakan bahwa:

“Orang tanpa memiliki kama tidak akan pernah menginginkan artha dan orang tanpa memiliki kama, juga tak akan pernah menginginkan dharma. Orang yang kurang memiliki kama tak akan pernah dapat merasakan dan berkeinginan. Dengan alasan ini maka kama merupakan yang terpenting dari ketiganya. Segala sesuatunya diliputi oleh prinsip-prinsip kama. Seseorang yang berada di luar tonggak kama tak akan pernah ada sekarang, masa lalu, ataupun masa depan di dunia ini. Seperti keju yang merupakan inti dari dadih susu, demikian pula kama merupakan inti dari artha dan dharma. Minyak lebih baik daripada minyak biji-bijian. Mentega dan buah lebih baik daripada susu asam. Bunga dan buah lebih baik dari pada pohonnya. Demikian pula halnya, kama lebih baik daripada artha dan dharma. Seperti madu disarikan dari bunga-bunga, demikian pula kama disarikan dari keduanya itu. Kama merupakan orangtua dari dharma dan artha, dan kama merupakan roh dari keduanya itu” (Maswinara, 1997: 14).

 

Sesungguhnya adalah suatu kebodohan memperlakukan dharma, artha, dan kama sebagai yang berbeda, yang satu lebih tinggi dari yang lain karena ketiganya adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Ketiganya saling kait-mengait karena dharma tanpa kama hanya akan ada dalam ide saja, tidak akan ada tindakan dharma apapun, sedangkan kama tanpa dharma juga akan tersesat. Tanpa artha, juga dharma dan kama tidak akan terlaksana. Oleh karena ketiga-tiganya penting maka setiap Maharsi memposisikan salah satu di antara yang tiga itu sebagai pokok bahasan yang utama untuk mempertajam pemaknaan sesuai dengan kepentingan dan tujuan penulisan karya sastranya. Dengan demikian ketiganya harus berjalan bersama-sama sebagai tahapan untuk mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi, yaitu moksa.

Salah satu wujud kama adalah pemenuhan terhadap kebutuhan seks (Utama, 2004:3). Sejalan dengan itu Schopenhauer berpendapat bahwa hasrat seks merupakan manifestasi dari kemauan akan hidup yang paling banyak memotivasi gerak hidup manusia, selain tentunya dorongan untuk mencari makan (Gunawan, 1993: 27). Sementara itu, kata kama juga ditemukan dalam konsep kanda pat di Bali, yakni kama petak dan kama bang. Kata kama pada dua kata ini bermakna spermatozoa (kama petak) dan ovum (kama bang) yang keduanya merupakan benih kehidupan manusia. Dari beberapa pengertian tersebut maka dalam tulisan ini kata kama yang dimaksud adalah kama sebagai keinginan atau nafsu yang erat keitannya dengan seksualitas.

Sementara itu kata “sastra” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu-Zein, 1994: 1227) memiliki beberapa arti, antara lain (1) bahasa berseni yang menggunakan kata-kata yang muluk-muluk, susuna kata yang menarik, yang menggugah rasa keindahan dan rasa haru; (2) karya seni yang dilukiskan dengan bahasa seperti puisi, prosa (roman, novel, cerita pendek, drama); (3) kitab suci (Hindu); (4) primbon yang berisi ramalan; (5) pada mulanya juga berarti tulisan atau huruf. Sedangkan kata kesusasteraan berarti segala sesuatu yang bersangkut paut dengan karya sastra. Dari beberapa pengertian ini maka kata sastra yang digunakan dalam tulisan ini adalah sesuai dengan pengertian nomor 3 (tiga), yakni sastra sebagai kitab suci (Hindu). Sejalan dengan ini setiap kata sastra menurut Hindu selalu berhubungan dengan kitab suci atau setidaknya di dalamnya mengandung ajaran-ajaran agama misalnya, Arthasastra (sastra tentang artha/ilmu politik dan kepeminpinan Hindu), Dharmasastra (sastra tentang Dharma), Nitisastra (sastra tentang niti/kepemimpinan dan etika) dan sebagainya.

Dari dua pengertian mengenai kama dan sastra di atas dapat disimpulkan bahwa Kamasastra adalah sastra tentang kama. Dalam tulisan ini Kamasastra dimaknai sebagai semua sastra Hindu yang berhubungan dengan seksualitas. Oleh karena yang dimaksud adalah sastra Hindu maka pembahasan ini melingkupi keseluruhan susastra Weda, baik Sruti maupun Smerti, terutama yang ada kaitannya dengan Kamasutra itu sendiri.

 

2.2 Kedudukan Kamasastra dalam Kesusasteraan Veda

Weda adalah wahyu atau sabda suci Tuhan Yang Maha Esa yan diterima oleh para Maharsi. Weda sebagai sumber ajaran agama Hindu terdiri atas kitab Sruti dan Smerti. Sruti berarti apa yang didengar, wahyu dari Tuhan yang terdiri atas empat kitab antara lain, Rg Veda, Sama Veda, Yajur Veda, dan Atharva Veda. Sebaliknya, Smerti adalah kitab yang menguraikan komentar penjelasan atau tafsir atas wahyu tersebut. Secara garis besar kitab Smerti dapat dibagi dua, yaitu kelompok Wedangga (terdiri atas Siksa, Wyakarana, Cnadha, Nirukta, Jyotisa, dan Kalpa) dan kelompok Upaveda (terdiri atas Itihasa, Purana, Arthasastra, Ayur Veda, Gandharva Veda, Kamasastra, dan Agama) (Putra dkk,. 1985: 9-19).

Meskipun demikian keduanya tidak dapat diragukan sebagai kitab suci Hindu. Hal ini dijelaskan dalam Manusmerti atau Manawadharmasastra II.10 sebagai berikut.

Srutistu wedo wijneyo dharmasastram tu wai Smrtih, te sarwarthāwam imamsye tathyam dharmahi nirbabhau.

 

Artinya:

Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari hukum suci itu (dharma).

 

Demikianlah antara Sruti dan Smrti tidak dapat dipisah-pisahkan sebagai kitab suci Hindu yang mengajarkan pada seluruh umat manusia untuk hidup berdasarkan dharma. Telah dijelaskan di atas bahwa Smrti adalah apa yang diingat oleh para Rsi. Apa yang diingat itu selanjutnya direfleksikan menjadi ajaran-ajaran Smrti yang menjadi tuntunan hidup manusia. Oleh sebab itulah Smrti, juga dikatakan sebagai tafsir atau komentar penjelasan terhadap Sruti.

Smrti pada umumnya dibedakan menjadi dua, yaitu Wedangga dan Upaweda. Kamasastra adalah bagian dari Upaveda, yaitu kitab Smrti yang membahas tentang seksualitas (kama). Kamasastra bukan berarti hanya satu kitab saja melainkan pengelompokan dari karya-karya sastra yang membicarakan tentang kama. Jadi, seluruh kitab yang pada dasarnya membicarakan tentang kama dapat digolongkan dalam Kamasastra. Salah satu Kamasastra yang terkenal adalah karya Watsyayana Mallanaga, yaitu Kamasutra.

Oleh karena Smrti adalah bersumber dari Sruti maka pembahasan Kamasastra ini dimulai dari kitab Sruti. Kitab Sruti yang dijadikan sumber kajian pada kesempatan ini adalah Rg Veda, mandala 10, dengan pertimbangan bahwa Rg veda, mandala 10 adalah yang terpenting karena menunjukkan kebenaran yang mutlak (Putra, dkk., 1985/1986: 10). Dalam Rg Veda, Mandala 10, Sukta 5, sloka 3 dinyatakan:

Ritāyini māyini sàm dadhāte mithvā isum jajnatur vardhayanti

Visvasya nabhim càrato dhruvāsya kaves cit tantum manasa viyàntah.

Terjemahannya:

Pasangan suci itu dengan kekuatan yang mengagumkan menjadi satu pasang; mereka membentuk bayi, mereka yang memelihara melahirkan dia, titik pusat dari segala yang bergerak dan yang diam, pada saat mereka menganyam benang, Pendeta membaca mantra dengan hati-hati.

 

Sloka di atas mengungkapkan bahwa ada dua kekuatan yang merupakan sumber dari segala ciptaan yang ada di dunia ini. Ketika keduanya bertemu maka terjadilah penciptaan. Hal ini diperjelas lagi dengan ajaran filsafat Samkhya bahwa dua asas penciptaan dunia adalah Purusa dan Prakerti. Inilah yang mendasari penulisan kitab-kitab kamasastra bahwa dua unsur (pasangan) yang maskulin dan feminin, laki-laki dan perempuan merupakan pertemuan suci yang akan menghasilkan keturunan-keturunan demi keberlanjutan dunia ini.

Di samping itu, Atharva Veda: 6.130.2, menjelaskan sebagai berikut.

Asau me Smaratāditi priyo me smaratāditi, Devāh pra hinuta smaramasau māmanu śocatu”

Terjemahannya:

Semoga istriku selalu mengingatku. Demikian pula suamiku agar selalu mengingatku. Para Dewa membangkitkan keinginan kama kami sehingga kami suami/istri selalu memikirkannya. (Somvir, 2001: 125).

 

Dari Sruti inilah ajaran Kamasastra berkembang, baik di India maupun di Indonesia. Sayangnya, baru ada satu kitab Kamasastra dari India yang berhasil diterjemahkan di Indonesia, yaitu Kamasutra karya Watsyayana sehingga belum ada pembanding antara Kamasutra dengan kitab Kamasastra lainnya. Sementara itu di Indonesia, seksualitas banyak menjadi inspirator lahirnya karya-karya sastra Hindu seperti misalnya Kakawin Arjuna Wiwaha, Rasmi Sancaya, Siwagama, dan lain-lain.

 

2.3 Kamasutra

2.3.1 Selayang Pandang Kamasutra

Kamasutra telah menjadi bahan diskusi menarik bagi para Seksolog, Indolog, Sejarawan, dan sarjana-sarjana lainnya karena isinya yang luar biasa. Bahkan, Kamasutra telah menjadi ikon seksualitas di dunia, bukan saja karena kevulgarannya dalam mengungkap seksualitas para pangeran di India tetapi lebih menarik ajaran-ajaran moralitas yang ada di dalamnya. Hal ini dipertegas lagi bahwa Watsyayana, penulis Kamasutra adalah seorang moralis, ilmuwan sosial dan budaya yang menggunakan pengalamannya guna kebahagiaan dan kebaikan umat manusia (Maswinara, 1997: 48).

Kamasutra adalah sutra yang membahas tentang kama. Dalam kesusastraan Hindu, sutra berarti karya sastra yang ditulis dengan kalimat-kalimat pendek. Banyak sekali kitab suci Hindu yang ditulis dalam bentuk sutra-sutra misalnya, Yogasutra, Srautasutra, Grhyasutra, Dharmasutra, Pitrmedhasutra, prayascitasutra, dan lain-lain. Kamasutra yang paling terkenal diyakini ditulis oleh Watsyayana. Sesungguhnya masih banyak Kamasutra-Kamasutra lainnya, tetapi tidak ada sumber yang jelas dan kebanyakan tidak dapat dikenali lagi karena terbungkus dalam legenda. Menurut legenda ada beberapa penulis Kamasutra yang memiliki beberapa eksistensi historis di antaranya Nandin yang dikatakan telah menulis Kamasastra sebanyak 1000 bab, dan selanjutnya Swetaketu atau Dattaka yang diyakini mengarang kama 500 bab. Mengenai Swetaketu terdapat dalam Brhadaranyaka Upanisad yang menceritakan tentang perdebatan filosofis mengenai simbolisme seksual.

Karya Nandin selanjutnya diringkas lagi oleh Babhrawya dan belakangan diketahui bahwa Watsyayana membicarakan karya Nandin yang berjumlah 150 bab itu. Penyusun lain yang juga dikutip oleh Watsyayana seperti, Gonikaputra, Ghotamukha, Gonarda, Carayana, dan Suwarnabha juga menulis berbagai aspek tentang masalah kama. Rupanya Watsyayana telah membicarakan sebagian besar karya-karya ini sementara ia menulis Kamasutra-nya sendiri yang dibagi menjadi 7 bagian, 36 bab dan 64 topik permasalahan.

Penetapan waktu dari Watsyayana masih tetap menjadi masalah bagi beberapa orang peneliti. Akan tetapi para sarjana bersepakat untuk menetapkan bahwa Kamasutra ditulis sekitar abad ke-VI sebelum Masehi hingga abad ke VI setelah Masehi. Rentang waktu ini memang terlalu panjang dan semakin menambah kekaburan tentang kapan sesungguhnya Kamasutra ditulis. Artinya, secara historis Kamasutra tidak dapat dilacak secara pasti. `

Kamasutra dari Watsyayana diakui sebagai salah satu kitab Hindu terbesar dan dapat disejajarkan dengan sastra Hindu lainnya seperti, Kautilya Arthasastra maupun Manawa Dharmasastra. Kamasutra yang secara spesifik membicarakan masalah seksualitas dan erotisme rupanya tidak melepaskan dirinya dari spiritualitas yang selama ini telah menjadi simbol mistikisme India sehingga kedudukan Kamasutra sebagai sastra spiritual tidak dapat diragukan lagi. Paling tidak ada lima ulasan tentang itu tak termasuk Watsyayana Sutra Sawa oleh Ksemendra. Karya bangsa India terkenal lainnya menganai kama termasuk Rati Rahasyam oleh Kokkola yang mungkin disusun di sekitar abad ke-XII sesudah Masehi dan ia sendiri paling tidak memiliki empat ulasan. Ananga Ranga, kemungkinan merupakan naskah yang paling terkenal setelah Kamasutra yang disusun sekitar abad ke-XV sesudah Masehi oleh Kalyanamalla. Ada juga beberapa karya sastra minor mengenai seksualitas dan erotika ini di India (Maswinara, 1997: 10). Artinya, orang India begitu cerdas dalam menyeimbangkan sisi spiritualitas dan materialitas untuk mendapatkan kesempurnaan hidup yang sejati, jagadhita dan moksa.

2.3.2 Pokok-Pokok Ajaran Kamasutra

Telah dikemukakan di atas bahwa Kamasutra dibagi menjadi 7 bagian, 36 bab dan 64 topik permasalahan. 7 (tujuh) bagian pokok dalam Kamasastra dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Sadharana (pembahasan umum)

Pada bagian ini dibahas mengenai Dharma, Artha, dan Kama. Dikatakan bahwa setiap orang dewasa wajib mempelajari dharma, artha dan kama karena ketiganya tidak dapat dilepaskan. Pada masa grehasta orang hendaknya mempelajari artha dan kama demi mendapatkan kebahagiaan dunia (jagadhita) dan ketika usia tua hendaknya mempelajari dharma agar dapat mencapi moksa. Dharma diartikan sebagai ketaatan terhadap perintah-perintah sastra atau kitab suci. Artha adalah pencarian ketrampilan, tanah, emas, ternak, kekayaan, sarana, sahabat, termasuk melindungi apa yang dicari dan menambah apa yang dilindungi. Sedangkan kama adalah kesenangan terhadap objek-objek yang sesuai dengan kelima indria pendengaran, perasaan, penglihatan, pengecap, dan pembau yang dibantu oleh pikiran bersama-sama dengan roh.

Bagian ini juga membicarakan tentang 64 keterampilan-keterampilan serta yang harus dipelajari dari Kamasutra sebagai ilmu untuk melengkapi ajaran yang terkandung dalam dharma dan artha. Keterampilan ini terutama harus dipelajari oleh wanita sebelum mereka menikah dan dapat dilanjutkan setelah menikah atas persetujuan suaminya. Keenampuluh empat keterampilan itu sebagai berikut.

(1)         Menyanyi

(2)         Memainkan alat musik

(3)         Menari

(4)         Gabungan tari-tarian, nyanyian dan memainkan alat musik

(5)         Menulis dan melukis

(6)         Mengerjakan tato (rajah)

(7)         Menata dan mempercantik patung dengan beras dan bunga

(8)         Menyebarkan dan menata bunga-bungan di atas tempat tidur dan di lantai

(9)         Mewarnai gigi, pakaian, rambut, kuku, dan badan dengan mengecatnya

(10)     Melekatkan kaca berwarna pada lantai

(11)     Keterampilan menyiapkan tempat tidur dan menata bantal serta sprei

(12)     Memainkan musik gelas yang diisi air

(13)     Memenuhi tangki air, bak serta saluran-saluran air lainnya

(14)     Membuat gambar, hiasan dan sejenisnya

(15)     Merangkai kalung tasbih, rangkaian bungan dan untaian dedaunan

(16)     Mengikatkan destar dan untaian bunga serta perhiasan mahkota dari rangkaian bunga

(17)     Berperan aktif dipanggung permainan

(18)     Keterampilan membuat hiasan telinga

(19)     Keterampilan dalam mempersiapkan wewangian

(20)     Penataan intan permata serta hiasan pada pakaian

(21)     Keterampilan dalam ilmu sihir dan magis lainnya

(22)     Kecepatan dan ketangkasan dalam keterampilan manual

(23)     Keterampilan dalam masak memasak

(24)     Membuat minuman, pencuci mulut, asam dari sari alkohol dan warna yang menarik

(25)     Keterampilan dalam bidang jahit menjahit

(26)     Pembuatan hiasan dari benang berbentuk bunga, burung, jambul, jumbai, simpul, dan lain sebagainya.

(27)     Memecahkan teka-teki, menerka teka-teki dan sejenisnya.

(28)     Memainkan permainan berupa pengulangan sloka secara bersambung dengan melanjutkan kata terakhir dengan kata yang sama dan seterusnya.

(29)     Keterampilan dalam menyamar.

(30)     Keterampilan dalam membaca termasuk melagukan dan menekankan kata.

(31)     Mempelajari kata atau kalimat yang sulit diucapkan.

(32)     Terampil dalam menggunakan pedang, tongkat, busur dan anak panah.

(33)     Menarik kesimpulan, penalaran, dan logika.

(34)     Seni pertukangan atau pekerjaan tukang kayu.

(35)     Seni arsitektur.

(36)     Pengetahuan tentang emas, perak, permata, dan perhiasan lainnya.

(37)     Keterampilan dalam bidang ilmu kimia dan mineralogi.

(38)     Seni mewarnai perhiasan, permata dan untaian tasbih.

(39)     Pengetahuan tentang pertambangan dan penggalian.

(40)     Seni pertamanan.

(41)     Keterampilan adu ayam, burung puyuh dan adu kambing.

(42)     Keterampilan dalam melatih berbicara burung Beo dan Kakaktua.

(43)     Keterampilan menggunakan wewangian di badan dan perawatan rambut.

(44)     Keterampilan dalam memahami penulisan pada bilah.

(45)     Keterampilan berbicara dengan penggubahan bentuk kata-kata.

(46)     Pengetahuan tentang bahasa dan logat-logat tertentu.

(47)     Keterampilan membuat keranjang bunga.

(48)     Keterampilan dalam menyusun diagram mistik, merapal mantra dan jimat

(49)     Melatih mental seperti melengkapi sloka atau ayat yang diterima sepenggal-sepenggal dengan sloka-sloka yang lainnya.

(50)     Keterampilan dalam mengggubah puisi.

(51)     Pengetahuan tentang daftar kata dan kosa kata.

(52)     Pengetahuan tentang cara mengubah dan menyamarkan penampilan orang lain.

(53)     Pengetahuan tentang seni mengubah penampilan benda-benda kasar menjadi benda yang indah dan apik.

(54)     Seni bermain judi.

(55)     Keterampilan mendapatkan harta benda dengan menggunakan jampi-jampi.

(56)     Keterampilan dalam olah raga.

(57)     Pengetahuan tentang aturan masyarakat dan cara menghormati orang lain

(58)     Pengetahuan tentang seni peperangan, pasukan, persenjataan.

(59)     Pengetahuan tentang senam jasmani (yoga asanas).

(60)     Keterampilan untuk mengetahui karakter pria dan penampilannya.

(61)     Pengetahuan tentang pengamatan atau penyusuna sloka.

(62)     Rekreasi aritmatika.

(63)     Pembuatan bunga tiruan.

(64)     Seni pembuatan patung atau wujud sesuatu dengan tanah liat.

 

Keterampilan-keterampilan tersebut pada dasarnya bertujuan untuk menjadi seorang wanita yang benar-benar siap menghadapi kehidupan berumahtangga. Tampaknya beberapa keterampilan di atas merupakan keterampilan yang menjadi kebiasaan laki-laki, misalnya ilmu perang, membuat patung, dan sebagainya. mengenai hal ini, Kamasutra memberikan jawaban yang logis bahwa pengetahuan ini penting diketahui dan oleh seorang wanita ketika suaminya tidak ada di sampingnya misalnya, sedang pergi berperang, sedang melaksanakan tugas ke luar daerah dan sebagainya sehingga wanita itu mampu mengatasi berbagai masalah hidupnya saat berada dalam kesendirian.

Bagian lain yang dibahas dalam bab ini adalah tentang bagaimana seharusnya kehidupan seorang grehastin dalam bermasyarakat. Seorang yang telah berumahtangga hendaknya memiliki rumah yang layak, besar, sekaligus indah sehingga banyak orang mau mengunjunginya. Agar sebuah keluarga menjadi terpandang di masyarakat maka dia harus melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

(1)    Mengadakan pesta perayaan dalam rangka menghormati wujud dewata. Yang dimaksud adalah seseorang harus mengadakan upacara-upacara keagamaan secara berkala dan mengundang banyak orang agar dapat hadir dalam perayaan tersebut.

(2)    Seseorang hendaknya mengikuti perkumpulan-perkumpulan sosial dengan kelompok-kelompok yang sederajat, terutama dengan orang-orang terhormat dan juga wanita-wanita penghibur.

(3)    Seseorang harus sering mengadakan jamuan atau pesta minum-minuman keras seperti Madhu, Aireya, Sura dan Asawa yang berasa agak pahit dan asam. Kehadiran wanita-wanita penghibur penting untuk menambah kemeriahan suasana.

(4)    Setelah melakukan berbagai aktivitas yang padat berhari-hari maka sepasang suami-istri hendaknya pergi ke taman atau berdharmawisata ke tempat-tempat yang menyenangkan.

(5)    Orang juga harus melibatkan diri dalam hiburan-hiburan sosial lainnya, misalnya berjudi dan permainan-permainan lainnya.

 

Kamasutra menyatakan bahwa orang bijaksana hendaknya tidak berlindung kepada masyarakat yang tidak disukai umum, masyarakat yang tanpa aturan hukum, dan masyarakat yang senang mengusik ketenangan warga lainnya. Tetapi, seseorang terpelajar yang hidup dalam masyarakat yang berbuat sesuai dengan keinginan orang-orangnya dan hanya menyenangi hal semacam itu sangat dihormati di dunia ini.

Pada bagian akhir bab ini dijelaskan tentang jenis-jenis wanita yang dilindungi oleh warga, tentang wanita yang tidak layak disukai dan dicintai, tentang sahabat, dan tentang para kurir. Berikut ini adalah daftar wanita yang tidak layak untuk dicintai, sebagai berikut.

(1)   yang menderita penyakit Kusta;

(2)   yang berpenyakit gila;

(3)   yang mengabaikan kastanya;

(4)   yang suka membuka rahasia;

(5)   yang suka mengungkapkan keinginannya berhubungan badan di muka umum;

(6)   yang sangat putih (bule);

(7)   yang sangat hitam;

(8)   yang penciumannya buruk;

(9)   yang merupakan kerabat dekat;

(10)     yang menjadi teman wanita sejak kecil;

(11)     yang menjalani kehidupan bertapa;

(12)     istri dari kerabat dekat, kawan, brahmana terpelajar dan permasuri raja.

 

Selanjutnya, Kamasutra juga menjelaskan tentang jenis-jenis sahabat sebagi berikut:

(1)   Seseorang yang diajak bermain-main bersama sejak kecil.

(2)   Orang yang terikat oleh upacara persembahan.

(3)   Orang yang perilakunya sama dan menyayangi hal yang sama.

(4)   Orang yang merupakan siswa sekelas.

(5)   Orang yang dipasrahi menyimpan rahasia dan dapat melaksanakannya.

(6)   Orang yang merupakan anak pengasuhmu.

(7)   Orang yang membesarkanmu.

(8)   Orang yang secara turun temurun sebagai sahabat keluargamu.

 

Seorang sahabat ini seyogyanya memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

(1)   Mereka hendaknya selalu menyatakan kebenaran.

(2)   Mereka hendaknya tidak berubah oleh waktu.

(3)   Mereka hendaknya mendukung rencana-rencanamu.

(4)   Mereka hendaknya mantap dalam berteman.

(5)   Mereka hendaknya terbebas dari ketamakan.

(6)   Mereka hendaknya tak mampu direbut orang lain.

(7)   Mereka hendaknya tidak mengungkapkan rahasiamu.

 

Tentang sifat-sifat seorang kurir, Kamasutra menjelaskan bahwa mereka haruslah orang-orang yang memiliki sifat sebagai berikut:

(1)         Terampil;

(2)         Berani;

(3)         Memiliki pengetahuan tentang maksud pria dengan tanda-tanda luar mereka;

(4)         Tidak bingung dan tidak pemalu;

(5)         Memiliki pengetahuan tentang maksud sebenarnya yang dilakukan atau yang dikatakan orang lain;

(6)         Memiliki cara yang baik;

(7)         Memiliki pengetahuan tentang waktu yang tepat dan sesuai untuk melakukan hal yang berbeda-beda;

(8)         Cerdik dalam berurusan;

(9)         Memiliki pemahaman yang cepat;

(10)     Cepat dalam mengaplikasikan perbaikan, yakni memiliki akal yang selalu siap dan cekatan.

 

 

 

Di bagian akhir bab ini ditutup dengan sebuah sloka sebagai berikut:

 

pria yang kreatif dan bijaksana, yang ditemani oleh seorang teman dan yang mengetahui maksud orang lain, demikian pula saat dan tempat yang layak untuk melakukan segala hal, dengan sangat mudah dapat mengatasi bahkan seorang wanita yang sangat sulitpun dapat diperolehnya”

 

2. Samprayogika (tentang hubungan seksual)

Dalam bab ini secara tuntas ditulis mengenai cara-cara berhubungan seksual untuk mendapatkan kepuasan yang sempurna. Dikatakan bahwa :

hubungan badan dengan pria membuat nafsu, keinginan atau birahi wanita terpuaskan dan kesenangan yang diperoleh dari kesadaran tentang itu disebut kepuasan mereka”

“pancaran air mani pria hanya berlangsung pada saat akhir hubungan badan, sementara air mani wanita memancar terus menerus; dan setelah air mani keduanya telah tumpah semuanya, lalu mereka ingin menghentikan hubungan badan tersebut”

Kedua sloka di atas menjelaskan bahwa puncak hubungan seksual adalah orgasme, yaitu keluarnya air mani pria dan wanita dipuncak hubungan. Untuk mencapai itu maka diperlukan berbagai macam pengetahuan tentang teknik dan cara berhubungan seksual sebagaimana dijelaskan dalam Kamasutra.

Pertama, setiap pasangan harus memahami ukuran penis (linggam) laki-laki dan ukuran vagina (yoni) sehingga mencapai kenikmatan yang sempurna dalam berhubungan. Penis (linggam) seorang laki-laki dibagi menjadi tiga menurut ukurannya, yaitu (1) kecil (terwelu); (2) menengah (banteng); dan (3) bersemangat (kuda). Sebaliknya, vagina (yoni) perempuan juga dibagi menjadi tiga menurut kedalamannya, yaitu (1) kecil (kijang); (2) menengah (kuda betina); dan (3) bersemangat (gajah). Kenikmatan seksual akan didapatkan apabila masing-masing ukuran sesuai misalnya, jika linggam suami berukuran kecil (terwelu) maka yoni yang cocok adalah yang berukuran kecil pula (kijang). Kepuasan selanjutnya didapatkan dengan mengatur posisi berhubungan seksual yang nyaman. Kamasutra memberikan beberapa variasi hubungan seperti posisi istri di bawah suami di atas, istri di atas suami, posisi membelakangi, posisi menungging, dan banyak lagi terutama terpahat di kuil Kanjuraho dan di Puri Orissa. Rupanya, gaya hubungan seksual Kamasutra telah begitu kompleks dan sempurna seperti halnya gaya-gaya dalam seksualitas modern dewasa ini.

Kedua, sebagai langkah awal dalam berhubungan seksual maka Kamasutra menjelaskan tentang jenis dan cara berpelukan. Pelukan sebagai pernyataan kasih sayang ada 4 (empat) jenisnya, yaitu (1) sentuhan; (2) tubrukan; (3) rabaan; dan (4) penekanan. Sedangkan jenis pelukan lebih lanjut bagi orang yang akan melakukan senggama dibedakan atas 4 (empat) hal juga, yaitu (1) Jatawestitaka, yaitu jenis pelukan seperti tumbuhan menjalar, di mana perempuan bergelayut pada seorang pria dan sang pria menundukan kepalanya untuk mencium; (2) Wrksadhirudhaka, yaitu pelukan seperti memanjat pohon, di mana seorang wanita mengangkat salah satu kakinya di pinggang sang pria sementara tangannya memeluk bahu dan pinggang sang pria, sebaliknya sang pria menciumnya dan sang wanita mendesah pelan; (3) Tila-Tandulaka, berarti campuran wijen dan beras, pelukan jenis ini adalah seorang pria dan wanita terbaring dan saling memeluk rapat-rapat; dan (4) Ksiraniraka, berarti pelukan air dan susu, yakni pelukan yang sangat erat di mana linggam dan yoni mereka telah sama sekali menyatu. Mengenai pelukan ini Kamasutra menjelaskan bahwa ajaran kamasastra dapat dilakukan untuk menambah kenikmatan dan kasih sayang sedangkan bagi mereka yang telah berulang kali melakukan maka ajaran sastra ini tidak diperlukan lagi.

Ketiga, pembahasan selanjutnya adalah mengenai ciuman. Kamasutra menjelaskan ada 3 (tiga) jenis ciuman, yaitu ciuman nominal (hanya sekedarnya saja), ciuman yang bergetar (ciuman bibir menjepit), dan ciuman menyentuh (ciuman bibir dengan pertarungan lidah).

Keempat, membahas tentang cakaran kuku dibadan lelaki ketika hubungan semakin berhasrat. Ada 8 (delapan) jeni cakaran kuku yang baik menurut Kamasutra, yaitu menimbulkan suara, berbentuk bulan sabit, berbentuk bulatan, berbentuk garis, berbentuk cakar macan, berbentuk kaki burung Merak, berbentuk lompatan terwelu, dan berbentuk daun teratai biru.

Kelima, adalah tentang gigitan dan makna-makna yang dimaksudkan berkenaan dengan para wanita dari negeri yang berbeda-beda. Dikatakan bahwa setiap bagian tubuh dapat digigit, kecuali bibir atas, bagian dalam mulut, dan mata. Gigitan dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain : gigitan tersembunyi (hanya berwarna merah), gigitan mengembang (gigitan yang tampak jika kulit disekitranya ditekan), gigitan menusuk (hanya dilakukan dengan dua gigi), gigitan barisan menusuk (gigitan kecil dengan semua gigi), gigitan batu karang dan batu permata (gigitan dengan bibir dan gigi secara bersamaan), gigitan barisan batu permata (gigitan dengan semua gigi), gigitan awan pecah (gigitan yang bentuknya tidak sama dalam setiap lingkaran), dan gigitan babi hutan (gigitan yang meluas dan satu sama lain saling berdekatan). Menurut Kamasutra, gigitan dapat dilakukan di bibir (gigitan tersembunyi), pipi (gigitan menyebar, menusuk, batu karang, dan batu permata), tenggorokan, pangkal paha, ketiak (gigitan barisan tusukan dan barisan batu permata), dahi dan paha (gigitan tusukan).

Keenam, pembahasan tentang posisi hubungan badan. Hubungan badan dibagi menjadi tiga berdasarkan jenis yoni seorang wanita, yaitu hubungan badan tinggi (Mrgi), hubungan badan sepadan, dan hubungan badan rendah (Hastini). Hubungan badan tinggi (Mrgi) terjadi pada wanita yang yoni-nya berjenis kijang (kecil) dengan lelaki yang linggam-nya menengah (banteng) dan bersemangat (kuda). Sebalikknya, hubungan rendah (Hastini) adalah jika ukuran yoni seorang wanita adalah bersemangat (gajah) dan ukuran linggam laki-lakinya kecil.

-   Dalam hubungan tinggi atau jenis Mrgi, seorang wanita harus berbaring dengan posisi terbuka lebar (mengangkat pinggulnya lebih tinggi, bisa dibantu dengan menaruh bantal di bawahnya), posisi menganga (mengangkat paha tinggi-tinggi selama berhubungan), dan posisi istri Indra (membuka lebar paha dan posisi kaki menekuk).

-   Dalam hubungan rendah atau jenis Hastini, seorang wanita harus menggunakan posisi “menjepit”, posisi “menekan”, posisi “membelit” dan posisi “kuda betina”, dengan maksud untuk memperkecil lubang yoni. Pada posisi menjepit, seorang wanita dapat menjulurkan kakinya lurus ketika bersetubuh. Posisi menekan adalah wanita menekankan pahanya pada paha pasangannya sehingga paha pasangannya berada didalam kedua pahanya. Posisi membelit adalah bila salah satu kaki sang wanita membelit salah satu paha pasangannya. Dan posisi kuda betina adalah jika sang wanita memegang linggam pasangannya ketika linggam tersebut telah masuk ke dalam yoninya.

Dalam hubungan sepadan, ada beberapa posisi senggama antara lain:

1)      Posisi mengangkat, bila wanita mengangkat kedua pahanya lurus-lurus.

 

2)      Posisi menganga, bila wanita mengangkat kakinyan ke atas dan menempatkan pada bahu pasangannya.

 

3)      Posisi penekanan, bila kedua kaki ditekuk sehingga terpegang pasangannya di depan perutnya

 

4)      Posisi setengah menekan, bila hanya satu kaki saja yang ditekuk dan kaki lainnya diluruskan.

 

5)      Posisi pembelahan batang bambu, bila satu kaki diletakkan di bahu pasangannya dan kaki yang satunya direntangkan.

 

6)      Posisi penancapan paku, bila satu kakinya ditempatkan pada kepala dan yang satunya diregangkan keluar.

 

7)      Posisi kepiting, bila kedua kaki wanita ditekuk dan ditempatkan pada perutnya sendiri.

 

8)      Posisi membungkus, bila pahanya diangkat dan ditempatkan di atas yang lainnya.

 

9)      Posisi seperti teratai, bila tulang keringnya ditempatkan satu di atas yang lainnya.

10)  Posisi berputar, bila seorang pria melakukan hubungan badan berubah haluan dan menikmati wanita tanpa meninggalkannya, sementara si wanita memeluknya berjongkok sepanjang waktu.

 

11)  Posisi hubungan badan yang ditopang, bila seorang wanita ditopang oleh laki-laki pada dinding atau apapun dalam posisi berdiri.

 

12)  Posisi hubungan badan melayang, jika seorang pria menyandarkan dirinya pada dinding dan sang wanita melingkarkan tangannya pada leher sang lelaki, dan melingkarkan kakinya pada pinggang sang lelaki, sementara itu pantat sang wanita ditahan oleh tangan sang lelaki sambil terus berhubungan.

 

13)  Posisi hubungan badan seekora sapi, bila seorang wanita berdiri pada tangan dan kakinya seperti seekor sapi dan pasangannya menunggangi dari belakang. Posisi ini juga berlaku bagi semua posisi berhubungan seperti cara binatang lainnya.

 

14)  Hubungan badan menyatu, bila seorang pria melakukan dengan dua orang wanita secara bersama-sama.

15)  Hubungan badan kawanan sapi, bila seorang pria melakukan hubungan dengan banyak wanita.

 

Ketujuh, dibahas tentang pukulan-pukulan ketika berhubungan seksual. Pukulan ini atas dasar kasih sayang untuk menambah keromantisan hubungan. Pukulan-pukulan kecil dapat dilakukan di bahu, kepala, dada, punggung, jaghana (bagian tengah dari badan), dan bagian pinggang sebelah kiri. Pukulan ini akan lebih menyenangkan jika dibarengi dengan pekikan-pekikan kecil.

Kedelapan, dibahas mengenai wanita yang betindak selaku pria. Hal ini dilakukan bila seorang wanita melihat pasangannya merala lelah dengan hubungan badan yang terus menerus tanpa merasa terpuaskan keinginannya. Maka dengan izinnya dia dapat meminta izin suaminya untuk berbaring di atas badannya dan memerankan diri seperti seorang lelaki dan sang pria hanya pasrah terhadap perlakuan sang wanita. Hal ini dapat dilakukan dengan dua jalan, yaitu saat masih berhubungan badan maka sang wanita dapat membalikkan posisinya yang semula di bawah menjadi di atas. Dan yang kedua adalah dilakukan sejak awal akan berhubungan atas seizin sang pria. Hal ini semata-mata agar kedua pasangan mendapatkan kepuasan seksual yang sempurna. Dalam bagian ini juga dibahas tentang perilaku seorang pria saat bersama wanita untuk melakukan hubungan. Diawali dengan saling peluk, saling raba, saling cium maka sang pria mulai melepaskan pakaian sang wanita. Saat linggam telah siap masuk ke dalam yoni maka kegiatan yang dilakukan oleh pria adalah (1) menggerakkannya maju (dimasukkan perlahan); (2) menggesek dan mengaduk-aduk (digesek-gesekkan dan diputar-putar); (3) menusuk-nusuk (menarik maju mundur); (4) hanya diraba-rabakan diseputar yoni sang wanita; (5) hanya ditekan (bukan dimasukkan) dalam waktu yang lama; (6) bila linggam dicabut dengan ukuran tertentu lalu dimasukkan lagi disebut memberikan hembusan; (7) bila hanya satu bagian yoni yang disentuh oleh linggam disebut hembusan seekor babi hutan; (8) bila kedua bibir yoni diraba disebut hembusan dari seekora sapi jantan; (9) bila linggam berada dalam yoni dan digerakkan ke atas dan ke bawah tanpa mengeluarkannya maka disebut “bermain-mainnya seekora burung gereja”.

Kesembilan, yaitu tentang hubungan dengan mulut. Hubungan ini dilakukan oleh sepasang waria, baik itu homoseksual maupun lesbian. Hubungan ini dilakukan dengan mencium, menjilat, mengulum, kemaluan pasangannya dengan menggunakan mulut sampai mendapatkan kepuasan.

Kesepuluh, dibahas tentang bagaimana memulai dan mengakhiri sebuah hubungan badan. Di awal hubungan, kamar perlu dihias dengan beraneka macam bunga dan wangi-wangian untuk menambah suasana romantis. Kemudian sang pria dapat membelai rambut sang wanita, memeluk, mencium, meraba-raba bagian sensitif dari tubuhnya. Hal ini dapat dilakukan sambil bercerita tentang segala sesuatu sampai akhirnya sang wanita merasakan getaran-getaran asmara dan tergugah birahinya. Setelah semua siap dan merasa birahi maka dilakukanlah hubungan seksual dengan penuh kasih sayang. Di akhir  hubungan badan, masing-masing secara spontan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian duduk berdampingan sambil bercerita sesuatu yang menyenangkan, memberi pelukan ringan, saling bersuap minuman dan makanan, atau juga dapat keluar rumah untuk menikmati cahaya rembulan.

Apabila dijelaskan dan diuraikan seluruhnya maka sesungguhnya ada 64 (enampuluh empat) keterampilan hubungan seksual yang harus dipelajari oleh setiap pasangan. Keenampuluh empat keterampilan itu meliputi keterampilan pelukan, keterampilan ciuman, keterampilan mencakar dengan kuku, keterampilan gigitan, keterampilan berbaring dan posisi hubungan, keterampilan pukulan (tamparan), keterampilan merubah posisi wanita berlaku seperti pria, keterampilan hubungan dengan mulut, dan keterampilan memulai dan mengakhiri hubungan. Dikatakan dalam Kamasutra bahwa seorang pria yang memiliki 64 keterampilan ini dipandang dengan penuh cinta kasih oleh isterinya sendiri, oleh isteri-isteri orang lain dan juga oleh para wanita penghibur.

 

3. Kanya Samprayuktaka (penyatuan laki-laki dan wanita)

Bab pertama dari bagian ini menceritakan tentang perkawinan. Perkawinan yang baik adalah apabila menikahi seorang wanita perawan dari kasta yang sama dan sesuai dengan ajaran dharmasastra. Hasil dari penyatuan semacam ini adalah sebagai : pencarian dharma dan artha, keturunan, kekeluargaan, menambah kawan dan cinta kasih yang tanpa noda. Wanita yang baik untuk dinikahi adalah wanita yang berasal dari keluarga yang sangat dihormati, yang memiliki kekayaan, yang memiliki banyak kawan. Si wanita juga harus berparas cantik, berperilaku baik, memiliki tanda-tanda keberuntungan di rambut, kuku, gigi, telinga, mata, dan payudara yang baik. Menurut kamasutra bahwa perkawinan dan upacara-upacara keagamaan dapat dilaksanakan bukan untuk saling mengungguli ataupun saling merendahkan, tetapi dengan persamaan hak. Dalam perkawinan baik pria maupun wanita mampu saling menyenangkan dan dimana kedua kerabat masing-masing saling menghormati, hubungan semacam ini disebut sebagai hubungan yang semestinya.

Pada bab dua dibicarakan tentang cara meyakinkan gadis yang dinikahi. Dikatakan bahwa selama tiga hari pertama pernikahan, gadis dan suaminya harus tidur di lantai, berpantang dari kesenangan seksual dan menyantap makanan mereka tanpa membumbuinya baik dengan garam ataupun tidak. Dan selama sepuluh hari pertama suami harus melakukan sesuatu untuk menarik perhatian dan meyakinkan isteri tentang cinta dan kesetiaan suaminya, sebelum sang isteri yakin maka dilarang melakukan hubungan seksual.

Pada bab tiga dibicarakan tentang masa pacaran dan manifestasi dari perasaan dengan tanda-tanda dan perbuatan yang mengarah keluar. Dijelaskan bahwa seorang yang menyimpan perasaan cinta kepada seorang wanita akan selalu berusaha menyenangkan pasangannya dengan berbagai permainan dan percakapan yang layak bagi umur dan pengetahuannya, seperti memetik bunga, mengumpulkan, dan merangkainya. Semua hal dapat dilakukan untuk menarik perhatian orang yang dicintai.

Pada bab empat dijelaskan tentang hal-hal yang boleh dilakukan pria dan pencarian gadis serta hal-hal yang boleh dilakukan seorang gadis untuk mendekati pria. Dalam Kamasutra dijelaskan bahwa seorang pria dapat melakukan kebohongan apapun demi mendapatkan kasih gadis yang diinginkannya misalnya, mengatakan kalau akan ada berita penting yang harus disampaikan berdua saja, dan saat bertemu itulah sang pria mengutarakan rasa cintanya. Sementara itu, seorang gadis dilarang menawarkan dirinya, mengutarakan cintanya kepada seseorang pria walaupun dia sangat mencintainya. Seorang gadis dapat memilih pasangannya sendiri, atau menerima dijodohkan oleh orang tuanya karena kedua-duanya dibenarkan oleh agama.

Pada bab selanjutnya diceritakan tentang bentuk-bentuk perkawinan tertentu. Semua bentuk perkawinan sebagaimana tertulis dalam Manawadharmasastra, juga dibenarkan menurut Kamasastra termasuk melarikan wanita (gandharwa wiwaha). Dikatakan bahwa hasil dari semua perkawinan yang baik adalah cinta kasih dan bentuk perkawinan Gandharwa sangat dihargai walaupun itu terjadi dalam situasi yang tak diharapkan.

4. Bharyadhikarika (mengenai seorang istri)

Pada bagian ini diceritakan beberapa hal mengenai seorang istri. Pertama, tentang cara hidup seorang wanita yang bajik dan kebiasaannya selama suaminya tak ada di rumah. Atas seizin suaminya seorang wanita dapat melakukan semua tugas rumahtangga. Seorang wanita (isteri) dilarang berkumpul dengan pengemis wanita, bhiksuni Buddha, wanita tanpa kasta, wanita nakal, wanita peramal, dan dukun. Seorang istri tidak boleh berkata-kata kasar kepada suami meskipun dia merasa jengkel dengan tingkah laku suaminya. Seorang isteri juga berpantang mengungkapkan rahasia suami kepada siapapun. Seorang isteri wajib berdoa dan melakukan puasa pada waktu-waktu tertentu ditujukan kepada suami dan kebahagiaan ruamhtangganya. Jika suami pergi maka seorang isteri tidak diperkenankan memakai pakaian yang mewah dan mencolok sehingga mampu mengundah birahi orang lain yang bukan suaminya. Isteri yang mulia adalah yang bertindak sesuai dengan pencarian Dharma, Artha, dan Kama. Dia akan mendapatkan kedudukan tinggi dan biasanya tetap menjaga suaminya setia kepada mereka.

Pada bab selanjutnya dibahas tentang suami yang memiliki isteri lebih dari satu orang. Alasan seorang suami menikah selama isteri masih hidup adalah (1) karena ketololan dan sifat buruk dari isteri; (2) suaminya tidak menyukainya; (3) menginginkan keturunan (jika isteri mandul); (4) melahirkan anak perempuan saja terus-terusan; dan (5) tidak dapat memuaskan nafsu seks suaminya. Jika karena hal ini seorang suami menikah lagi maka sang isteri harus mengikhlaskannya dan sebaliknya sang isteri juga dapat menyuruh suaminya menikah lagi. Saat isteri kedua diboyong ke rumah maka isteri tua harus menempatkan dirinya di bawah isteri muda dan menganggapnya saudara.  Apabila terjadi pertengkaran antara isteri tua dan isteri muda maka suami berhak mendamaikannya. Seorang suami yang memiliki isteri lebih dari satu orang harus bersikap adil terhadap mereka semua.

5. Paradarika (mengenai istri orang lain)

Seorang pria dapat mendatangi isteri orang lain dengan alasan akan mendapatkan kemajuan dalam hidupnya misalnya, kekayaan. Dia dapat merayu sang wanita agar mau bercinta dengannya (selingkuh). Ada beberapa alasan rasional bagi seorang isteri yang didatangi pria lain untuk menolaknya, yaitu :

(1)   Cinta pada suaminya;

(2)   Menginginkan keturunan yang sah;

(3)   Menghendaki kesempatan baik;

(4)   Marah bila didekati oleh pria yang terlalu akrab;

(5)   Perbedaan tingkat hidup;

(6)   Menginginkan kepastian karena prianya sering berpergian;

(7)   Berpikir bahwa si pria mungkin terikat dengan beberapa wanita lainnya;

(8)   Takut akan ketidakpedulian pria menyimpan rahasia hubungannya;

(9)   Berpikir bahwa si pria terlalu setia dengan temannya;

(10)     Kekhawatiran bahwa si pria tidak bersungguh-sungguh;

(11)     Sifat pemalunya karena akan menjadi pria pembanding;

(12)     Takut karena akan menjadi kuasa atau memiliki nafsu yang sangat tergesa-gesa;

(13)     Sifat pemalunya karena keberadaanya yang sangat cerdik;

(14)     Pemikiran bahwa setelah sekali-kali hidup bersamanya hanya akan menjadi teman biasa;

(15)     Memandang rendah keinginannya akan pengetahuan dunia;

(16)     Tidak mempercayai karakter rendahnya;

(17)     Muak akan kehendaknya untuk mengetahui cintanya kepadanya;

(18)     Pada masalah wanita gajah, pemikirannya bahwa ia adalah pria terwelu;

(19)     Kasihan kalau sesuatu menimpanya karena nafsunya;

(20)     Kecewa atas ketidaksempurnaannya sendiri;

(21)     Takut diketahui orang lain;

(22)     Kecewa melihat rambut ubannya yang tampak kusut;

(23)     Takut bahwa ia mungkin diupah suaminya untuk menguji kesetiaanya;

(24)     Pemikiran bahwa ia terlalu memandang segi moralitas.

 

Walaupun sang wanita menolak seorang lelaki dapat terus melakukan pendekatan dengan cara-cara lain misalnya, dengan mengupah seorang kurir atau dengan usaha sendiri. Akan tetapi sesungguhnya pelajaran ini adalah untuk melindungi keluarganya sendiri karena dengan mengerti cara menaklukkan isteri orang lain maka suami akan mengerti gejala pada isterinya sendiri jika isterinya suka kepada orang lain. Dalam Kamasutra dijelaskan dalam sloka sebagai berikut.

Seorang pria yang cerdik, dengan belajar dari Sastra tentang cara menundukkan isteri orang lain tak pernah dapat dibohongi dalam hal isterinya sendiri. Bagaimanapun juga, tak seorangpun menggunakan cara ini untuk merayu isteri orang lain karena semuanya itu tak akan berhasil dan di samping itu sering menyebabkan bencana dan rusaknya Dharma dan Artha. Buku ini yang dimaksudkan demi kebaikan manusia dan untuk mengajar mereka cara untuk melindungi isterinya sendiri, hendaknya jangan dipergunakan semata-mata untuk menundukkan isteri orang lain”.

6. Waisika (tentang wanita penghibur kelas tinggi)

Dalam bab ini diceritakan tentang seorang wanita penghibur dan segala tipu dayanya untuk memikat hati seorang pria. Dalam dua buah sloka dijelaskan sebagai berikut:

“Ada beberapa orang wanita yang mencari cinta dan ada juga yang lainnya yang hanya mencari uang; bagi yang pertama, cara mencari cinta telah dibahas dalam bagian terdahulu dari karya ini, sementara cara mendapatkan uang seperti dilaksanakan para wanita penghibur, diuraikan dalam bagian ini.

 

Tugas seorang wanita penghibur terkadang dalam membentuk hubungan dengan pria yang cocok yang penuh perhatian dan yang mengikat orang-orang yang pernah berhubungan dengannya; dalam mencari kekayaan dari orang yang terikat dengannya dan kemudian melepaskannya setelah ia menguras habis kekayaannya”.

Dengan demikian seorang wanita penghibur akan merusak kebahagiaan rumahtangga. Bagaimanapun juga, seorang wanita penghibur tidak akan punya cinta dan kesetiaan pada seorang pria karena tujuan utamanya adalah memberikan kesenangan pada pria dan mendapatkan uang. Menurut Kamasutra yang tergolong wanita penghibur adalah : (1) wanita jalang (pelacur); (2) pelayan wanita; (3) wanita tak berkasta; (4) artis wanita; (5) gadis penari; (6) wanita yang telah meninggalkan keluarganya; (7) wanita yang hidup dengan kecantikannya; dan (8) wanita penghibur sebagai profesi yang dipilih.

7. Aupamisadika (mengenai seni merayu, obat kuat dan lain sebagainya).

Ini adalah bagian terakhir dari seni seksual Kamasutra. Bagian ini khusus membicarakan tentang obat-obatan dan magis yang dipelajari dari Weda yang pada dasarnya bertujuan untuk :

o Menambah daya pikat terhadap lawan jenis;

o Menambah kerupawanan sehingga orang lain tertarik, biasa digunakan oleh wanita penghibur.

o Meningkatkan kekuatan seksual.

o Menambah kenikmatan seksual (dengan menggunakan cincin dari besi, tembaga, emas, gading, dan lainnya yang dipasang di linggam).

o Memperbesar linggam dengan menggunakan ramuan dan resep-resep tertentu.

 

Hal ini dijelaskan dalam sebuah sloka sebagai berikut :

 

cara mendapatkan cinta dan kekuatan seksual harus dipelajari dari ilmu pengetahuan obat-obatan, dari Weda, dari mereka yang terpelajar dalam seni magis dan dari kerabat yang dapat dipercaya. Tak ada cara yang dapat dicoba yang efeknya meragukan, yang mungkin menyebabkan menyakiti badan, yang memerlukan membunuh binatang, atau yang memberi kita berhubungan dengan hal-hal yang tidak suci. Hanya cara semacam itu yang harus digunakan sebagai suci, yang dinyatakan baik dan dimufakati oleh para Brahmana dan kawan-kawan”.

Karena banyak sekali resep-resep dalam Kamasastra maka dalam tulisan ini hanya akan dibahas salah satu aspek saja, sedangkan aspek yang lain dapat dilihat dalam buku Kamasutra terjemahan I Wayan Maswinara (1997). Aspek yang dibahas adalah ramuan untuk menambah vitalitas atau kekuatan seksual karena di samping membahas Kamasutra, juga melihat perkembangan ilmu kesehatan (farmakologi) India yang disebut  Ayur Weda. Adapun resep untuk kekuatan seksual dalam Kamasutra adalah sebagai berikut.

(a)    Seorang pria mendapatkan kekuatan seksual dengan minum susu yang dicampur dengan gula, akar tanaman ucchata, chada, dan licorice (kayu manis).

(b)   Dengan minum susu yang dicampur dengan gula, ditambah dengan makan buah pelir kambing atau domba jantan yang direbus juga memiliki khasiat menambah kekuatan seksual.

(c)    Dengan minum sari Hedysarum Gangeticum, kuili, dan tanaman Ksrika yang dicampur dengan susu juga menghasilkan efek yang sama.

(d)   Biji cabai bersama-sama dengan biji Sansefieria roxburghiana dan Hedysarum ganggeticum yang semuanya ditumbuk bersama-sama dan dicampur dengan susu juga menghasilkan efek yang sama.

(e)    Menurut para penulis zaman dahulu, bila seorang pria menumbuk biji atau akar tanaman Terapa bispinosa, Srika, Tuscan jasmin, dan kayu manis bersama-sama dengan Kasirikapoli (sejenis bawang) dan menaruh bubuk tersebut ke dalam susu yang dicampur gula dan mentega (ghee) dan setelah didihkan di atas api sedang, minumlah pasta demikian terbentuk; ia akan mampu mengencani wanita berapapun banyaknya.

(f)     Dengan jalan yang sama, jika seorang pria mencampur beras dengan susu burung gereja dan setelah mennjerangnya dalam susu, tambahkan madu dengan mentega (ghee) dan minumlah sebanyak yang diperlukan akan menghasilkan efek yang sama.

(g)    Bila seorang pria mengambil bungkus terluar dari biji wijen dan merendamnya dengan telor burung Gereja, kemudian menjerangnya dalam susu yang dicampur gula dan mentega ghee, bersama-sama dengan buah tanaman Terapa Bispinosa dan Kasurika dan tambahkan tepung gandum dan kacang polog (buncis) kemudian minum komposisi ini. ia akan mampu mengencani wanita berapapun banyaknya.

(h)    Bila mentega ghee, madu, gula dan kayu manis dalam takaran yang seimbang sari tanaman Adas dan susu dicampur menjadi satu, komposisi seperti nektar ini dikatakan suci serta merangsang kekuatan seksual.

(i)      Dengan meminum pasta yang terdiri dari Asparagus Recemusus, tanaman Swadaustra, Guduchi, cabai dan kayu manis yang dijerang dalam susu, madu, dan mentega ghee di musim semi dikatakan memiliki efek yang sama seperti di atas.

(j)     Dengan merebus Asparagus Recemusus, dan Swadaustra, bersama-sama dengan tumbukan buah Premaspinosa dan meminumnya akan memiliki efek yang sama.

(k)   Dengan minum mentega ghee rebus atau keju cair pada musim semi dikatakan bermanfaat untuk kesehatan dan kekuatan serta enak dirasakan.

(l)      Bila bubuk biji Suadaustra dan tepung Jewawut dicampur bersama-sama dalam bagian yang sama dan sebagian daripadanya yang beratnya dua pala, dimakan setiap pagi bangun tidur akan memilikmi efek yang sama.

 

Demikian luas dan sempurananya Kamasutra dalam membahas tentang aspek seksualitas dan erotisme. Akan tetapi seluruh pengetahuan ini bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan rumah tangga yang sempurna bagi seorang grehastin. Di awal, Kamasutra membahas tentang 64 keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang suami dan isteri dalam mengarungi kehidupannya untuk mendapatkan Dharma, Artha dan Kama. Bagian kedua pembahasan tentang tata cara berhubungan seksual sehingga mendapatkan kepuasan yang sempurna. Bagian ketiga membahas tentang cara menarik perhatian wanita yang akan dijadikan isteri. Bagian keempat mengenai cara meyakinkan isteri di awal pernikahan sehingga isteri menjadi setia kepada suami. Bagian kelima mengenai cara mendekati isteri orang lain yang sesungguhnya bertujuan untuk menjaga isteri sendiri agar tidak selingkuh dengan orang lain. Bagian keenam berbicara tentang wanita penghibur dan segala tipudayanya untuk memikat dan memeras pria. Dan bab terakhir membahas tentang semua ramuan dan resep-resep yang berguna bagi peningkatan hubungan seksual untuk mendapatkan kebahagiaan sempurna dalam rumahtangga.

Tampaknya Kamasutra berusaha menjelaskan bahwa mengetahui sesuatu yang menurut orang tidak bermoral sama pentingnya dengan mengetahui yang bermoral karena dengan mengetahui yang tidak bermoral orang akan mengetahui yang bermoral. Dalam kehidupan rumahtangga, seksual (Kama) sama pentingnya dengan Dharma dan Artha karena ketiganya memberi kebahagiaan pada manusia.

 

2.4 Erotisme dan Seksualitas dalam Kitab Itihasa dan Purana

Perkembangan penulisan Kamasastra rupanya juga berkembang dalam beberapa kitab-kitab Itihasa dan purana. Meskipun tidak mesti bahwa kitab Kamasastra bercerita tentang seksualitas, namun sisi erotisme rupanya telah menginspirasi para Maharsi zaman dahulu untuk menjadi bagian dari ceritanya. Hal ini terkait dengan salah satu emosi yang ingin dibangun dari sebuah cerita, yaitu Srenggara Rasa atau rasa cinta dan birahi. Dalam Itihasa dan Purana terdapat beberapa kisah tentan Kama, Salah satunya adalah dalam Siwa Purana diceritakan sebagai berikut.

Sati adalah putri dari Daksa Prajapati dan pendamping pertama Siwa. Ia bersedih hati dan akhirnya meninggal karena ayahnya selalu menghina suami ilahinnya. Diceritakan bahwa Sati yang telah meninggal, terlahir kembali sebagai Parwati, yaitu putri Himalaya yang cantik jelita. Pada suatu saat, Siwa pergi ke gunung Himalaya untuk melakukan meditasi. Sementara itu seorang raksasa (danawa) yang bernama Taraka sedang menyerang para dewa di kahyangan dan rupanya tidak ada satupun dewa yang mampu mengalahkan kekuatan Taraka. Telah diramalkan sebelumnya bahwa yang akan sanggup mengalahkan Taraka itu hanyalah putra dari Dewa Siwa sendiri.

Melihat Dewa Siwa sangat khusuk dalam meditasinya maka para dewa kebingungan karena putra Siwa yang diharapkan akan mampu mengalahkan Taraka tak kunjung lahir. Dewa Indra mengutus Parwati agar mau menikahi Siwa kembali, yang sesungguhnya Parwati tidak ingin menikah dengan suami lainnya. Kemudian Parwati mendatangi Siwa dengan membawa persembahan, tetapi Siwa tidak tertarik dan bergeming dari samadhi-nya. Melihat itu semua maka Dewa Indra mengutus Dewa Kama untuk menggoda Siwa agara jatuh cinta dan muncul birahinya kepada Parwati. Mendengar perintah itu, segera Dewa Kama melepaskan panah asmaranya kepada Siwa, walaupun ini pekerjaan yang sangat beresiko. Dikisahkan bahwa panah asmara Dewa Kama terbuat dari bunga, sedangkan busurnya terbuat dari gula tebu dengan tali busur barisan lebah-lebah. Rupanya, kekuatan cinta dari Dewa Kama tidak dapat ditahan oleh siapapun, termasuk juga oleh Dewa Siwa.

Sang Maha Yogi (Siwa) merasa terganggu dengan tindakan Dewa Kama ini dan dengan penuh kemarahan Siwa membakar Dewa Kama dengan api yang keluar dari mata ketiganya. Melihat Siwa telah terbangun dari meditasinya maka Parwati segera mendekatinya. Siwa akhirnya memperhatikan Parwati dan jatuh cinta kepadanya. Pada suatu perkawinan agung maka Siwa dan Parwati menikah dan akhirnya melahirkan Dewa Skanda, dewa perang. Sesuai dengan ramalan maka Skanda-lah yang berhasil membunuh Taraka.

Di samping itu, dalam Matsya Purana diceritakan tentang gairah Dewa Brahma kepada Sawitri, putrinya. Alkisah, suatu ketika Manu bertanya kepada Wisnu yang saat itu ber­-awatar sebagai ikan raksasa (Matsya Awatara) tentang mengapa Dewa Brahma menjadi berkepala empat (catur mukha). Wisnu menjawab bahwa setelah Brahma menciptakan Weda, kemudian ia menciptakan 10 orang bijak hanya dari kehendak dan pikirannya saja. kemudian, ia menciptakan Dharma dari dadanya, Kama dari hatinya, kemarahan dari keningnya, ketamakan dari bibirnya, khayalan dari kecerdasannya, keangkuhan dari sifat angkuhnya, kegembiraan dari tenggorokannya, kematian dari matanya dan Rsi Bharata dari tangannya. Rupanya Brahma masih belum puas dengan semua ciptaannya itu, Ia bekehendak untuk menciptakan seseorang yang nantinya akan menggantikan tugasnya dalam mencipta. Ia mulai memanggil Dewi Gayatri, Sawitri, Saraswati, Brahmani dan nama-nama lainnya. Sang dewi yang tampil dalam wujud seorang gadis dari sisi kewanitaannya badan Brahma akan dijadikan putrinya. Kecantikan yang muncul dari ciptaannya itu sangat mengagumkan, dan Sang Pencipta (Dewa Brahma) yang dilanda asmara tak berkedip menatapnya sambil terus bergumam “sungguh merupakan perwujudan kecantikan yang sempurna”. Melihat itu semua, anak-anak Brahma yang diasuh oleh Bhagawan Wasistha marah dan muak terhadap sikap ayahnya kepada anak perempuannya. Akan tetapi Brahma yang telah demikian jauh jatuh cinta terus saja menatap Sawitri. Mulailah Sawitri berjalan mengelilingi Brahma dan Brahma terus menatapnya. Karena malu untuk memalingkan muka maka Brahma menciptakan tiga lagi kepala sehingga dia sekarang berkepala empat agar kemanapun Sawitri pergi dia dapat melihatnya. Sawitri kemudian pergi ke surga dan Brahma segera menciptakan kepala kelima, yaitu di atas namun itu tertutup oleh gelung rambutnya. Oleh sebab itulah Brahma kehilangan semua kesaktian dan kekuatan yang diperolehnya melalui pertapaan dan meminta kepada putra-putranya untuk mengembalikannya. Sebaliknya, Brahma sendiri mengikuti Sawitri dan menikahinya dan tinggal bersama di dalam Bunga Teratai selama seratus tahun.

 

Brahma yang dipenuhi rasa malu kepada putra-putranya merasa marah kepada Dewa Kama yang telah melepaskan panah asmaranya. Kemudian Brahma mengeluarkan kutukan bahwa Dewa Kama akan dibakar menjadi abu oleh Siwa jika melakukan hal yang sama kepada Siwa. Akan tetapi Dewa Kama menolak kutukan itu karena Dia sendiri diciptakan oleh Brahma dan diberi tugas oleh Brahma untuk melepaskan panas cinta kepada siapapun tanpa kecuali, termasuk juga Brahma. Akhirnya, Brahma mengabulkan permohonan Dewa Kama dan mengatakan bahwa suatu saat jika Dewa Kama terbakar menjadi abu oleh Siwa maka ia akan lahir kembali di keluarga Yadawa sebagai putra Krishna yang bernama Pradyumna.

Kisah tentang Dewa Kama rupanya juga melanda sang penguasa moralitas, Dewa Waruna. Karena pengaruh Dewa Kama inilah Waruna berbuat adharma. Konon, putri dari Soma yang bernama Bhadra, tak tertandingi kecantikannya dan Rsi Utathya telah dipilih sebagai suaminya. Setelah upacara perkawinan selesai dilaksanakan, Waruna pergi ke hutan, tempat tinggal Utathya untuk menculik Bhadra dan membawanya ke istananya yang megah, yang dikelilingi 600.000 danau nan indah dan obyek-obyek kenikmatan lainnya. Di istana tersebut Waruna bercinta dengan Bhadra. Ketika Rsi Utathya mengetahuai keberadaan istrinya dari Rsi Narada bahwa istrinya telah diculik oleh Waruna, maka ia memberitahu Narada dengan marah untuk meminta istrinya kembali. Narada berangkat ke istana Waruna sesuai dengan perintah Utathya, namun Waruna menolak mengembalikan Bhadra, bahkan Narada dilemparkan keluar rumahnya dengan keras. Mendengar ini semua, kemarahan Utathya tak terbendung lagi dan melalui kekuatannya ia membuat semua air menjadi kering. Seluruh danau yang berada di istana Waruna menjadi dataran tandus. Sungai Saraswati menjadi kering dan daerah di sekitarnya tidak lagi menjadi tempat suci. Sampai akhirnya, tempat tinggal Waruna sendiripun menjadi kering. Akhirnya, Waruna mengembalikan Bhadra kepada Utathya, dan sang Rsi sakti ini mengembalikan lagi keadaan dunia seperti semula. Waruna sadar atas kesalahannya dan terbebaslah dia dari segala kesedihannya.

 

Dalam kitab Mahabharata, khususnya Wanaparwa, bagian 45-46, juga diceritakan tentang Erotisme dan Seksualitas sebagai berikut.

Suatu saat Arjuna mendapatkan kehormatan dari Dewa Indra untuk berkunjung ke kahyangan Indra yang mahaindah. Arjuna tinggal di sana selama lima tahun dan selama itu dia banyak mendapatkan ilmu berperang dari Dewa Indra, juga beberapa senjata sakti dari para dewa. Dewa Indra mengetahui bahwa Arjuna sering memandang para bidadari cantik (apsari) yang ada di kahyangan dan hal ini membuat Dewa Indra senang karena saat Arjuna belajar bagaimana cara bertingkahlaku dalam pergaulan dengan para wanita. Oleh karena itu Dewa Indra mengutus seorang apasari yang bernama Urwasi untuk menggoda sang Arjuna. Atas perintah Dewa Indra maka Dewa Kama melepaskan panah asmaranya kepada Urwasi sehingga Urwasi merasakan jatuh cinta yang dalam kepada Arjuna. Kemudian diceritakan tentang apa yang dilakukan Urwasi ketika akan mengunjungi tempat tinggal Arjuna.

Dan setelah mandi ia mempercantik dirinya dengan perhiasan-perhiasan indah dan rangkaian bungan surgawi yang harum semerbak. Dan dikobarkan oleh dewa cinta dan hatinya yang tertusuk dalam oleh anak panah yang diluncurkan oleh Dewa Kama. Dengan membayangkan ketampanan Arjuna, secara mental ia membayangkan bercinta dengannya di tempat tidur yang lebar dan indah, yang dihiasi dengan sprei surgawi. Dan ketika senja telah berganti malam dan sang rembulan telah muncul, apsari yang berpinggul besar ini keluar untuk mencari tempat tinggal Arjuna. Dan dalam situasi seperti ini dengan rambut panjang berombak, yang di sana terajut banyak bunga Melati, ia benar-benar tampak cantik sekali. Dengan kecantikan dan keanggunan serta daya tarik gerakan alis matanya dan dari suaranya yang lembut serta wajahnya bersinar bagaikan bulan, dia tampaknya menantang bulan sendiri, karena bulan telah meluncur dari keanggunannya. Dan ketika berjalan, payudara yang berputing hitam meruncing dengan indahnya yang dihias dengan kalung emas serta dilumuri pasta harum kayu cendana, berguncang ke atas dan ke bawah. Dan akibat dari berat payudaranya maka pada setiap langkah dia berusaha sedikit menunduk, yang membuat tiga lipatan pembungkus pada pinggangnya yang ramping tampak indah. Dan pahanya yang berbentuk sempurna, tempat kuil dewa cinta yang mengembang bagaikan sebuah bukit, yang dilengkapi dengan pinggul bulat, pangkal paha tinggi dan ramping, yang dihias dengan renda-renda keemasan, dibungkus oleh pakaian tipis namun mampu menggoyahkan kesucian para Rsi, yang tampak sangat anggung sekali. Pergelangan kakinya yang dihiasi dengan tumpukan barisan genta-genta kecil, memiliki jari-jari panjan berwarna tembaga melengkung bagaikan punggung kura-kura. Dan disegarkan oleh sedikit minuman keras yang diteguknya dan digairahkan oleh keinginan dan oleh berbagai tipu daya lembut dan yang menampilkan sensasi kesenangan, dia tampak lebih cantik dari sebelumnya. Dan walaupun surga dipenuhi dengan keajaiban-keajaiban, namun bila Urwasi pergi dengan cara seperti itu maka para Siddha, Carana, dan Gandharwa menganggapnya sebagai keajaiban yang terindah yang pernah mereka saksikan. Dengan bagian  atas badannya yang diututupi pakaian bercorak indah yang berkilauan dengan warna-warna awan, dia tampak bagaikan bulan sabit di langit yang meluncur diselimuti awan. Dan dengan kecepatan bagaikan angin atau pikiran demikianlah dia yang tersenyum ramah dan cerah itu mendatangi putra Pandu, Arjuna. Dan setelah mendapat izin maka ia memasuki istana yang indah dan menyenangkan itu. Dengan pikiran yang dipenuhi keragu-raguan yang mencemaskan hatinya, Arjuna menemuinya pada malam itu. Dan segera setelah sang Partha memandang Urwasi, ia menurunkan tatapan matanya atas dasar kesopanan dan dalam kemudian memberikan salam, Ia menunjukkan pada para apsara penghormatannya yang dipersembahkan pada orang yang berkedudukan lebih tinggi. Arjuna berkata, “Wahai, engkau apsari yang utama, aku menundukkan kepalaku dihadapanmu untuk memberikan salam penghormatan. Aku menunggumu sebagai pelayanmu”.

 

Dengan kata-kata ini, Urwasi sepenuhnya terperanjat dan memberitahu Arjuna bahwa selain karena perintah Dewa Indra, dia datang juga karena dilanda panah asmara yang tak terbendung untuk berkasih-kasihan dengan sang Arjuna. Mendengar itu semua Arjuna tetap menolaknya seraya berkata “Jika aku menatap engkau, aku merasakan menatap seorang ibu, ibu yang agung”. Urwasi membalasnya bahwa seorang apsari bebas mencintai siapapun dan bebas bercinta dengan siapapun karena apapun yang mereka lakukan telah terbebas dari semua pahala. Sementara itu, Arjuna tetap berkeras hati bahwa seorang apsari adalah orang tua, leluhur yang patut dihormati dan menjadi tujuan penghormatan dari wangsanya. Urwasi menjadi frustasi dan dengan marah mengeluarkan kutukan kepada Arjuna. “Hai, Partha karena engkau telah menolak wanita yang telah datang kepadamu atas kehendak orang tuamu dan atas kehendaknya sendiri karena wanita ini telah tertembus panah Dewa Kama, maka engkau akan melewatkan waktumu dalam perkumpulan dengan para wanita, sifat laki-lakimu akan berkurang dan terhina sebagai seorang waria”. Kutukan inilah yang nantinya terjadi pada Arjuna dalam pengasingannya di negeri Wirata di mana dia menjadi seorang waria dan berkumpul dengan banyak wanita (dikutip dari Maswinara, 1997: 26-34).

Banyak cerita-cerita lain tentang kisah cinta di antara para dewa dan manusia yang ditulis dalam Itihasa dan Purana. Cerita-cerita dalam kesusasteraan India seperti, Raja Samwarna dan Tapati, Nala dan Damayanti, Sakuntala, Krishna dan Radha, hanyalah sebagian kecil saja dari sekian banyak cerita-cerita sejenis (Maswinara, 1997: 35). Lebih lanjut dikatakan bahwa cerita-cerita tentang Kama di India, khususnya dalam Itihasa dan Purana tidak hanya melukiskan sebuah erotisme dan seksualitas, tetapi juga diceritakan bahwa Kama adalah sumber kesedihan misalnya, dalam cerita Rama dan Sita. Diceritakan bahwa Walmiki menceritakan kesedihan sang Rama sepeninggal Sita dengan melukiskan kenangan-kenangan indah Sri Rama saat bekasih-kasihan dengan Sita. Dalam hal ini, Walmiki ingin menggugah sentimen karuna (kesedihan) dalam karya sastranya. Emosi sedih (soka) yang membangkitkan rasa karuna (kesedihan) dipadukan dengan apik oleh para Pujangga India dengan suasana rati (cinta) dan rasa srenggara (birahi/erotik/kecintaan) sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan (Sudharta, 2006; Yasa, 2006). Hal ini menggambarkan bahwa kama menurut susastra Hindu mempunyai dua pengaruh bagi manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Kama dapat membawa manusia pada rasa indah, penuh cinta kasih, sekaligus mampu membawa manusia pada kesedihan. Kama yang membawa kebahagiaan adalah kama yang didasari dengan dharma, sebaliknya kama yang membawa kesedihan adalah kama yang melenceng dari ajaran-ajaran dharma.

Demikian banyaknya kesusasteraan Hindu yang membicarakan mengenai seksualitas dan erotisme maka tidak dapat diragukan lagi bahwa seksualitas dan erotisme adalah hal yang sakral dalam Hindu. Oleh sebab itu ditegaskan bahwa Kamasastra penting bagi para grehastin untuk mencapai kebahagiaan lahir batin, jagadhita dan moksa.

2.5 Kamasastra di Indonesia

Telah diuraikan di atas bahwa kamasastra tidak saja hanya berkembang di India, melainkan juga di Indonesia. Banyak sekali karya sastra spiritual yang membicarakan tentang seksualitas dan erotisme. Berikut ini akan diambil kutipan-kutipan dari beberapa karya sastra Jawa Kuna yang dengan lugas melukiskan tentang seksualitas seperti halnya kamasastra di India.

1. Lontar Siwagama

Lontar Siwagama banyak menceritakan tentang seksualitas dalam bentuk mitos-mitos, khususnya mitos tentang Bhatara Siwa (Bhatara Jagadpati) dan Bhatari  Durga (Dewi Uma) sebagai tokoh utama dalam cerita ini.

Pertama, dikisahkan Bhatara Jagadpati (Bhatara Guru / Bhatara Siwa) turun bersama Dewi Uma di bagian timur gunung Mahameru. Ada bukit menjulang di atas laut sebelah timur, Njung Salaga namanya. Di sana beliau membangun asrama. Tiba-tiba Bhatara Guru melakukan senggama yang tidak pantas terhadap Dewi Uma sehingga Dewi Uma marah, malu melihat perilaku Bhatara Guru sebab bukan waktunya melakukan senggama. Waktu itu adalah senjakala, ketika Dewi Uma disetubuhi oleh Bhatara Guru. Oleh karena itu, lahirlah putra Beliau yang berwajah menakutkan, dinamakan Bhatara Kala oleh Bhatara Guru (Utama, 2004: 53).

Kedua, dikisahkan Bhatara Guru dan Dewi Uma pergi ke Barat membangun pertapaan (amangun ayu). Tempat ini diberi nama Manguyu. Kembali beliau bertemu asmara di sana, sama-sama besar keinginannya karena keduanya memuja Kama Ratih. Bhatari pun hamil, lalu lahirlah anak beliau laki-laki dan perempuan yang sangat rupawan membuat Bhatari amat senang. Anaknya diberi suguhan nasi beras kuning dan diberi nama Bhatara Smara Ratih oleh Bhatara Guru. Lalu Bhatara Guru kembali bertapa (Utama, 2004: 54).

Ketiga, dalam Lontar Siwagama juga diceritakan tentang kisah perselingkuhan antara Dewi Uma dengan Rare Angon sebagai berikut. Suatu saat Dewi Uma ingin mendapatkan ajaran dari Bhatara Guru atau Dewa Siwa. Sebelum diberikan ilmu pengetahuan suci Bhatara Guru ingin terlebih dahulu menguji kesetiaan Dewi Uma. Sehubungan dengan itu Dewi Uma disuruhnya untuk mencari susu lembu hitam betina. Dewi Uma akhirnya pergi ke bumi untuk mencari susu lembu hitam. Sementara itu Bhatara Siwa juga turun ke dunia menjelma menjadi Rare Angon. yaitu penggembala lembu hitam. Ringkas cerita keduanya lalu bertemu dan Dewi Uma menyampaikan maksud kedatangannya untuk membeli susu lembu hitam tersebut. Namun, keinginan Dewi Uma ditolak oleh Rare Angon. Dibayar berapapun Rare Angon tidak akan memberikan susu lembunya, kecuali bila Dewi Uma bersedia melayaninya bersenggama. Karena dihadapkan oleh pilihan yang sulit maka Dewi Uma mau melayani Rare Angon bersenggama untuk mendapatkan susu. Susu tersebut selanjutnya dibawa terbang ke surga untuk diberikan kepada Bhatara Guru. Bhatara Guru kemudian memanggil putranya Sanghyang Gana untuk menyelidiki perjalanan ibunya hingga mendapatkan susu itu. Gana kemudian mengambil pusaka tenung pemberian Bhatara Guru. Melalui mantra-mantra Sanghyang Gana, akhirnya tampak bahwa Dewi Uma bersenggama dengan Rare Angon. Dewi Uma menjadi sangat marah sehingga berubah wujud menjadi Durga. Akibat api kemarahannya itu, akhirnya pustaka tenung Sanghyang Gana terbakar menjadi abu (Utama, 2004: 72).

Keempat, bagian dari Siwagama yang lain juga menceritakan kisah Dyah Mayakresna yang doyan berganti-ganti pasangan. Bahkan, pada malam paro terang keempat belas dia bersenggama dengan dua orang laki-laki sekaligus yang bernama Sang Bajradaksa dan Sang Bajrangkara. Mereka sedang bersenggama di bawah pohon Angsoka. Tanpa mereka sadari perbuatan itu diketahui oleh Bhatara Guru yang sedang melakukan perjalanan ke hutan Nandana. Bhatara Guru sangat marah melihat kejadian itu dan ketiganya kemudian dikutuk menjadi Dhanggi sehingga wajahnya berubah menakutkan. Wajah Dyah Krenamaya menjadi putih kekuningan dan dinamakan Sang Batur Kalika. Sang Bajradaksa berubah menjadi Bhuta Ijo, sedangkan Sang Bhajrangkara berubah menjadi Bhuta Abang. Mereka inilah yang disebut Durga Buchari, Bhuta Buchari dan Kala Buchari (Utama, 2004: 72).

Cerita di atas  mengajarkan bahwa persetubuhan atau senggama haruslah berdasarkan atas kesucian hati, melalui perkawinan yang resmi dan tidak  melanggar pantangan-pantangan. Ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh orang yang melakukan senggama, antara lain bersenggama waktu sandyakala, parwadina (hari-hari saat dilaksanakan upacara yadnya), pada hari piodalan atau otonan suami maupun istri, saat istri menstruasi, bulan purnama dan tilem, hari-hari yang jatuhnya bertepatan dengan pertemuan antara hari Selasa, Rabo, dan Sabtu (Saptawara) dengan Kliwon (Pancawara). Di samping itu, juga dianggap kurang baik untuk melakukan senggama pada hari raya Nyepi, Siwaratri, Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Pagerwesi (Nala, 1999: 13). Menurut lontar tersebut, juga dilarang melakukan perselingkuhan, seks bebas, perkawinan dengan saudara (gamia gamana) dan sebagainya.

2. Lontar Smaradahana

Pada suatu saat surga tempat para dewa diserang oleh raksasa yang sangat sakti bernama Nilarudraka. Tak ada dewa yang mampu mengalahkannya, termasuk dewa Brahma dan Wisnu. Wrhaspati penasehat para dewa meramalkan bahwa hanya putra Siwa dengan Dewi Uma yang akan mampu mengalahkannya. Sementara itu Siwa sedang melakukan tapa yang amat kuat sehingga ia tidak tertarik pada apapun termasuk kecantikan Dewi Uma istrinya. Dicarilah daya upaya agar Siwa mau menghentikan tapanya.

Untuk itu Dewa Kama ditugaskan membatalkan tapa Dewa Siwa. Dengan panah asmara yang dimiliki Dewa Kama, tapa Dewa Siwa dapat digagalkan. Namun, Dewa Siwa menjadi amat marah sehingga berubah wujud menjadi Triwikrama dan membakar Dewa Kama dengan api kemarahannya. Mengetahui suaminya meninggal, Dewi Ratih-istri Dewa Kama- akhirnya ikut menceburkan diri ke dalam api hingga tewas. Selanjutnya para Dewa mohon agar keduanya dihidupkan kembali karena mereka hanya melaksanakan tugas yang diberikan para Dewa demi menjaga keselamatan surga dari Nilarudraka. Permohonan itu dipenuhi oleh Dewa Siwa, tetapi mereka diberikan kesempatan hidup tanpa badan. Dewa Kama kemudian memasuki tubuh Dewa Siwa, sedangkan Dewi Ratih masuk dalam tubuh Dewi Uma. Akibatnya, Dewa Siwa menjadi sangat bergairah melihat kecantikan Dewi Uma yang telah dirasuki oleh Dewi Ratih. Dewa Siwa, juga memberikan kesempatan pada Dewa Kama dan Ratih untuk memasuki hati sanubari remaja laki-laki dan perempuan di dunia sehingga ketika mereka mulai akil balig akan tertarik pada lawan jenisnya (Zoetmulder, 1983: 369).

Dari paparan di atas tampak bahwa Kama dan Ratih adalah penyebab munculnya gairah asmara dalam diri setiap makluk. Karena Kama dan Ratih inilah muncul cinta terhadap lawan jenisnya sehingga eksistensi manusia mungkin untuk dipertahankan. Anak yang telah akil balig (Menek Kelih) harus dimatangkan cinta dan seksnya melalui upacara agama (manusa yadnya: upacara Menek Kelih dan Pawiwahan) sehingga anak benar-benar siap memasuki dunia grehasta.

3. Kakawin Arjunawiwaha

Kakawin Arjunawiwaha digubah oleh Mpu Kanwa sebagai sastra spiritual yang menceritakan tentang Arjuna di kahyangan para dewa untuk mengalahkan seorang raksasa yang bernama Niwatakawaca. Setelah dia dapat mengalahkan Niwatakawaca maka Dewa Indra menganugerahkan berbagai macam kesenangan surgawi termasuk bidadari-bidadari surga. Pada bagian inilah dipaparkan sisi erotisme dan sensualitas sebagai berikut.

Dewi Supraba yang diajak berbicara merasa tertegun dan hanya pasrah. Berpura-pura lemas dan sebagai jawabannya adalah rintihan disertai sedu sedannya. Setelah lipatan kain dalamnya didapat, segera ditelanjangi dan kemudian ditindih. Mata mereka memancarkan nafsu birahi saling pandang tanpa berkedip.

Pupuh XXX, bait 10

 

Usia dijamah, Dewi Supraba merasakan hatinya seperti melayang, lalu termenung di luar peraduan. Menangis menunduk sambil mengapus-apus keringat yang mengucur sampai ke liuk pinggangnya. Beliau hanya berselimut kain karena jijik melihat kain dalamnya basah. Begitu pula pahanya yang bagaikan buluh kuning tampak jernih berkilau sampai ke betis.

Pupuh XXX, bait 11

 

Berdenyut-denyut jantung sang Arjuna merayu Dewi Tilotama. Puas hatinya memandang Diah Tilotama yang telah menyerahkan diri merelakan diraba-raba susunya. Dengan gembira beliau memangku serta mencium pipi dan memperbaiki sanggulnya yang terurai. Setelah memberikan sepah sirih, Sang Arjuna lalu berkata sambil merapatkan dirinya.

 

 

 

Pupuh XXXII, bait 1

Sungguh benar mustahil tidak akan gemetar ketakutan karena dirusak kehormatannya oleh Sang Arjuna. Ketakutan bagaikan melihat benda yang bentuknya seperti hulu keris ki dalang. Dalam keadaan pasrah, hanya mendesah berhenti menolak. Karena baru kali ini merasa lega yang tak terucapkan.

Pupuh XXXIV, bait 1

 

4. Lontar Rahasya Sanggama

Lontar ini dimungkinkan ditulis sekitar abad ke-18 dan 19 Masehi. Namun masih belum terlacak darimana pengetahuan seks itu didapatkan. Boleh jadi ia berasal dari kitab-kitab Kamasastra yang berasal dari India meskipun tidak berarti masuknya ke Indonesia dalam bentuk buku (Utama, 2004: 104). Apabila disepakati bahwa dalam lontar-lontar tersebut terekam pengetahuan dan pandangan orang Bali tentang seks, kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pengetahuan mereka tentang seksualitas sudah sangat maju. Dalam Rahasya Sanggama misalnya disebutkan:

“Nihan rahasya sanggama tiga lwirnya angguliprawesa, purusa prawesa, jihwaprawesa,……….”

 

Artinya:

Inilah rahasia senggama, tiga banyaknya yaitu angguliprawesa, purusaprawesa, dan jihwaprawesa…..”

Maksud dari ungkapan ini bahwa untuk mendapatkan kepuasan seksual yang sempurna orang bisa memanfaatkan jari-jari tangannya (angguliprawesa), lidahnya (jihwaprawesa) dan alat kelaminya (purusaprawesa). Dalam lontar ini dijelaskan pula tentang teknik-teknik hubungan seksual. Seorang pria yang bijaksana harus berusaha agar pihak wanita dapat mencapai puncak kenikmatan (klimas terlebih dahulu) ketika berhubungan seksual. Ia tidak boleh egois hanya mementingkan kenikmatannya sendiri. Caranya adalah dengan menggunakan jari-jari tangan, lidah, dan alat kelaim secara maksimal untuk membuat istri orgasme. Di samping itu, juga diajarkan tentang gerakan-gerakan yang harus dilakukan ketika melakukan senggama.

 

Untuk mendapatkan kepuasan seks yang maksimal, baik bagi istri maupun suami maka vitalitas seksual menjadi aspek yang tidak dapat dikesampingkan. Hal ini juga dibahas dalam lontar Rahasya Sanggama, sebagai berikut:

Panglanang, sa., palit pandan katih, temu ireng 3 reb, mrica 21 besik pinipis, duhnya alapen tinahap, ma,. Sanghyang Taya, Bhatara aneda usadanira, sariraningulun, abalung wesi, akulit tembaga, aotot kawat, teka let, Om Am, Ah, Na, Ma, Si, Wa, Ya, Sanghyang Tuguwesi mungguh ring purusku, Sanghyang Tuguwesi akas ring purusku, Sanghyang Pansuranwesi lenging purusku, empet titi sariraku, Sang Purusangkara dah agung, akas dahat, manjing akas, adawa metu, akas adawa, teka let 3 (Rahasya Sanggama, 6b).

 

Artinya :

Panglanang (untuk vitalitas seksual laki-laki) memakai sarana, 3 batang akar pandan, temu ireng 3 iris, merica 21 butir, dihaluskan dengan cara diiris tipis-tipis, lalu diminum, mantranya : Sanghyang Taya, Bhatara Aneda Usadanir, Sariraningulun, abalungwesi, akulit tembaga, aotot kawat, teka let, OM Am, Ah, Na, Ma, Si, Wa, Ya, Sanghyang Tuguwesi mungguh ring purusku. Sanghyang Tuguwesi akas ring purusku Sanghyang Pansuranwesi lenging purusku empet titi sariraku, Sang Purusangkara dah agung, akas dahat, manjing akas, adawa metu, akas adawa, teka let 3 (Teka Let dibaca 3 kali, pen).

Di samping masalah panglanang (vitalitas seksual laki-laki) dalam lontar ini juga dijelaskan tentang pangurip kama sebagai berikut:

Pangurip kama, sa., ketan gajih binubur, wori duwegan ijo kumaringet, duhi minak, tahap, ma., Om Bima sakti bayu purusa ping 3.

Artinya:

Ketan gajih dijadikan bubur, dicampur dengan kelapa muda yang masih encer, diberi minyak kelapa lalu diminum. Mantranya “Om Bima sakti bayu purusa, 3 kali.

 

Demikianlah Kamasastra Indonesia mengulas seksualitas dengan lugas, terbuka dan puncaknya adalah untuk menemukan kebahagiaan berumahtangga dengan meningkatkan kualitas seksual. Apabila diamati dari beberapa karya sastra di atas bahwa seksualitas menurut Hindu pada dasarnya sakral.

 

 

 

2.6 Tujuan Seksualitas Menurut Kamasastra

Gunawan (1993: 8) menyatakan bahwa berdasarkan tujuannya hubungan seksual (sex acts) dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu (1) untuk mendapatkan keturunan (sex as procreation), (2) untuk sekedar mencari kesenangan (sex as recreation), dan (3) sebagai bentuk ungkapan penyatuan rasa, misalnya rasa cinta (sex as relational). Bertolak daru pandangan ini bahwa seksualitas menurut kamasastra sesungguhnya memiliki tujuan yang kurang lebih sama. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut.

Pertama (sex as procreation), dalam Adiparwa diceritakan bahwa sang Jaratkaru, seorang pertapa yang sangat sakti sehingga mempunyai kemampuan untuk mengunjungi surga. Sesampainya di sorga dia menemukan leluhurnya sedang tergantung pada buluh petung dengan muka tertelungkup, kakinya diikat, sedangkan di bawahnya jurang yang sangat dalam, yaitu jalan menuju neraka. Sementara itu seekor tikus terus menggigit buluh petung itu sehingga nyaris putus. Melihat itu Sang Jaratkaru terkejut dan merasa terpukul. Dia menanyakan kepada leluhurnya tentang hal itu dan mendapatkan jawaban bahwa semua itu karena Sang Jaratkaru tidak meneruskan keturunannya sehingga garis keturunannya putus. Mendengar itu semua sang Jaratkaru akhirnya memutuskan untuk menikah dan memiliki seorang anak bernama Astika. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tujuan utama hubungan seks menurut Hindu adalah untuk mendapatkan anak atau keturunan.

Kedua (sex as recreation), hal ini telah dibahas tuntas dalam Kamasutra Watsyayana, di sana diungkap tuntas mengenai cara-cara berhubungan seksual untuk mencapai puncak kenikmatan. Dalam Kamasutra dijelaskan sebagai berikut:

“Kama adalah semua kenikmatan terhadap sesuatu objek yang didapatkan melalui kelima indra, yaitu pendengaran, perasaan, penglihatan, persentuhan dan penciuman yang dibantu oleh pikiran bersama-sama dengan jiwa. Bahan-bahan dalam hal ini adalah suatu hubungan khusus antara organ indra dan objek-objeknya dan kesadaran dari rasa senang yang timbul dari sebuah hubungan, ini disebut Kama”(Maswinara, 1997:57).

 

Hubungan seks dengan tujuan mendapatkan kesenangan bukan merupakan hal yang tabu dalam agama Hindu. Menurut Kamasastra hubungan seks itu bukan sesuatu yang mesti ditabukan, tetapi ada norma-norma yang mesti diikuti berkenaan dengan hal itu. Salah satunya adalah hubungan seks harus dilakukan atas dasar perkawinan yang sah menurut agama (dharma agama) dan hukum-hukum negara (dharma negara).

Ketiga (sex as relational), hal ini tidak terlalu sulit untuk dipahami, tetapi seringkali disalahgunakan oleh para lelaki untuk membohongi pasangannya. Hanya atas dasar cinta seorang perempuan mudah sekali didustai untuk mau melakukan hubungan seks dengan laki-laki yang bukan suaminya. Dalam Hindu diajarkan bahwa hubungan seks memang harus didasari atas rasa cinta. Hal ini dapat dilihat dari cerita mengenai cerita Sanghyang Kama dan Dewi Ratih yang memasuki tubuh Dewa Siwa dan Dewi Uma sehingga dalam diri beliau berdua tumbuh rasa cinta (rati) yang akhirnya membangkitkan rasa birahi (srenggara rahsa). Akan tetapi rasa cinta ini harus terus dipupuk pada masa berumahtangga sehingga antara suami dan istri saling setia, karena kesetiaanlah yang menentukan kebahagiaan rumahtangga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal mengenai Kamasastra sebagai berikut.

-          Kamasastra adalah kitab suci Hindu yang membahas tentang Kama baik sebagai dasar sekaligus tujuan hidup manusia bersama-sama dengan dharma, dan artha (Tri parartha). Kamasastra pada awalnya lahir di India, tetapi dalam perkembangannya juga memberikan inspirasi bagi para pujangga di Indonesia untuk menyusun karya-karya serupa.

-          Pada prinsipnya Kamasastra lebih banyak membahas mengenai seksualitas menurut Hindu karena seksualitas adalah salah satu esensi Sang Hyang Widhi Wasa sebagai simbol penciptaan semua makluk yang dipersonifikasikan sebagai Ardhanareswari, Purusa-Prakerti, Lingga-Yoni, Sukla-Swanita, Kama-Ratih, yang semuanya menyatakan bahwa seksualitas menurut Hindu adalah suci.

-          Hubungan seks adalah suci sehingga harus dilaksanakan oleh pria dan wanita yang telah disucikan hubungannya melalui ikatan perkawinan.

-          Seksualitas juga harus mengindahkan pantangan-pantangan serta norma-norma seksual yang berlaku. Pantangan-pantangan itu antara lain : bersenggama waktu sandyakala, parwadina (hari-hari saat dilaksanakan upacara yadnya), pada hari piodalan atau otonan suami maupun istri, saat istri menstruasi, bulan purnama dan tilem, hari-hari yang jatuhnya bertepatan dengan pertemuan antara hari Selasa, Rabo, dan Sabtu (Saptawara) dengan Kliwon (Pancawara). Di samping itu, juga dianggap kurang baik untuk melakukan senggama pada hari raya Nyepi, Siwaratri, Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Pagerwesi. Menurut lontar Siwagama tersebut, juga dilarang melakukan perselingkuhan, seks bebas, perkawinan dengan saudara (gamia gamana) dan sebagainya.

-          Kamasutra karya Watsyayana, dianggap sebagai salah satu karya Kamasastra terbaik selama ini memberikan pandangan-pandangan yang luar biasa tentang seksual. Kitab tersebut pada dasarnya menjelaskan tentang cara-cara berhubungan seksual sehingga mendapatkan kenikmatan seks yang bertujuan untuk kebahagiaan hidup berumahtangga (grehasta).

 

3.2 Saran-Saran

-          Seksualitas menurut Hindu adalah sakral sehingga tidak layak dilakukan oleh mereka yang belum menikah. Oleh sebab itu perlu disosialisasikan kepada masyarakat tentang hal ini sehingga tidak terjadi lagi tindakan-tindakan seperti seks bebas, perselingkuhan, pelacuran dan sebagainya.

-          Salah satu faktor kebahagiaan rumahtangga adalah kepuasan seksual. Untuk itu Kamasastra perlu disosialisasikan kepada para pasangan suami istri sehingga mengerti, memahami, dan selanjutnya mempraktekkan cara-cara berhubungan seksual untuk mendapatkan kepuasan sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Astra, I Gde Semadi, dkk. 1989. Kamus Sansekerta – Indonesia. Denpasar: Pemerintah Daerah Propinsi Bali.

 

Badudu, J.S. & Moch. Zein, 1994. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

 

Gunawan, Rudy, 1993. Filsafat Sex. Yogyakarta: Bentang Intervisi.

 

Maswinara, I Wayan. 1997. Kamasutra : Asli Dari Watsyayana. Surabaya: Paramita.

 

Putra, I Gst. Agung Gde, dkk. 1985/1986. Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Bali. Denpasar: Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.

 

Somvir. 2001. 108 Mutiara Veda Untuk Kehidupan Sehari-hari. Surabaya: Paramita.

 

Sudharta, Tjok., Rai. 2006. Weda Sruti; Smerti; Dharma dan Sastra Sansekerta; dll. Kumpulan Materi Kuliah Weda. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia.

 

Sura, I Gede dkk. 2002. Kajian Naskah Lontar Siwagama. Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi Bali.

 

Utama, I Wayan Budi. 2004. Seksualitas Dalam Brahma Widya (Teologi) dan Tradisi Hindu di Bali: Tesis. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia.

 

Warna, I Wayan, dkk. 1988. Kakawin Arjuna Wiwaha. Terjemahan. Denpasar: Dinas Pendidikan Propinsi Daerah Tingkat I Bali.

 

Yasa, I Wayan Suka. 2006. Teori Rasa: Memahami Ungkapan Estetik Para Kawi. Denpasar: Penerbit Widya Dharma dan Fakultas Ilmu Agama UNHI Denpasar.

 

Zoetmulder, P.J. 1983. Kalangwan: Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,

Angayubagya kami haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widdhi Wasa atas segala anugerahNya telah menurunkan ilmu pengetahuan suci Kāmaśāstra bagi kebahagiaan manusia di mayapada ini. Atas kama yang telah Beliau berikan maka penulis dapat menyelesaikan karya ini sebagai dharma seorang sisya dan karya kecil ini akan menjadi artha paling berharga bagi penulis sebagai widya yang menerangi kehidupan sepanjang masa.

Sebuah keraguan menyeruak dalam lubuk sanubari penulis karena akan menulis hal yang sangat rahasia dan sering dihujat umum, sekaligus dipuja dan dicari oleh banyak orang. Itulah Kāmaśāstra, yang menelanjangi seksualitas manusia sampai ke kedalaman yang tak lagi terjangku oleh pikiran manusia. Dalam sastra nan suci inilah, hubungan ilahi Siwa-Parwati, Kama-Ratih diejawantahkan ke dunia nyata selayaknya suami-isteri yang sedang memadu kasih, menikmati persetubuhan, dan akhirnya terhempas dalam puncak kenikmatan surgawi ketika kama telah diraih. Akhirnya, karya ini menyampaikan pesan para dewa untuk para grehastin agar senantiasa menjaga biduk rumahtangga di atas landasan dharma, artha, dan kama untuk mencapai kebahagiaan abadi, moksa.

Tan hana wwang swasta anulus………….

Itulah secarik kalimat yang tepat diucapkan terhadap tulisan ini karena jauh dari sempurna. Itu semua kami sadari karena keterbatasan sumber dan kurangnya pemahaman kami terhadap karya suci ini. Akan tetapi kami yakin tulisan ini bermanfaat, setidaknya untuk menambah koleksi perpustakaan di lemari buku para pembaca yang budiman. Akhirnya, tiada gading yang tak retak, mohon maaf atas segala salah. Semoga sidang pembaca yang terhormat berkenan memberikan kritik dan saran sebagai pertanda anda telah membaca karya kecil ini.

 

Om Santih Santih Santih Om

Penulis

 

Kāmaśāstra

Oleh

NANANG SUTRISNO, S.Ag

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

DENPASAR

2007

Oleh: dhanuwangsa | November 23, 2010

HARI RAYA SIWARATRI

HARI RAYA SIWARATRI

Oleh : Nanang Sutrisno, S.Ag, M.Si

 

I. PENDAHULUAN

Pada prinsipnya manusia diciptakan oleh Ida Sanghyang Widhi Wasa terdiri dari dua unsur yang utama yaitu purusa dan pradana atau unsur kejiwaan dan unsur kebendaan. Purusa adalah jiwa yang penuh kesadaran karena bersumber dari atman. Atman berasal dari Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan Pradana adalah unsur material yang menjadi dasar jasmani terdiri dari lima unsur yang disebut Panca Maha Bhuta (tanah, air, api, udara dan angkasa). Oleh karena itu dalam kitab Bhagavadgita ada disebutkan bahwa manusia memiliki dua kecendrungan yaitu kecendrungan kedewaan atau dewa sampad dan kecendrungan keraksasaan atau asura sampad. Kedua kecendrungan itu bisa silih berganti muncul setiap saat menguasai manusia. Jika kecendrungan kedewaan yang menguasai manusia, maka segala perbuatannya selalu berdasarkan pada sreya karma. Sreya karma ini mengarahkan perbuatan yang selalu berdasarkan dharma, karena didorong oleh kesadaran. Kesadaran itu adalah penguasaan indria oleh pikiran dan pikiran oleh budhi yang disinari pancaran suci atman. Sebaliknya, kalau kecendrungan keraksasaan yang menguasai diri manusia, maka segala perbuatan manusia selalu didasarkan oleh wisaya karma. Wisaya karma ini mengarahkan manusia berbuat diluar dharma bahkan bertentangan dengan dharma. Perbuatan itu semata-mata didorong wisaya atau hawa nafsu semata.

Sreya karma mengarahkan perbuatan yang disebut subha karma (perbuatan baik) dan wisaya karma mengarahkan perbuatan yang disebut asuba karma (perbuatan yang penuh dosa). Dalam Epos Mahabharata, Pandawa dibawah tuntunan Sri Krishna selalu melaksanakan perbuatan dengan penuh pertimbangan dharma. Sebaliknya Korawa, saudara sepupu Pandawa, berbuat atas dasar dorongan hawa nafsu keduniawian saja. Contoh perbuatan yang baik dan buruk, juga bisa kita temukan dalam Epos Ramayana.

Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk pelaksanaan ritual bagi umat Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa.  Diakui  atau  tidak,  manusia  adalah gudangnya  kealpaan (lupa), hal ini disebabkan karena manusia memiliki keterbatasan. Karena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkanlah upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagra-lah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Dalam Bhagavadgita III,42, dinyatakan orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indriya. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit mendapatkannya. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa.

Siwa Ratri  ( Ratri juga sering ditulis Latri ) adalah malam untuk memusatkan pikiran kepada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Oleh karena  itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut “malam kesadaran” atau “malam pejagran”, Bukan “malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang awam. Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena perbuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya adalah untuk menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian. Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indriya atau Tri Guna.

Siwa Ratri pada hakekatnya adalah merupakan kegiatan namasmaranam pada Siwa. Namasmaranam artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungkan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan bathin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidaklah harus dilakukan setiap tahun,  melainkan bisa  dilaksanakan  setiap  bulan sekali, yaitu setiap  menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita biasa menyucikan diri dengan melakukan SANCA. Sanca dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan sebagai berikut “Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira“. Artinya : Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedangkan dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, “Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana “, Artinya : dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

 

II. SUMBER AJARAN SIWA RATRI

Brata Siwa Ratri pada mulanya dirayakan amat terbatas, yaitu hanya oleh sejumlah Pandita di Bali dan Lombok. Pada tahun 1966, setelah hancurnya Komunisme di Indonesia, kesadaran akan kegiata rohani kian bangkit. Semenjak tahun 1966 itulah, perayaan Siwa Ratri mulai dimasyarakatkan oleh Parisada dan pemerintah lewat Departemen Agama.

A. Sumbernya ajaran Siwa Ratri ada pada :

1.      Kitab Padma Purana,

2.      Siwa Purana,

3.      Garuda Purana,

4.      Skanda Purana,

5.      Kekawin Siwaratri Kalpa.

 

B.Sejarah pelaksanaannya :

1.      Di Eropa disebut dengan perayaan “ BERI”.

2.      Di Arab disebut “OKAZ”, tapi lama kelamaan disebut “SHABE BARAT”.

3.      Di Indonesia khususnya Bali dan Lombok disebut “ MALAM SIWA RATRI “. Dan perayaannya bersumberkan pada Karya Mpu Tanakung yaitu berupa kekawin Siwa Ratri Kalpa.

Mengapa Siwa Ratri dimasyarakatkan, tentu karena memang dianjurkan oleh kitab suci Hindu. Di India, setiap menjelang bulan mati setiap bulannya umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka  berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini adalah suatu pertanda, bahwa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Kemudian baru sejak tahun 1966 Siwa Ratri dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.

 

C. Tingkatan Pelaksanaan Brata Siwa Ratri :

Brata Siwa Ratri dilaksanakan dengan tiga tingkatan yaitu :

1.      Nista, yaitu pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan Jagra, artinya kesadaran itu dalam pelaksanaan Brata Siwa Ratri disimpulkan dengan melek semalam suntuk, sambil memusatkan segala aktifitas diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Siwa. Ada yang melaksanakan jagra semalam suntuk dengan membahas sastra-sastra agama,seperti kakawin dalam berbagai judul. Ada pula yang melaksanakan sauca dan dhyana. Dalam kitab Wrhaspati Tattwa disebutkan, “Nitya majapa maradina sarira”. artinya sauca adalah melakukan japa dan selalu membersihkan badan. Sedangkan Dhyana dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, Nitya Siwa Smaranam, artinya selalu mengingat dan memuja Sanghyang Siwa. Brata Siwa Ratri dengan jagra tidaklah tepat kalau hanya begadang semalam suntuk tanpa arah menuju kesucian Tuhan.Jagra dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang yang memiliki kesadaran budhi. Melek semalam suntuk hanyalah prilaku yang bermakana simbolis untuk memacu tumbuhnya budhi yang sebenarnya.

2.      Madya adalah pelaksanaan Brata Siwaratri dengan jagra dan upawasa. Upawasa dalam kitab Agni Purana berarti “kembali suci”. Yang dimaksud kembali suci ini adalah dilatihnya indriya melepaskan kenikmatan makanan. Lezatnya makanan adalah sebatas lidah. Kalau sudah lidah dilewati makanan itu tidak akan terasa lezat. Lidah harus dilatih untuk tidak terikat pada kelezatan makanan.

3.      Uttama, yaitu pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan cara Jagra, Upawasa, dan Mona Brata, artinya pelaksanaan dengan cara melek atau menyadarkan diri, menahankan kenikmatan makanan dan berusaha mengurangi berbicara (Mona). Mona artinya tanpa mengeluarkan ucapan-ucapan yang bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa berbicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian.

 

III. PELAKSANAAN BRATA SIWA RATRI

Tata tertib pelaksanaan brata Siwa Ratri telah diseminarkan oleh PHDI Pusat bersama dengan IHD Denpasar tahun 1984.  Hasil seminar tersebut telah ditetapkan oleh PHDI Pusat menjadi Pedoman pelaksanaan Brata Siwa Ratri. Brata Siwa Ratri dilaksanakan pada hari “Catur Dasi Krsna Paksa” bulan Magha yaitu panglong ping patbelas sasih kapitu. Tujuan brata Siwa Ratri untuk menemukan “Kesadaran diri” (atutur ikang atma rijatinia ).  Brata tersebut dilaksanakan dengan upawasa , monobrata dan jagra.

Sehabis sembahyang atau meditasi dan japa biasakan melakukan mona atau agak membatasi berbicara. Hal ini akan bermanfaat untuk memberikan kesempatan pada berkembangnya “positif energi” untuk menggeser “parasit energi”. Positif energi dalam diri akan dapat memberikan kita kesehatan,  ketenangan dan kesucian. Kalau tiga hal ini dapat kita miliki dalam hidup maka hidup yang bahagia lahir batin akan semakin kita rasakan.

Demikianlah tiga tingkatan pelaksanaan brata Siwa Ratri berdasarkan nista, madya, utama. Dari segi makna amat tergantung kesungguhan sikap kita melaksanakan brata tersebut. Meskipun kita mengambil yang nista namun sikap yang melandasi bersungguh-sungguh, maka yang nista itu pun akan menghasilkan yang utama.

 

IV. MAKNA SIMBOL-SIMBOL

Kalau kita telaah ceritera LUBDAKA yang tertuang dalam kekawin Siwa Ratri Kalpa, buah karya Mpu Tanakung, terdapat beberapa simbol-simbol yang mempunyai makna sangat mendalam yaitu :

1.      Beburu;

2.      Binatang;

3.      Hutan;

4.      Lubdaka kemalaman;

5.      Lubdaka Takut;

6.      Lubdaka Naik Pohon;

7.      Takut Jatuh;

8.      Memetik Daun Billa;

 

MAKNANYA :

  1. Berburu; maksudnya adalah berburu ilmu pengetahuan untuk dapat meningkatkan taraf hidup akibat tuntutan hidup berupa dharma artha, kama dan moksa.
  2. Binatang, lain kata binatang adalah SATTWA, terdiri dari sat dan twa.
  • Sat sama dengan Inti, yaitu hakekat yang mulia, dan Twa adalah sifat. Jadi SATWA adalah hakekat yang mulia atau benar.
  • Rajanya Binatang adalah Harimau dan juga disebut PASUPATI, ini tiada lain adalah Sang Hyang Siwa.  Jadi hakekat yang mulia itu dikejar dan ada pada Sang Hyang Siwa.
  1. Hutan, adalah symbol keinginan yang bersifat duniawi yang sulit dihitung seperti banyaknya pohon-pohon di hutan.
  2. Lubdaka kemalaman, ini bermakna manusia itu diliputi penuh dengan kegelapan dan papa, penuh dengan ketidak sadaran dan ketidak tahuan (awidhya) akibat kurang mendalami ilmu pengetahuan.
  3. Lubdaka Takut, bermakna karena tidak memiliki pengetahuan dan penuh dengan kegelapan alam piker, maka takutlah mengarungi kehidupan ini.
  4. Lubdaka naik pohon, maksudnya “NAIK”, ada meningkatkan diri dalam mencari Ilmu Pengathuan supaya tidak mengalami kegelapan lagi.
  5. Takut Jatuh, maknanya adalah takut akan kekurangan dengan Ilmu Pengatahuan.
  6. Memetik Daun Billa, maknanya adalah membuang secara bertahap dosa-dosa yang ada pada diri manusia.

Diatas telah diuraikan pelaksanaan Brata Siwa Ratri ada 3, yaitu Jagra, Upawasa dan Mona Brata. Ketiga cara ini mempunyai arti sebagai berikut :

1.      Jagra, artinya adalah mawas diri, introspeksi diri.

2.      Upawasa, artinya usaha pengendalian diri untuk membebaskan diri dari pengaruh duniawi.

3.      Mona Brata, artinya usaha mengendalikan diri agar dapat menciptakan suasana yang hening, tenang, tentram, untuk menuju tercapainya jiwa yang terang (Widhya).

 

I. Berikut ini dilampirkan pelaksanaan Brata Siwa Ratri, secara sederhana :

 

1.       Di setiap Desa Pakraman, dilaksanakan acara persembahyangan bersama dipimpin oleh Prajuru Desa Pakraman masing-masing.

2.       Atau mengikuti pelaksanaan Brata Siwa Ratri (Pejagraan) di masing-masing Desa Pakraman dengan alokasi tempat yang telah disetujui atau ditentukan, sambil melaksanakan Pesanthian, memperdalam sasatra-sastra suci keagamaan.

3.       Pagi hari sebelum pelaksanaan Malam Jagra, agar melaksanakan kegiatan ASUCI LAKSANA, yaitu berupa pembersihan badan lahir bathin.

4.       Menjelang malam harinya :

a.       Maprayascita, ngaturang upakara semampunya kehadapan Sanghyang Siwa dan Ista Dewata, bertempat di Pemerajan atau Pura, dengan upakara sesuaikan dengan Drsta setempat, minimal  sebagai berikut :

1)      Daksina jangkep,

2)      Soda rayunan putih kuning,

3)      Segehan,

4)      Sekar arum,

5)      Bubuh empehan,

6)      Bubuh Gula,

7)      Nasi tepeng madaging kacang ijo,

8)      Kwangen medaging daun bila 108 bidang (18 kwangen, masing-masing kwangen berisi 6. lembar daun Bila).

b.      Melaksanakan persembahyangan 3 (tiga) kali, yaitu :

1)      Sembahyang pertama dilaksanakan jam : 19.00 Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

a)      Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;

b)      Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, berpirantikan bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Radetya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.

c)      Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.

d)      Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.

e)      Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.

f)        Sembah kehadapan Sanghyang Ghana, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Kebijaksanaan.

g)      Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).

2)      Sembahyang kedua dilaksanakan jam : 24.00. Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

a)      Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;

b)      Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, berpirantikan bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Radetya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.

c)      Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.

d)      Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.

e)      Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.

f)        Sembah kehadapan Sanghyang Giri Putri, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Sumber Kemakmura.

g)      Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).

3)      Sembahyang ketiga dilaksanakan jam : 05.00 Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

a)      Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;

b)      Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, berpirantikan bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Radetya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.

c)      Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.

d)      Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.

e)      Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.

f)        Sembah kehadapan Sanghyang Kumara, berpirantikan bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Penyagom Serba Kehidupan.

g)      Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).

5.       Ngelebar Brata Siwa Ratri.

 

 

 

 

 

II. Mantram-mantram yang dipakai waktu pelaksanaan persembahyangan Siwa ratri :

1.      Sembah Puyung :

Om Atma Tattwatma Suddhamam Swaha.

(Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba).

2.      Sembah Kehadapan Sanghyang Siwa Aditya :

Om Aditya sya param jyotir,

Rakta teja namo stute,

Sweta pankaja madyastha,

Bhaskara ya namo namah swaha.

(Om, sinar surya yang maha hebat, engkau bersinar merah, hormat padamu, Engkau yang berada di tengah teratai putih, hormat pada-MU pembuat sinar).

3.      Sembah Kehadapan Sanghyang Brahma :

Om , Isano sarwa widnyana,

Iswara sarwa bhutanam,

Brahmano dhipati Brahman,

Siwastu sada siwaya,

Om, ciwa dipata ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, Hyang Tunggal yang maha sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk, selaku Brahma raja daripada semua Brahmana, selaku Siwa dan Sada Siwa. Om Hyang Siwa, hamba menyembah pada-MU)

4.      Sembah Kehadapan Sanghyang Wisnu :

Om, Giripati maha wiryyam,

Mahadewa pratista linggam,

Sarwa dewa pranamyanam,

Sarwa jagat pratistanam,

Om, Giripati dipata ya namah.

(Ya Tuhan, bergelar Giripati yang Maha Agung, Mahadewa dengan lingga yang mantap, semua dewa sembah pada-MU.

Om Giripati, hamba memuja-MU).

 

5.      Sembah Kehadapan Sanghyang Iswara :

Om, Catur Dewi Mahadewi,

Catur Asrame Bhatari,

Siwa Jagatpati Dewi,

Durga Masarira Dewi,

Om, Anugraha amreta sarwa lara winasanam ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, saktiMU berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Siwa, raja semesta alam, dalam wujud Iswara, Ya, Catur Dewi, hamba menyembah kebawah kaki-MU).

 

6.      Sembah Kehadapan Sanghyang Ghana :

Om, Ghana parama Tanggohyam,

Ghana Tattwa Para ya namah,

Ghana diparamanopti,

Sukha Ghana namostute,

Om, am Ghana dipata ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, bergelar Ghana yang maha bijaksana, dewanya kebijaksanaan, kami semua sembah kehadapan-MU).

 

7.      Sembah Kehadapan Sanghyang Giri Patti:

Om, Am Am Giri Patti Wandi,

Lokanatam Jagatpati,

Danesan Arana Karanam,

Sarwa Guna Mahadyatam,

Om, Maharudram, Mahasudham, Sarwa Rogha Winasanam ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, bergelar Giripatti, dewanya kemakmuran, pemberi anugrah seisi jagatraya, kami semua sembah kehadapan-MU).

 

8.      Sembah Kehadapan Sanghyang Kumara :

Om, Namah Kumara ya,

Sedhana ya,

Siki dwaja ya pratimaya loka,

Sad kartika nanda karya ya nityam,

Namastute tasme dwaja pudhitam.

(Ya Tuhan, bergelar Kumara, dewanya pengayom semua kehidupan di jagatraya ini, kami semua sembah kehadapan-MU).

 

9.      Sembah Puyung :

Om, Dewa suksma paramacintya ya nama swaha.

Om, santih, santih, santih, Om.

(Om, hormat kami kepada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi, yang gaib).

=== selesai ===

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: dhanuwangsa | November 23, 2010

GALUNGAN : MEMBANGUN KESADARAN MORAL

GALUNGAN : MEMBANGUN KESADARAN MORAL

Oleh : Nanang Sutrisno, S.Ag, M.Sij

 

Ragadi musuh maparo,Ri hati ya tonggwannia, tan madoh ring awak

(Musuhmu ada dalam dirimu, di hatilah tempatnya, tidak jauh dari badan)

 

Om Swastyastu,

 

I. Prawacana

S. Radhakrishnan (1987:9) mengatakan bahwa kemanusiaan sekarang ini mengalami krisis terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Kemajuan pesat di dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan tekhnologi dewasa ini rupanya tidak disertai dengan hal yang sama dalam bidang kehidupan moral, etika, dan spiritualitas. Bahkan, bidang ini semakin rapuh dibawa arus materialisme, hedonisme, dan pragmatisme peradaban modern. Hal ini tercermin dengan semakin renggangnya rasa kebersamaan, keakraban, nasionalisme, upaya-upaya memajukan kepentingan dan ketertiban umum, pelanggaran nilai-nilai sosial, etika, dan agama terjadi hampir di semua belahan dunia. Bahkan, yang sangat memalukan adalah negara-negara yang diakui religius, ternyata tingkat korupsinya sangat menonjol, Indonesia misalnya.

Sistem ekonomi dunia semakin mengglobal, tetapi semangat agama dan budaya semakin melokal, sektarian, dan individual sehingga sangat rentan memicu konflik dan perselisihan. Semangat beragama ekslusif dewasa ini semakin menguat di masyarakat, tak urung telah merontokkan sendi-sendi kedamaian dan kesucian agama itu sendiri. Mungkinkah, Tuhan yang begitu pemurah, pemaaf, pengasih dan penyayang membenarkan umatnya melakukan tindakan saling hujat, saling caci, bahkan saling bunuh hanya demi membela nama-Nya. Kondisi ini menempatkan manusia pada posisi transisi, disharmoni, disintegrasi kepribadian antara manusia dengan alam dan dengan sesamanya. Sebab itu, tugas kita sekarang adalah melakukan revolusi moral dan spiritual untuk membangkitkan dunia. Bukankah agama dihadirkan di dunia untuk memberikan kedamaian (santih) dan kebahagiaan (hita) tanpa batas kepada seluruh makhluk di bumi ini.

Dalam pandangan Hindu agama bukanlah seperangkat doktrin, ajaran, prinsip-prinsip di dalam kitab suci, tetapi lebih jauh merupakan pengalaman dan pengamalan kebenaran universal. Beragama atau tidaknya seseorang tidak dinilai dari seberapa fasih yang bersangkutan di dalam membaca dan menghafal isi kitab suci, seberapa hebat dalam debat agama, seberapa pintar dalam memberikan dharmawacana atau khotbah, namun paling mendasar adalah kesesuaian antara apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat di dalam kehidupan sehari-hari, juga bagaimana caranya bergaul dalam masyarakat yang lebih luas sesuai dengan ajaran agamanya. Kebenaran agama perlu direalisasikan di dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, etika mempunyai nilai yang sangat strategis di dalam membina masyarakat agar ajaran-ajaran agama yang abstrak dijadikan acuan tindakan sehingga dapat dinikmati langsung kemuliannya oleh diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan demi kebahagiaan seluruh makhluk di muka bumi ini (sarva prani hitangkara).

Untuk itu melalui tulisan singkat ini penulis ingin merefleksikan kembali nilai-nilai Galungan yang akan dilaksanakan oleh umat Hindu, pada Rabo Kliwon Wuku Dungulan, 12 Mei 2010 nanti. Hari raya keagamaan mestinya dipahami bukan sekadar sebagai momentum untuk bersenang-senang (happy religion) sehingga perayaan yang berlebihan dengan menggunakan baju baru dan menyediakan makanan yang lezat, sama sekali bukanlah substansi. Justru, hari raya merupakan saat yang paling tepat untuk membangun kesadaran dan kesucian rohani melalui smaranam (selalu eling kepada Tuhan), kirtanam (memuja Tuhan secara tulus), dan sevanam (pelayanan kepada seluruh umat manusia).

Dari sinilah, Galungan mendapatkan makna sesungguhnya sebagai hari kemenangan dharma atas adharma, kebenaran yang mengatasi ketidakbenaran, dan kebijaksanaan yang mengatasi kebathilan. Agama Hindu mengajarkan pada hakikatnya kebenaran akan selalu menang, bukan ketidakbenaran (satyam eva jayate nanrtam). Oleh sebab itu setiap enam bulan (210 hari), secara simultan umat Hindu diajak untuk mendalami dharma, merenungkan maknanya, dan merefleksikannya kembali dalam tindakan nyata pada seluruh aspek kehidupannya.

 

 

II. Uttama Wacana

Dalam lontar Sundarigama, Galungan berarti galang apadang (terang benderang). Ini bermakna bahwa hakikat Galungan adalah pencerahan. Pikiran dicerahi dengan dharma (kebenaran/kebijaksanaan), perkataan dicerahi dengan satya (kejujuran), dan perbuatan dicerahi dengan tapa (pengendalian diri), yajna (pelayanan) dan kirti (ketulusikhlasan). Bila dalam diri manusia telah ada kesesuaian dan keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan, maka tidak diragukan lagi, dialah orang yang tercerahi. Pencerahan inilah yang berusaha dibangun oleh umat Hindu dalam setiap pelaksanaan Galungan.

4

Pencerahan pada tahap awal dilakukan melalui cara membangun prilaku harmonis dengan alam semesta (palemahan). Ini ditandai dengan proses perayaan hari suci Galungan yang diawali dengan upacara tumpek wariga atau tumpek uduh, yaitu pemujaan Ida Sang Hyang Widdhi Wasa dalam perbawaNya sebagai Sang Hyang Sangkara, penguasa semua jenis tetumbuhan. Dalam teologi Hindu, tetumbuhan (eka pramana) adalah makhluk yang awal diciptakan oleh Tuhan. Inilah bukti kemaha-bijaksanaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena tanpa adanya tetumbuhan mustahil akan ada kehidupan selanjutnya, baik binatang (dwi pramana) maupun manusia (tri pramana). Dari tetumbuhan hadir oksigen dan udara bersih, dari tetumbuhan binatang mendapat makanan bagi keberlangsungan hidupnya, dari tumbuhan hadir hujan yang memberikan kesejahteraan bagi seluruh makhluk di muka bumi ini. Demikianlah Hindu, mengedepankan nilai harmonis dengan alam melalui ritual sakral sehingga melalui ritual ini niscaya kelestarian alam, lingkungan, tetumbuhan dapat dijaga dan tetap memberikan kesejahteraan kepada seluruh umat manusia.

4

Pencerahan tahap kedua adalah membangun keharmonisan dengan sesama manusia (pawongan) yang ditandai dengan prosesi upacara sugihan jawa sampai dengan penampahan galungan. Sugihan jawa dimaknai sebagai penyucian bhuwana agung dan sugihan Bali sebagai penyucian bhuwana alit. Sampai pada tahap ini, semestinya manusia telah membekali dirinya dengan kesucian hati menyambut turunnya sang kala tiganing Galungan, yaitu Bhuta Dungulan (kebodohan), Bhuta Galungan (nafsu indriawi), dan Bhuta Amangkurat (Kekuasaan). Kesucian hati dalam perspektif etika adalah pengetahuan mendalam mengenai kebijaksanaan (wiweka jnana). Dalam hati yang suci terpancar kebijaksanaan (wisdom) yang mampu meneratas semua keadaan, baik di dalam maupun di luar diri. Secara sederhana, kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membedakan dan memposisikan mana yang baik dan mana yang tidak baik, yang benar dan yang tidak benar. Dalam bingkai kebijaksanaan antara dewa (kecermerlangan) dan bhuta (kegelapan) dipandang sebagai dua entitas yang berbeda, tetapi dalam dirinya sendiri adalah satu, dewa ya bhuta ya. Namun, orang bijaksana tidak akan larut dalam dualitas daiwi sampat dan asuri sampat ini karena ia yang bijaksana mampu memancarkan kecermelangan dalam semua keadaan, baik dalam terang maupun gelap. Mereka yang bijaksana adalah mereka yang mampu menjadi emas, baik dalam air maupun lumpur. Demikianlah Mahanirvana tantra mengajarkan kebijaksanaan. Inilah keadaan sesungguhnya yang ingin dicapai oleh umat Hindu melalui pelaksanaan sugihan jawa dan sugihan Bali.

Prosesi Galungan selanjutnya adalah penyajaan galungan. Kata penyajaan memiliki beberapa arti, di antaranya adalah kesungguhan, keteguhan hati. Dalam pelaksanaannya ditandai dengan mempersembahkan jaja (kue). Dalam bahasa Jawa Kuno, jaja berarti dada. Kedua pengertian tersebut memiliki makna yang sejalan, yaitu keteguhan hati. Artinya, setelah hati disucikan dengan kebijaksanaan maka kebijaksanaan tersebut dipelihara terus-menerus terutama menyambut turunnya sang kala tiganing galungan keesokan harinya. Orang bijaksana adalah orang yang mampu memancarkan kebijaksanaan dalam kondisi apapun, termasuk juga ketika sang kala tiganing galungan turun ke dunia membawa kegelapan mahadahsyat, maka umat Hindu telah berada dalam kesadaran rohaninya sehingga dalam kegelapan, kebijaksanaan tetap memancar dari sang diri.

Keesokan harinya (anggara wage dungulan) peperangan yang sesungguhnya antara dharma melawan adharma dimulai, yaitu saat turunya sang kala tiganing galungan yang bagi umat di Bali disebut panampahan galungan. Pada hari ini umat Hindu nampah (memotong, membunuh) Babi sebagai simbolik sifat dari sang kala tiganing galungan, yaitu bhuta dungulan, bhuta galungan, dan bhuta amangkurat. Ketiga bhuta ini sesungguhnya adalah perwujudan dari musuh yang ada dalam diri manusia, yaitu sad ripu (kama, lobha, krodha, moha, mada, matsarya).

6

Bhuta dungulan melambangkan sifat moha (kebodohan) dan krodha (kemarahan). Orang yang bodoh adalah orang yang tidak mengerti siapa dirinya, apa yang mesti dikerjakan, dan bagaimana mengerjakannya. Kebodohan juga tercermin dari cara seseorang menyikapi suatu permasalahan. Orang bodoh cenderung mengedepankan emosinya dalam menghadapi suatu keadaan sehingga kebenaran dipandangnya sebagai ketidakbenaran. Inilah ciri manusia tanpa wiweka jnana (kebijaksanaan). Sementara itu, bhuta galungan melambangkan sifat mada (kemabukan) dan matsarya (keirihatian). Sifat dari bhuta galungan adalah merasa diri “paling….”, dia mabuk kekayaan, dia mabuk ketampanan dan kecantikan, dia mabuk kekuasaan, dan segala kemabukan yang menyesatkan dirinya. Orang yang mabuk tidak pernah menyadari bahwa di luar dirinya masih banyak kelebihan-kelebihan yang tidak dia miliki. Oleh sebab itu, ketika dia menemukan orang lain yang memiliki kelebihan maka tumbuhlah sifat iri hati dan dengki dalam dirinya (matsarya). Selanjutnya, bhuta amangkurat melambangkan sifat kama (nafsu) dan lobha (ketamakan). Amangkurat berarti memangku atau menguasai dunia. Inilah sifat dasar manusia yang selalu ingin, ingin, dan ingin tanpa pernah mengerti arti kata puas (santosa). Ketiga sifat tersebut pada hakikatnya ada dalam diri manusia yang tanpa-pengetahuan (awidya), manusia yang tanpa kebijaksanaan (awiweka).

Melalui pelaksanaan hari suci Galungan, kesemua sifat tersebut dihancurkan oleh dharma. Dharma bersumber dari weda (pengetahuan) (wedho kilo dharma mulam… artinya, Weda adalah asal mula dari dharma). Dengan mempelajari weda orang mendapatkan dharma, dari dharma terpancar kebijaksanaan (wiweka jnana), dan kebijaksanaan yang memancar keseluruh alam semesta menciptakan bhuwana santih (kedamaian semesta). Inilah siklus pengetahuan suci Weda yang menjadi sumber pencerahan bagi kebahagiaan dan kedamaian dunia. Dalam keadaan tercerahi inilah umat Hindu membangun hubungan dengan Ida Sang Hyang Widdhi Wasa (parhyangan) melalui puja bhakti tepat pada Budha Kliwon Galungan. Dan selama 10 hari berturut-turut sampai Hari Suci Kuningan umat Hindu menerima berbagai anugerah Hyang Widdhi menuju Moksartham Jagadhitaya ca iti dharma.

 

 

III. Anta Wacana

Hari suci Galungan telah dilaksanakan sejak berabad-abad lamanya sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma. Akan tetapi kemerosotan moral masyarakat yang terjadi dewasa ini mengharuskan kita untuk mengaktualisasikan kembali makna hari suci Galungan untuk membangun kesadaran moral. Kesadaran moral dalam Hindu diwujudkan dengan mengembangkan kebijaksanaan (wiweka jnana) dengan mempelajari, memahami, mengapresiasi dan mengamalkan ajaran yang tertuang dalam kitab suci Weda.

6

Kebijaksanaan lahir dari lenyapnya kebodohan dan kegelapan (awidya) dalam diri manusia. Kebijaksanaanlah yang mampu meneratas kegelapan manusia, memancar dari dalam diri ke seluruh alam semesta, mewujudkan bhuwana santi (kedamaian semesta). Dalam pelaksanaan hari suci Galungan,  membangun kesadaran moral diwujudkan dengan membangun hubungan harmonis dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan, sebagaimana dikenal sebagai konsep tri hita karana.  Inilah kearifan Hindu, bahwa perbaikan moralitas harus dimulai dari dalam diri, memancar keluar untuk menciptakan kebahagiaan semua makhluk (sarwa prani hita) dan kedamaian dunia (bhuwana santih).

 

Om Santih Santih Santih Om

 


j Disampaikan dalam Dharma Wacana di Pura Dharma Kerti, Purnama Sada, 28 April 2010, dan menyambut

Galungan, 12 Mei 2010.

Oleh: dhanuwangsa | November 23, 2010

DEMOKRASI DALAM ARTHASASTRA:

DEMOKRASI DALAM ARTHASASTRA:

KAJIAN TERHADAP DHARMA

 

Oleh

Nanang Sutrisno, S.Ag, M.Si

 

 

1. Pendahuluan

Schrieke melalui The Native Rulers (dalam Indonesian Sociological Studies, 1955) menjelaskan transformasi kekuasaan sebagai evolusi kepemimpinan dalam tiga  tipe, yaitu primus inter pares, kingdom, dan patrimonial. Pertama, tipe primus inter pares adalah organisasi politik yang karakter utamanya meliputi, antara lain komunitas primitif, bersifat geneologis, agraris, mengelompok dalam satu garis asosiasi, dan mengatur ekonominya sendiri. Disiplin internal secara alami dibangun berdasarkan persetujuan suara bulat setelah konsultasi mutual cukup. Karakter komunal sebagai kekuatan masyarakat saling mempengaruhi anggotanya. Di berbagai belahan dunia lainnya ini disebut solidaritas. Satu-satunya otoritas adalah spirit kelompok, satu-satunya sanksi adalan opini masyarakat, dan pemujaan bersama kepada leluhur. Spirit yang mengatur adalah seorang konservatisme – yang mau meninggalkan segala sesuatu, seperti seorang leluhur yang ”mendirikan” itu. Karakter komunallah yang menonjol. Ini adalah ruang yang keras bagi pembangunan individualitas karena teritorial, tenaga kerja, kesenangan, tradisi, adat, opini, ideologi, usaha, dan rekreasi, semuanya adalah komunal. Karakteristik esensial dari tipe organisasi ini adalah natural statis, kondisi esensial untuk pemeliharaan karakter komunal dalam ukuran terbatas, sedangkan perubahan adalah menetapkan sistem produksi yang mengikutinya. Jika kelompok meluas, ini mengancam disintegrasi.

Kedua, tipe kingdom (kerajaan) adalah salah satu organisasi otoritas atau kekuatan yang mengutamakan pada perpaduan keanekaragaman dari heterogenitas kelompok lokal. Oleh karena itu dalam kasus tertentu, otoritas yang berkuasa dapat memoles kekurangan salah satu spirit kelompok atau spirit beberapa kelompok lokal. Mengikuti teori yang berlaku, asal mula kerajaan adalah berdasarkan penaklukan (conquest). Ini memperkenalkan elemen baru yang sederhana, swatantra sampai sekarang, komunitas ”natural”: pembebasan dari keinginan dari luar. Kelompok geneologis atau dalam kasus penyelesaian di satu tempat dan relativitas kepadatan populasi, pengaturan teritorialitas kelompok menjadi bagian subordinat dari kesatuan yang lebih besar. Usaha dapat dilakukan dengan melihat keadaan sebelum dan sesudah kemerdekaan, sejauh itu mungkin, tetapi tidak selamanya secara esensial karakteristik kerajaan (Kingdom) adalah kecenderungan – betapapun ketidaksempurnaan diwujudkan dalam perbuatan – terhadap subordinasi dari komponen bagian-bagian untuk satu tujuan, keinginan dari penguasa, sungguhpun demikian, ini pasti perlu dibiasakan dalam derajat yang lebih tinggi atau lebih rendah untuk kondisi umum. Di sini, kebohongan utama dari konflik kekuatan antara raja dan tokoh lokal, yang mana konflik adalah hanya memecahkan berkembangnya ”negara”.

Ketiga, tipe negara (patrimonial) adalah sistem negara yang masih terkait sistem kerajaan di mana raja merintis pendelegasian wewenang kepada orang-orang terpilih. Pada sistem ini terdapat gubernur, duta raja atau pejabat penting – untuk menopang roda pemerintahan. Walaupun demikian, raja tetap merupakan arah sentralnya. Birokrasi pemerintahan raja melibatkan jajaran aristokrasi, yakni suatu bentuk sistem kekuasaan atau pelaksanaan ”kekuasaan oleh orang-orang terbaik” yang ukuran paling pentingnya ialah keturunan. Dengan adanya subordinasi, daerah-daerah kerajaan, yang di dalamnya terletak pusat konplik antara raja dan tokoh-tokoh lokal, raja lazim menerapkan wewenangnya sebagai penguasa dan pengayom dengan memberikan kelonggaran tertentu untuk mengatur daerahnya sendiri. Sistem yang ketiga ini dapat disebut negara (patrimonial), yaitu suatu organisasi politik yang mencegah munculnya gangguan bagian-bagian komponen kerajaan dan membuat tokoh-tokoh lokal lebih efektif dalam pelayanannya. Para raja kadang-kadang mencapai hal ini dengan mencari dukungan bagi otoritasnya dari kelas-kelas sosial tertentu yang dengan bantuannya dapat menghancurkan supremasi kaum aristokrat. Dengan melakukan hal ini mereka meretas kekuatan-kekuatan yang di Barat dalam bentuk bangsa demokratis, akhirnya, untuk membatasi adanya monarki absolut. Negara sebagai penguasa telah memberikan jalan ke arah negara berkesejahteraan (welfare state): kepentingan-kepentingan monarki, di mana ia sendiri identik dengan negara, harus tunduk kepada kepetingan raja dan rakyat, hingga rakyat sendiri mengenyam semacam kedaulatan.

Berkaitan dengan tipe kepemimpinan yang kedua, yaitu kerajaan (kingdom), Krisna Rao dalam bukunya Studies In Kautitya (terjemahan: Sura, 2003) menjelaskan bahwa Arthasastra adalah salah satu buku politik Hindu atau buku tuntunan raja-raja dalam mendapatkan dan mempertahankan dunia ini. Dalam bagian akhir buku Arthasastra dengan tegas dinyatakan bahwa pengetahuan ini akan membawa umat manusia mencapai dharma, artha, dan kama. Bana menjelaskan buku Arthasastra sebagai ilmu dan seni diplomasi. Arthasastra disusun oleh Kautilya berdasarkan atas sejumlah buku politik Hindu kuna, tradisi politik dan pengalaman hidupnya. Kitab ini mengandung 32 bagian, 15 adikarana dengan 150 bab, dan 600 sloka. Kautilya disanjung-sanjung sebagai tokoh politik Hindu legendaris yang kejeniusannya sering disepadankan dengan filsuf dan negarawan, seperti Plato, Aristoteles, dan Machiavelli. Ada persamaan yang mendasar antara Kautilya dengan Aristoteles dan Plato dalam etika dan politik. Mereka sama-sama menganggap bahwa keduanya itu sama pentingnya untuk menata hidup bersama. Mereka sama-sama percaya bahwa hidup yang berbahagia adalah hidup yang berkebajikan (2003:147). Kautilya diperkirakan hidup pada abad ke 4 sm. Kedudukan dan peranannya adalah penesihat dan penyelamat raja Mauria, Chandragupta. Nama lainnya adalah Wisnugupta dan Chanakya.

Buku Arthasastra pertama-tama menelaah tujuan masyarakat dengan menerangkan posisi trayi, anvikshiki, varta, dan danda dalam kerangka keberadaan manusia. Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan warnasrama dharma sebagai landasan tertib sosial dan kewajiban-kewajiban umum yang berlaku untuk semua orang. Sebagai seorang negarawan, Kautilya menaruh perhatian besar terhadap kerjaan dan kekuasaan. Dalam buku 6 bab I, ia menyebutkan unsur-unsur negara itu terdiri atas svami, amatya, janapada, durga, kosa, danda, dan mitra. Svami adalah yang dipertuan atau master, yaitu lebih menunjuk kepada seorang kepala negara atau presiden ketimbang sebagai seorang raja; Amatya adalah para menteri atau pejabat tinggi negara; Janapada adalah wilayah dan penduduknya; Durga adalah benteng; Kosa adalah perbendaharaan negara; Danda adalah tentara; dan mitra adalah sekutu. Kautilya menyusun buku Arthasastra atas sistem monarki-konstitusi. Svami diposisikan dalam struktur pemerintahan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Kekuasaannya tidak absolut. Kedudukan dan fungsinya sebagai seorang svami ditentukan dan diatur secara ketat. Ada pelapisan dan distribusi kekuasaan yang jelas. Tugas dan kewajiban svami menurut Kautilya dibedakan menjadi tiga, yaitu tugas eksekutif, yudikatif, dan administratif. Ini menandakan adanya sistem pembagian kekuasaan, sebaigamana yang berkembang dalam sistem demokrasi.

Demokrasi dalam pengertian klasik setidak-tidaknya diartikan “pemerintahan rakyat“ (demos yang artinya rakyat dan kratos yang artinya pemerintahan).  Dalam hal ini, baik sebagai sebuah konsepi maupun praktik, demokrasi mengalami perkembangan yang sangat panjang, yakni melalui perjalanan historis sepanjang lebih dari dua setengah milenium, yakni dipraktikkan awalnya di Athena pada zaman Yunani Kuno dalam bentuk demokrasi langsung kurang lebih pada 500 SM. Dalam pengertian yang lebih modern dan sekaligus lebih populer, demokrasi kemudian diberi makna sebagai “pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat”. Dalam makna yang demikian, baik dalam pengertian yang klasik maupun yang lebih modern, kata “rakyat” mendapat tekanan penting. Tekanan kepada kata “rakyat” diberikan untuk memberi kontras terhadap berbagai bentuk pemerintahan absolut lainnya, seperti raja-raja yang sumber otoritasnya berasal dari kekuasaan turun-temurun dan/atau yang, baik secara langsung maupun tidak menyatakan memiliki kekuasaan untuk memerintah berdasarkan sumber yang berasal dari kekuasaan Ilahi[1].

Dari uraian tersebut dapat diketahui secara sepintas bahwa sistem yang dianut oleh Kautilya dalam mengembangkan Arthasastra-nya. Kautilya menyebut raja atau kepala negara dengan istilah svami. Svami adalah seorang rajarsi. Adakah ini pertanda bahwa Kautilya menyadari kelemahan sistem monarki. Apabila demikian, sistem  monarki apakah yang dikembangkan dan dipadukan dengan sistem politik demokrasi, serta  bagaimanakah eksistensi demokrasi yang terdapat dalam buku Athasastra? Ke arah inilah kajian ini ditujukan hingga setidak-tidaknya ditemukan unsur-unsur demokrasi dalam buku Arthasastra.

 

2. Konsep Demokrasi

Semula, dalam pemikiran Yunani, demokrasi berarti bentuk politik di mana rakyat sendiri memiliki dan menjalankan seluruh kekuasaan politik (Lorenz Bagus. 2002:154). Selanjutnya, dalam pemikiran modern, demokrasi menjadi ide filosofis tentang kedaulatan rakyat. Artinya, semua kekuasaan politik dikembalikan kepada rakyat. Presiden Lincoln dalam pidatonya memberikan kesimpulannya yang bergema kuat tentang definisi terbaik demokrasi dalam sejarah Amerika. Dengan menyatakan, “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” (Melvin I. Urofsky dalam Clack: Demokrasi, 2001:2). Ditegaskan bahwa demokrasi adalah sesuatu yang berat, bahkan mungkin merupakan bentuk pemerintahan yang paling rumit dan sulit. Banyak ketegangan dan pertentangan dan mensyaratkan ketekunan para penyelenggaranya agar bisa berhasil. Demokrasi tidak dirancang demi efisiensi, tetapi demi pertanggungjawaban, yaitu sebuah pemerintahan demokratis mungkin tidak bisa bertindak secepat pemerintahan diktator, namun sekali mengambil tindakan bisa dipastikan adanya dukungan publik untuk langkah ini. Ada bermacam-macam istilah demokrasi, antara lain ada yang dinamakan demokrasi konstitusionil, demokrasi parlementer, demokrasi terimpin, demokrasi pancasila, dan lain sebaginya (Budiardjo,l983:50; Triguna, 2004:7). Lebih lanjut dijelaskan bahwa dari sekian banyak demokrasi ada dua aliran yang paling penting, yaitu demokrasi konstitusionil dan satu kelompok aliran yang menamakan dirinya “demokrasi”, tetapi yang pada hakikatnya mendasarkan dirinya atas komunisme.

Ciri khas demokrasi konstitusionil adalah gagasan bahwa pemerintah yang demokratis adalah pemerintah yang terbatas kekuasaannya dan tidak dibenarkan bertindak sewenang-wenang terhadap warga negaranya. Pembatasan-pembatasan atas kekuasaan pemerintah tercantum dalam konstitusi; maka dari itu sering disebut pemerintahan berdasarkan konstitusi (Budiardjo, l983:52; Triguna, 2004:7). Konstitusi dirumuskan melalui proses hukum yang dituangkan dalam bentuk undang-undang. Menurut sistem demokrasi bahwa pemerintahan dapat dilakukan secara langsung atau melalui wakil-wakil rakyat. Wakil-wakil rakyat dipilih secara bebas dan rahasia menurut prinsip yang ditentukan oleh suara mayoritas rakyat. Wakil-wakil rakyat menduduki jabatan dalam waktu tertentu dengan diberikan hak dan kewajiban yang digariskan secara jelas. Selanjutnya, kepala negara dipilih oleh rakyat atau oleh wakil-wakilnya (Loren Bagus, 2002:155). Bentuk pemerintahan konstituasi menurut Greg Russel (dalam Clack: Demokrasi, 2001:9-11) terdiri atas beberapa prinsip, yaitu kedaulatan rakyat, kekuasaan hukum, pemisahan kekuasaan dan sistem pengawasan serta pertimbangan, federalisme, dan perjuangan untuk hak-hak individu.

Ini berarti bahwa dalam perkembangannya, definisi demokrasi akhirnya harus menerima elemen “perwakilan”, yaitu sesuatu yang di kemudian hari diterima sebagai sebuah keniscayaan yang tak terelakkan karena alasan pemerintahan langsung oleh rakyat menjadi hampir tidak mungkin dikerjakan dalam masyarakat yang relatif jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan masyarakat di negara kota Athena dari mana konsepsi demokrasi itu dilahirkan dan dipraktikan. Sejak Abad XVIII dan sesudahnya, baik sebagai konsepsi maupun praktik, prinsip perwakilan merupakan hal yang melekat dalam pengertian demokrasi. Prinsip perwakilan sebagaimana dimengerti sesungguhnya juga telah mengalami sejarah perkembangan yang panjang. Sampai sebelum berakhirnya akhir Abad XIX, prinsip perwakilan dalam demokrasi hanya merujuk pada sejumlah kelompok kecil masyarakat.  Walaupun terdapat “pemilihan wakil-wakil rakyat”, tidak semua warga negara memiliki hak memilih dan dipilih. Di Eropa, berawal di Inggris, anggota parlemen hanya terdiri atas mereka yang berasal dari kelompok bangsawan dan tuan tanah.  Itu pun sering hanya untuk menghasilkan parlemen yang sampai batas-batas tertentu tidak lebih dari sekedar sebagai pendamping kekuasaan para raja. Di Eropa, dua kelompok masyarakat inilah yang sampai pada akhir Abad-18 menjadi klas sosial yang secara ekslusif memiliki priveledge dalam sistem perwakilan (Plato, 2002).

Hanya menjelang peralihan ke Abad ke-20 belakangan ini prinsip perwakilan semacam itu mengalami revolusi yang berarti.  Prinsip perwakilan pada akhirnya juga mencakup rakyat dalam arti yang lebih luas.  Tidak hanya itu, konsepsi demokrasi pada akhirnya juga menyentuh hal yang paling mendasar dari hubungan kekuasaan, yaitu, di manapun demokrasi selalu mensyaratkan hadirnya “relasi-relasi yang bebas, merdeka, dan setara” di antara warga negara.  Sampai sebelum 1760 rupanya tidak sebuah negara manapun di dunia mengadopsi pemerintahan demokratik dalam pengertian yang dipakai sekarang. Pada 1919 demokrasi telah dipraktikkan di Inggris dan negara-negara dominion Inggris, seperti Kanada, Australia, dan Selandia Baru, di samping itu demokrasi juga dipraktikkan di Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa Utara dan Barat, seperti Perancis, Jerman, Italia, Swiss, Austria, Scandinavia. Pada akhir Abad XX, lebih dari separuh jumlah negara-negara di dunia mengadopsi demokrasi (Greg Russel dan Melvin I. Urofsky dalam Clack: Demokrasi, 2001:7-10).

Pada dasarnya pemahaman tentang esensi demokrasi yang berkembang sejak awal hingga pertengahan abad ini merujuk pada konsepsi pemisahan dan pembagian kekuasaan.  Pemisahan kekuasaan (separation of power) memiliki fokus yang terutama berdimensi horisontal, sedangkan pembagian kekuasaan (distribution of power) memiliki fokus yang berdimensi vertikal. Pemisahan kekuasaan berbicara tentang bagaimana tugas dan kewenangan di antara tiga cabang pemerintahan dipisahkan untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya absolutisme kekuasaan. Tiga cabang pemerintahan ini adalah lembaga yudisial, eksekutif, dan legislatif. Prinsip umum yang dipakai sebagai dasar untuk membuat pemisahan kekuasaan di antara tiga lembaga ini bersumber pada ajaran pokok tentang fungsi pengawasan dan keseimbangan kekuasaan (checks and balances).  Apabila fungsi pengawasan ditekankan pada usaha mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan maka fungsi keseimbangan dimaksudkan untuk memungkinkan fungsi-fungsi kekuasaan itu dapat bekerja, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk mewujudkan dan menegakkan prinsip umum yang diabdikan oleh demokrasi, seperti keadilan, persamaan, kebebasan, kesejahteraan, kemakmuran, dan seterusnya (Sparringa, 2007).

Dalam konteks hubungan itu ditegaskan bahwa eksekutif ditempatkan sebagai lembaga yang menjalankan amanah rakyat sebagaimana dirumuskan oleh wakil-wakil mereka di lembaga legislatif.  Walaupun sampai batas-batas tertentu eksekutif memiliki otonomi untuk menjalankan fungsinya, seperti dalam menentukan fungsi-fungsi dan tugas birokrasi, ia pada dasarnya tunduk pada kekuasaan yang dimiliki oleh rakyat melalui wakil-wakil mereka.  Kata ‘eksekutif’ oleh karena itu diberi konotasi yang amat jelas dan terbatas, yaitu ‘eksekutor’ alias pelaksana amanah rakyat. Sementara itu, legislatif memainkan peran sebagai lembaga yang merumuskan aspirasi rakyat.  Aspirasi inilah yang dipakai sebagai dasar untuk bekerja merumuskan program-program kebijakan yang pada dasarnya merupakan usaha mendistribusikan dan mengalokasikan sumber dan nilai. Meskipun sampai batas-batas tertentu ia memiliki kewenangan untuk mengelaborasi dan menginterpretasikan apa yang menjadi tuntutan rakyat  serta mengambil tindakan untuk dan atas nama rakyat, ia pada dasarnya tidak memiliki hak moral untuk mengambil alih kedaulatan dari tangan rakyat. Pada tempat semacam inilah terdapat kebutuhan untuk membangun legislatif yang peka (sensitive) dan tanggap (responsive) terhadap dinamika dan perkembangan aspirasi yang terdapat dalam masyarakat (Sparringa, 2007).

Walaupun tidak terlibat dalam proses politik sehari-hari (day-to-day politics), lembaga yudisial memiliki posisi yang amat sentral untuk memastikan bahwa prinsip kebebasan dan keadilan (free and fairness) dalam politik itu terjadi. Lembaga ini mengantongi sebuah kewenangan tertinggi untuk menjalankan sebuah sistem peradilan yang bebas dari campur tangan kekuasaan lainnya. Ia, bahkan atas nama keadilan memiliki kewenangan untuk menilai serta memutuskan apakah sebuah perundang-undangan telah memenuhi kriteria umum yang diakui dalam sebuah sistem yang demokratis.  Oleh karena itu, dengan kewenangan yang dimilikinya, lembaga ini dapat menggugurkan sebuah undang-undang, betapapun undang-undang itu telah diputuskan melalui mekanisme yang demokratis sekalipun. Lembaga yudisial bekerja dengan prinsip yang menjunjung tinggi keadilan—sebuah prinsip yang tak dapat dianulir oleh kekuasaan manapun termasuk kekuasaan mayoritas dalam legislatif (Sparringa, 2007).

Esensi lainnya yang terdapat dalam demokrasi menurut Sparringa (2007) adalah pembagian kekuasaan di antara pemerintah pusat, regional, dan lokal.  Dalam pembagian kekuasaan semacam ini terdapat pengaturan yang jelas tentang apa yang menjadi kekuasaan pemerintah di tingkat pusat dan daerah. Roh yang pada umumnya dipakai untuk melakukan pembagian ini pada umumnya dilakukan dengan dalil umum, seperti berikut ini.  Apa yang oleh konstitusi tidak diserahkan pengelolaan kekuasaannya kepada pemerintah pusat haruslah diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah di tingkat regional (dalam kasus di Indonesia, provinsi). Apa yang oleh konstitusi dan undang-undang lainnya tidak diserahkan pengelolaan kekuasaannya kepada pemerintah pusat dan regional haruslah diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah di tingkat lokal (dalam kasus di Indonesia, kabupaten/kota).  Dalam praktiknya, roh semacam itu sedikit banyak juga dipengaruhi oleh bentuk negara yang dipakai (negara kesatuan atau federal) (Sparringa, 2007)

Lebih jauh dijelaskana bahwa pembagian kekuasaan dalam demokrasi juga terjadi di antara apa yang menjadi wilayah negara (state) dan masyarakat (civil society).  Dalam sebuah sistem yang demokratis, kedua wilayah ini dipelihara secara amat jelas batas-batasnya.  Negara tidak boleh memasuki apa yang menjadi wilayah masyarakat; demikian sebaliknya. Walaupun interaksi di antara kedua wilayah itu berlangsung amat intens dalam sistem yang demokratis, terdapat kecenderungan untuk tidak mencampuradukkan keduanya.  Roh yang pada umumnya dipakai untuk memilahkan kedua wilayah itu pada dasarnya bersumber pada dalil, “negara mengurus wilayah publik, masyarakat mengurus wilayah privat”. Dalam sejarahnya, apa yang menjadi wilayah publik cukup sering datang dari wilayah privat. Walaupun demikian, terdapat prinsip yang amat tegas sebelum hal itu menjadi mungkin. Wilayah privat yang dipublikkan haruslah datang atas dasar kesepakatan semua elemen yang terdapat dalam masyarakat yang sering merupakan aglomerasi wilayah-wilayah privat yang amat majemuk (Sparringa, 2007).

Selain itu, juga dijelaskan bahwa ajaran demokrasi juga mensyaratkan terjadinya pemisahan secara jelas antara wilayah masyarakat dan individu. Kolektivitas dan individualitas adalah dua hal yang tidak dapat dicampuradukan. Masyarakat memiliki sejumlah nilai dan norma, sering kali berdasarkan tradisi, yang di antaranya mengatur sejumlah hak, kewajiban, dan tanggung jawab anggota masyarakat. Dalam sistem demokrasi bahwa nilai dan norma masyarakat tidak dapat mengurangi hak-hak dasar yang dimiliki individu, baik sebagai warga negara maupun sebagai manusia.  Oleh karena itu, demokrasi menjamin tersedianya ruang yang sangat jelas terhadap mana hak-hak dasar warga negara itu tidak dapat direduksi oleh nilai-nilai dan norma-norma sosial yang terdapat dalam masyarakat. Pemisahan dan pembagian kekuasaan sebagaimana diuraikan tadi pada dasarnya bertujuan untuk pada satu pihak memungkinkan interaksi antara elemen-elemen penting yang terdapat dalam negara (yudisial-eksekutif-legislatif dan pemerintah pusat-daerah) dan pada pihak lain antara negara-masyarakat dan masyarakat-individu dapat berkembang secara demokratis di semua tingkat. Pada akhirnya, pembagian dan pemisahan kekuasaan bertumpu pada ajaran tentang otonomi negara, masyarakat, dan individu.  Di tingkat individu, demokrasi berakar pada ajaran tentang hak untuk menentukan nasib diri sendiri, yakni self-determination (Sparringa, 2007).

Sistem demokrasi berjalan dengan baik, apabila rakyat memiliki kematangan politik. Manakala terjadi perbedaan pandangan di antara mereka maka bagian yang lebih kecil dengan lapang dada harus mengikuti pemikiran yang disetujui oleh sebagian besar warga masyarakat (Triguna dalam Wesnawa, 2002:40). Artinya, rakyat  harus memiliki kesiapan untuk mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Keputusan-keputusan yang dicapai secara musyawarah haruslah diterima sebagai keputusan yang mengikat seluruh warga negara. Konsep esensial tersebut dalam sistem politik demokrasi memiliki unsur-unsur pokok, yaitu negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijaksanaan, dan pembagian atau alokasi (Budiardjo,l983:9). Menurut Melvin I. Urofsky (2001:3-5) ada beberapa unsur penting dalam sistem demokrasi, yaitu prinsip pemerintahan berdasarkan kostitusi; pemilihan umum yang demokratis; federalisme, pemerintahan negara bagian dan lokal; pembuatan undang-undang; sistem peradilan yang independen; kekuasaan lembaga kepresidenan; peran media yang bebas; peran kelompok-kelompok kepentingan; hak masyarakat untuk tahu; dan kontrol sipil atas militer. Sementara itu, Henry B. Mayo menjelaskan bahwa nilai-nilai umum yang mendasari sistem politik demokrasi adalah (l) menyelesaikan perselisihan secara damai dan melembaga, (2) menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang sedang berubah, (3) menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur, (4) membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum, (5) mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman dalam masyarakat yang tercermin dalam keanekaragagaman pendapat, kepentingan, serta tingkah-laku (Budiarjo, l983:62-63; Triguna, 1999:5 dan 2002:9).

 

3. Demokrasi Dalam Arthasastra

Atas dasar pengertian, unsur-unsur, dan nilai-nilai demokrasi tersebut tulisan ini mencoba menelusuri unsur-unsur negara dalam buku Arthasastra yang mengandung (benih) aspek atau nilai demokrasi dalam buku Arthasastra. Untuk itu penelusuran diawali dari pengertian negara yang dedifinisikan oleh Kautilya. Kautilya merumuskan negara sebagai suatu kumpulan dari bermacam-macam masyarakat yang diwujudkan atas dasar prinsip-prinsip militer dan dharma. Negara melambangkan dharma yang universal, yaitu suatu perlambang yang berisikan kebebasan individu (2003:82). Bagi Kautilya, dharma adalah konsep yang bersifat etis. Dalam konteks individu dharma adalah swadharma atau kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab; dalam konteks kemasyarakatan ia adalah solidaritas sosial; dalam konteks agama yang dipeluk masyarakat ia adalah realisasi diri yang disebut moksa; dan dalam konteks vyavahara, charitra, dan peraturan yang diundangkan dharma adalah keadilan (2003:154). Kautilya menganjurkan agar negara dibangun berdasarkan empat kaki hukum: dhramasastra atau hukum suci, vyavahava atau kesaksian, carittara atau sejarah atau tradisi, dan  sasana atau maklumat raja-raja (2003:41).

Krisna Rao setelah mempelajari Arthasastra berkesimpulan bahwa negara Kautilya adalah negara monisme yang ditetapkan berdasarkan sifat pluralistik. Kautilya membicarakan negara tidak dalam pengertian nasional karena negaranya tidak terbatas pada satu ras, bahasa, dan agama (2003:69). Dijelaskan pula bahwa negara merupakan lingkaran organisasi di mana emosi dan peradaban hidup rakyatnya bisa menyatu (2003:11l). Atas dasar itu Kautilya menjelaskan tujuh unsur yang disebut saptangga yang membangun konsep negaranya. Dari saptangga itu ditemukan nilai-nilai yang menjadi unsur-unsur demokrasi sebagai berikut.

(1)   Negara menjamin kebebasan dalam berserikat atau berorganisasi. Di dalam negara ada serikat kerja, yaitu suatu kesatuan sosial tertentu yang dibangun atas tujuan bersama. Organisasi dibentuk atas dasar fungsi atau pandangan. Ada sejumlah istilah yang dipakai oleh Kautilya untuk menyatakan serikat kerja, yaitu sreni: kelompok perdamaian, pelayan militer, dan perdagangan; kula: dewan perwakilan atau oligarki pangeran-pangeran; puga: perserikatan bermacam-macam kasta yang tidak mempunyai jabatan; ghana: komfederasi gabungan sebuah perserikatan; dan sanggha: perserikatan politik. Semua unsur itu masing-masing mewakili bermacam-macam kehidupan sosial Hindu. Organisasi serikat kerja ini berbadan hukum dan svami wajib menghormati atau mengakuinya (2003:116).

(2)   Kerjasama yang merdeka dan harmonis. Krisna Rao menjelaskan bahwa serikat pekerja dalam Arthasastra sebagai organisasi yang demokratis (2003:35). Mengingat terdapat bukti kerjasama yang merdeka dalam semua bidang kehidupan.

(3)   Ada jaminan perlindungan hidup bagi warga negara. Negara didirikan untuk perlindungan hidup, perlindungan hak milik dan untuk menjamin kesempatan-kesempatan untuk kemajuan sosial (2003:39). Ada departemen pemerintah pusat yang khusus terdiri atas para menteri dan komisaris disebut pradeshtarah untuk melindungi kepentingan para tukang dalam hubungannya dengan serikat kerjanya yang menjamin mereka dengan jaminan (2003:42).

(4)   Kepala negara menyatakan diri sebagai perantara rakyat dan diberi kedudukan oleh hukum. Svami yang ideal bagi Kautilya adalah seorang rajarsi, yaitu raja yang memiliki kualitas, antara lain kelahiran mulia, cerdas, arif, gagah berani, gesit yang memandang dirinya sebagai perantara rakyat dan diberikan kedudukan oleh hukum (2003:65).

(5)   Kebijakan kepala negara ditetapkan melalui pertimbangan. Negara dan svami ibarat badan dengan jiwanya. Setiap kebijakan dan tindakan svami harus ditetapkan melalui diskusi atau pertimbangan manriparisad. Kabinet utama yang harus memutuskan kebijaksanaan ini terdiri atas mentri utama, panglima, purohita, dan yuvaraja. Peranan svami adalah dharmapravartaka, yaitu seorang kepala negara yang terus-menerus dalam pekerjaan yang benar demi negara. Tanggung jawabnya adalah mempertahankan dharma dan melindungi rakyatnya dengan keadilan. Kautilya berkata: “Svami tidak akan pernah memberikan rakyatnya menyimpang dari kewajiban-kewajiban mereka yang telah ditetapkan. Sebab barang siapa yang mendukung kewajibannya sendiri, berpatokan pada kebiasaan arya, mengikuti kewajiban-kewajiban kasta dan  varnasramadharma akan memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan di akhirat. (Krishna Rao,  2003:65). Dalam menjalankan kebijakan atau menyelesaikan konflik, svami menerapkan ajaran niti yang disebut sadguna, yaitu sama, bheda, danda, upeksa, maya, dan indrajala (2003:96). Sama atau rekonsiliasi adalah hal yang pertama-tama dilaksanakan. Apabila rekonsiliasi gagal barulah diterapkan guna berikutnya. Ini artinya, Kautilya mendukung penyelesaian masalah secara damai.

(6)   Suksesi kepemimpinan dilaksanakan secara terencana. Putra-putra svami, sebelum ia diangkat menjadi svami, terlebih dahulu ia harus melewati masa pendidikan, pengajaran dan pelatihan. Kurikulum pengajaran dan pelatihan tersebut berisi, antara lain (a) mereka dididik untuk menjadi orang yang disiplin, menguasai dirinya. Kautilya menyatakan, tujuan tertinggi dari ilmu pengetahuan adalah penguasaan atas indria (Teks:1.6.3); (b) terdapat berbagai cabang ilmu pengetahuan yang harus dipelajari oleh putra-putra svami. Akan tetapi yang paling pokok yang harus dikuasai oleh putra svami adalah ilmu pemerintahan. Kemudian baru trayiveda, filsafat dan ekonomi. Yang menarik, calon svami juga harus mempelajari itihasa; dan (c) pelatihan yang paling utama adalah pelatihan keprajuritan. Seorang putra svami sebelum menjadi svami terlebih dahulu harus diuji keberanian dan keterampilannya dalam berperang. Demikian juga dalam menangani berbagai persoalan kenegaraan. Putra svami yang nantinya dipilih menjadi svami adalah putranya yang paling berkualitas berdasarkan kasih-sayang kemanusiaan dan dicintai rakyat.

(7)   Ada struktur pemerintahan dan pembagian tugas secara profesional. Sebagai kepala negara, svami memiliki tiga tugas pokok, yaitu eksekutif, yudikatif, dan administratif. Dalam bidang eksekutif, svami bertugas melindungi negara; menjaga perdamaian; memberi bantuan kepada yang membutuhkan; mengorganisir rakyat dalam menanggulangi bencana alam, mengangkat menteri, pejabat sipil, dan panglima tentara; berkonsultasi dengan mantripasad dan lembaga intelijen; mengonrol potensi keuangan, tentara; mengecek penerimaan dan pengeluaran negara; dan menetapkan kebijakan luar negeri dan pergerakan tentara. Berdasarkan penjabaran di atas jelas tampak bahwa ada distribusi kekuasaan. Svami dalam menjalankan roda pemerintahan didampingi dan dibantu oleh para menteri, amatya. Kautilya mengajarkan bahwa para menteri haruslah putra bangsa sendiri yang siap mengabdi sesuai dengan tugas yang dibebankan kepadanya.

(8)   Kedudukan dan fungsi pejabat negara ditentukan berdasarkan kualitas moral dan keahliannya. Menteri-menteri adalah bagikan dua mata svami, karena itu mereka haruslah orang yang arthacita, bercita-cita luhur; silavan, bertabiat mulya;  sampriya, suka membahagiakan orang lain atau masyarakat; prajna, cerdas; dakhya, kreatif; dan vagmi, berpengetahuan luas.

(9)   Hukum diubah dan dibuat dengan memperhatikan sumber dharma dan bersifat rasional. Dalam bidang yudikatif, svami bukan sumber hukum, tetapi memiliki kekuasaan tertinggi atas pengontrolan para hakim. Svami hanya bertugas mengadministrasikan institusi yang bertugas dalam membuat dan mengubah hukum. Kautilya menyatakan hukum haruslah rasional, berdasarkan dharma, sesuai dengan veda trayi, veda smrti, sista atau kebiasaan arif orang suci dan tradisi (2003:104,105). Para hakim hendaknya menguasai dharmasastra. Interpretasi hukum hendaknya tidak memihak (2003:l05).

(10)     Pemerintahan dijalankan berdasarkan hukum. Berdasarkan undang-undang administrasi, – dharmasthiya, hukum sipil dan kantaka sodhana, penal lawsvami mengkonsolidasi kerajaan dengan administrasi terpusat. Secara teknis pekerjaan administrasi ditangani oleh para pejabat birokrasi secara baik dan efisien (2002:l09). Di samping mengontrol kerja para pejabat negara, svami juga berkewajiban memberi inspirasi dan dorongan fundamental bagi aktivitas negara.

(11)     Ada bantuan negara untuk kesejahtraan sosial. Perhatian terhadap kesejahtraan rakyat dalam bidang ekonomi adalah kewajiban svami, karena ia adalah ayah bagi rakyatnya. Bantuan negara yang diberikan adalah untuk membangkitkan industri-industri perorangan (2003:114). Bantuan hendaknya diberikan secara langsung dan cepat kepada perorangan atau golongan (2003:117). Negara membiayai rakyat yang tidak berpenghasilan (2003:116). Ini berarti kesejahtraan rakyat adalah kesejahtraan svami. Kautilya menyatakan: “rasa tidak puas warga negara merupakan malapetaka serius bagi negara”.

(12)     Besar pajak dan keuntungan perdagangan diatur berdasarkan kesepakatan. Kekayaan kerajaan Mauria sengat tergantung kepada penghasilan negara dan pajak. Ada undang-undang yang mengatur mengenai perpajakan. Undang-undang ini dibuat atas kesepakatan raja dan rakyat (2003:129). Contoh, pemasukan penghasilan dari tambang dikenai pajak 5% (2003:125). Pengambilan keuntungan dalam berdagang dikendalikan. Kautilya mengatakan bahwa pengawas perdagangan memastikan keuntungan 5% atas barang-barang lokal, dan 10%  terhadap barang-barang  (2003:43)

(13)     Rakyat yang berkualitas dan bebas dari rasa malas. Janapada adalah wilayah dan penduduk. Penduduk adalah warga negara yang dinamis dalam organisasinya dan mengaktifkan wilayahnya (2003:44). Kautilya mengatakan rakyat haruslah individu-individu yang berhati tulus dan penuh cintakasih, bhakti-suci. Kreatif, giat bekerja untuk mendapatkan nafkah. Mau mengembangkan sumber daya yang terpendam dalam dirinya, kamasila karsakah. Bebas dari sifat malas dan acuh-tak acuh, pramada. Dikatakan pula bahwa individu bukan pribadi yang terisolir, tetapi bagian dari suatu tatanan sosial. Ada tiga kelas penduduk, yaitu negarawan, angkatan perang, dan para pekerja. Ketiga kelas penduduk itu masing masing mempunyai kewajiban yang telah ditetapkan dan dilarang untuk mencampur-adukkan kewajiban (2003:65). Kautilya mengatakan, “baur dalam kewajiban dan rasa tidak puas warga negara dikatakan malapetaka serius bagi negara”.

(14)     Kesetaraan gender. Kautilya mempunyai pandangan yang sama dengan Manu tentang wanita, yaitu yatra naryasya pujyonte tatra ramante devatah. Artinya, para dewa akan turun menjelajahi dunia bilamana para wanita dihormati. Kautilya menegaskan, ia yang menghormati kaum wanita berarti perduli terhadap peraturan pemerintah. Berzinah dengan gadis belum dewasa adalah tindakan kriminal. Memperkosa dan membunuh wanita mendapat hukuman yang berat. Kautilya menghargai perkawinan yang monogami. Hubungan antara suami dengan istrinya adalah hubungan yang saling mengasihi. Perkawinan merupakan suatu ikatan yang kooperatif terutama dalam kedekatan dan kebahagiaan. Suami-istri bukan saja bersikap sebagai teman, tetapi bersama-sama menanggung berat-ringannya pekerjaan. Suami harus memperlakukan istrinya dengan penuh hormat. Istri berhak mengklaim biaya hidup dan hasil yang diperoleh suaminya sesuai dengan proporsinya. Tidak dibenarkan di antara mereka berdua boleh melakukan kekezaman (2003:145-146).

 

  1. Simpulan

Kerajaan atau negara yang diidealkan oleh Kautilya adalah negara dinamis yang dibangun dengan poros dharma untuk mencapai cita-cita jagaddhita: artha dan kama. Oleh karena itu negara haruslah dipimpin oleh seorang svami, yaitu seorang raja yang berkualitas rsi. Artinya, seorang pemimpin negara yang telah berhasil menjelmakan dharma sebagai kepribadiannya. Negara dan svami ibarat tubuh dengan jiwanya. Svami adalah seorang grahastin, seorang ayah bagi rakyatnya, dharma-svami. Oleh sebab itu tujuan utamanya adalah mengusahakan artha untuk mendorong (kama) anak-anaknya untuk mendapatkan dharma, dan mengamalkan dharma-nya. Dharma dalam konteks kerajaan atau negara adalah hakikat demokrasi. Kautilya dengan tandas menyatakan bahwa dharma dalam konteks individu adalah kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab; dalam konteks sosial adalah solidaritas sosial; dalam konteks agama yang dipeluk rakyat adalah realisasi diri; dalam konteks peraturan yang diundangkan adalah danda. Jiwa demokrasi ini kemudian dikonkretkan dalam unsur-unsur negara yang disebut astangga.

Dengan demikian di dalam Arthasastra tercermin unsur-unsur demokrasi, seperti dijelaskan dalam konsepsi demokrasi di atas, antara lain kerajaan atau negara mengakui keanekaan; rakyat bebas dalam berserikat atau berorganisasi; terdapat kerja sama yang merdeka dan harmonis; svami mengusahakan tegaknya keadilan; terdapat pemisahan dan pembagian kekuasaan; kekuasaan diperoleh berdasarkan hukum; pemilihan pejabat negara berdasarkan kualitas moral dan keahliannya; kebijakan pemerintah dijalankan berdasarkan hukum; suksesi kepemimpinan dilaksanakan secara terencana; ada kebebasan individu untuk mengembangkan bakat dan minat; menjamin perlindungan hak dan kesejahteraan sosial; besarnya pajak dan keuntungan perdagangan ditetapkan berdasarkan kesepakatan; dan penyelesaian perselisihan secara melembaga dengan mengutamakan perdamaian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Bacaan

Bagus. Lorens, 2002. Kamus filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Berg, C.C, 1985, Penulisan Sejarah Jawa, Jakarta: Bhatara.

 

Budiardjo, Miriam, 1983. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakata: Gramedia.

 

Clack, George, 2001, Demokrasi (Jurnal), A March of The Lyberty: A Constitutional History of the United States (2nd ed, 2001).

 

De Graaf, H.J, 1985, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati, Jakarta: Grafiti Pers.

 

_________, 1987, Disntergrasi Mataram: Di Bawah Mangkurat I, Jakarta: Grafiti Pers.

 

Kahmad, H. Dadang, 2000, Sosiologi Agama, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya.

 

Machiavelli, The Art of War (terjemahan: E. Setyawati Alkhatab dan Toni Setiawan), Yogyakarta: bentang Budaya.

 

Plato, 2002, The Republic (terjemahan: Sylvester Sukur), Yogyakarta: Bentang Budaya.

 

Schrieke, 1955, The Native Rulers (dalam Indonesian Sociological StudiesSelected Studies on Indonesia. Bandung: The Hague.

 

Sparringa, Daniel, 2007, ”Kapita Selekta Politik Indonesia” (kumpulan materi kuliah), Denpasar: Propgram Pendidikan Doktor kajian Budaya, Program Pascasarjana, UNUD.

 

Sura. dkk. I Gede, 2003. Studies in Kautilya (Terjemahan). Denpasar: Program Magister Universitas Hindu Indonesia.

 

Triguna, I.B.G Yudha, 1999, “Strategi Adaptasi Budaya” (Modul Teori Adaptasi Budaya), Jakarta: Dikdasmen.

 

________,2002. Hindu dan Modernitas: Refleksi Sosiologi Agama terhadap Fenomena Spiritualitas. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Sosiologi Agama. Denpasar: Universitas Hindu Indonesia.

________,2002. “Strategi Pemberdayaan Masyarakat dan Kebudayaan Bali dalam Dinamika Multikultural” (Makalah). Denpasar: Balai Kajian.

________,2003. “Masyarakat Sipil dalam Tradisi Desa Pakraman untuk Masa Depan Masyarakat Bali” (Makalah, 14 Maret). Denpasar: Hotel Inna, Veteran.

Wesnawa, Ida Bagus Putu. 2002. Revitalisasi Kebudayaan Hindu Untuk Ketahanan Masyarakat Bali. Denpasar: Sekretariat Dewan Perwakilan Daerah Propinsi Bali.

 

 

 


[1] Model pemerintahan dan sistem kekuasaan seperti ini, yang menganggap bahwa raja memiliki kekuasaan absolut, bahkan mewakili kekuasaan para dewa di bumi sehingga ucapan raja harus dipatuhi, dapat ditelusuri dalam sistem perintahan raja-raja di Jawa. Misalnya, dalam Berg, C.C, 1985, Penulisan Sejarah Jawa, Jakarta: Bhatara; De Graaf, H.J, 1985, Awal Kebangkitan Mataram :Masa Pemerintahan Senapati, Jakarta: Grafiti Pers.; dan juga dalam De Graaf, H.J, 1987, Disntergrasi Mataram: Di Bawah Mangkurat I, Jakarta: Grafiti Pers.

STRATEGI DAN BENTUK KEMASAN NILAI-NILAI AJARAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

Oleh : Nanang Sutrisno, S.Ag, M.Si1)

 

1. Pendahuluan

Perdebatan antara ”agama” versus ”aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa” sesungguhnya telah lama terjadi dan tak kunjung menemukan titik temu. Sesungguhnya, UUD 45 pasal 29, ayat (1) telah memberikan dasar kehidupan  keber-agama-an secara jelas, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini menegaskan bahwa negeri ini memiliki cita-cita luhur untuk membentuk warga negara yang religius. Pembentukan warga negara yang religius dimulai dari keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa. Dengan meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa, setidaknya sikap mental yang ingin dibentuk dalam diri setiap warga, antara lain (1) adanya keyakinan bahwa setiap tindakan manusia diawasi oleh Tuhan sebagai ”saksi agung” alam semesta; (2) keyakinan bahwa ada ”Hukum Tuhan” yang berlaku bagi semua tindakan manusia; (3) keyakinan bahwa manusia tidak ada artinya dihadapan Tuhan; dan (4) keyakinan bahwa Tuhan adalah asal mula dan kembalinya semua yang ada di dunia ini (sangkan paraning dumadi). Keyakinan ini diharapkan dapat mengarahkan tujuan hidup yang hendak dicapai oleh manusia, yaitu kebahagiaan dunia (jagadhita) dan kesempurnaan rohani (moksa).

Secara de yure, tersirat dalam pasal 29, ayat (2) bahwa bentuk implementasi dari keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah ”Negara menjamin kemerdekaan  tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Artinya, setiap penduduk diberi kebebasan untuk mengejawantahkan keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, baik dengan memeluk agama  atau kepercayaan tertentu dan melaksanakan peribadatan sesuai dengan keyakinannya. Akan tetapi secara de facto, tampaknya ”Agama” lebih dominan daripada ”aliran kepercayaan” dalam mengatur kehidupan masyarakat secara luas, misalnya hanya agama yang tercantum dalam KTP, lamaran kerja, dan berkas-berkas lainnya. Akibatnya, sampai saat ini belum ada kebebasan bagi individu untuk memeluk suatu aliran kepercayaan, tanpa memeluk agama.

Ada beberapa pendapat tentang perbedaan agama dan aliran kepercayaan, antara lain (1) agama memiliki kitab suci, aliran kepercayaan tidak; (2) agama memiliki nabi, aliran kepercayaan tidak; (3) agama memiliki tempat suci, aliran kepercayaan tidak; (4) agama lahir dari wahyu, aliran keperayaan lahir dari budaya spiritual. Dalam pengertiannya secara an sich, tampaknya pendapat tersebut seolah-olah benar, tetapi tidak sepenuhnya tepat. Misalnya, di Jawa beberapa penghayat kepercayaan menggunakan sanggaran atau sanggar pamujan untuk melaksanakan kegiatan spiritual. Jika kata nabi disamakan dengan pendiri atau pembawa ajaran, Hindu juga tidak memiliki Nabi sebagaimana umat Muslim. Namun demikian Hindu memiliki seorang maharsi yang tindakannya dapat dipedomani sebagai sila yang baik. Sedangkan aliran kepercayaan memiliki seseorang yang dijadikan sebagai tokoh panutan. Artinya, dalam taraf-taraf tertentu antara agama dan aliran kepercayaan sesungguhnya tidak berbeda karena keduanya meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa dan melaksanakan peribadatan dengan cara-cara tertentu. Atau lebih tepat saya katakan bahwa aliran kepercayaan adalah ”agama dalam bentuk lain”.

Pendapat seperti itu tentunya masih diragukan, bahkan ditentang oleh agama-agama doktrinal yang hanya mengajarkan satu kebenaran, yakni kebenaran menurut kitab sucinya sendiri. Bagi agama doktrinal, penghayat aliran kepercayaan bisa dianggap sebagai orang yang tak beragama karena tidak melaksanakan agama sesuai dengan tuntunan kitab suci. Namun, pendapat ini terbantahkan jika kita amati fenomena penghayat aliran kepercayaan di Bali. Yang terjadi adalah mereka melaksanakan ajaran-ajaran dari aliran kepercayaan yang dianutnya tanpa meninggalkan ajaran agama Hindu. Ini menarik untuk dicermati lebih jauh tentang fenomena aliran kepercayaan di Bali, baik secara filosopis maupun dari peta ajaran Hindu dalam memandang aliran kepercayaan. Selanjutnya, kajian terhadap fenomena ini dapat dijadikan untuk menyusus strategi dan bentuk kemasan nilai-nilai ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sehingga aliran kepercayaan dapat hidup berdampingan dengan agama-agama yang secara resmi diakui di republik ini.

 

2. Aliran Kepercayaan dalam Kilas Sejarah

John Herman Randall menyatakan bahwa agama adalah suatu perjalanan panjang peradaban manusia untuk mendapatkan visi Tuhan Yang terang dan suci. Tak dapat dipungkiri bahwa kelahiran aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa berlangsung dalam sejarah yang panjang. Proses sejarah ini penting untuk dikaji lebih dahulu karena Aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan kebudayaan asli nenek moyang yang tetap bertahan di saat berdatangannya agama-agama baru, seperti Hindu, Budha, Islam, dan Kristen.

Pertama, Bibit kelahiran aliran kepercayaan yang ada sekarang ini merupakan hasil interaksi antara kebudayaan asli Indonesia dengan kebudayaan Hindu-Budha yang datang dari India. Pertemuan antara bentuk-bentuk kepercayaan asli Indonesia dengan Agama Hindu yang datang dari India telah menghasilkan agama Hindu Indonesia yang memiliki keunikan dan kekhasannya sendiri. Sampai dengan keruntuhan Majapahit, agama Hindu-Budha telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi penghayat kepercayaan terhadap TYME. Hal ini dapat dilihat dari munculnya Mahakawya Mpu Tantular ”Bhineka Tunggal Ika tan hana dharma mangruwa” yang telah meletakkan dasar-dasar multikulturalisme di Indonesia. Penyataan mahakawya tersebut, bahwa ”yang berbeda itu sesungguhnya adalah satu”, rupanya menjadi landasan filosopis dari aliran kepercayaan bahwa Tuhan adalah Esa yang dipuja dengan banyak nama (hal ini tidak ada dalam agama-agama doktrinal). Oleh sebab itu, penghayat kepercayaan menyebut Tuhannya dengan sebutan Sang Hyang Tuduh, Sang Hyang Titah, Gusti Hyang Maha Agung, Hyang Maha Suci, yang nama-nama ini tidak asing dalam agama Hindu di Indonesia.

Kedua, pasca keruntuhan Majapahit dan masuknya Islam ke Indonesia, aliran kepercayaan memadukan antara ajaran Agama asli Indonesia, Hindu, Budha, dan Islam. Meskipun secara kuantitatif agama Islam adalah agama mayoritas di Indonesia, tetapi dalam kenyataannya masihn banyak orang yang melaksanakan tradisi-tradisi peninggalan Hindu Budha. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Clifford Geertz bahwa masyarakat Islam di Jawa dapat dibagi menjadi tiga, yaitu Islam Priyayi, Islam Abangan dan Islam Santri. Dari ketiganya, hanya Islam Santri yang dianggap benar-benar melaksanakan ajaran agama Islam, sedangkan dua lainnya adalah penganut kejawen. Dalam perkembangannya, lahirlah sastra-sastra suluk dan serat-serat di Jawa yang mengungkapkan ajaran-ajaran asli leluhur, Hindu-Budha, dan Islam.

Ketiga, datangnya agama Kristen yang membawa ilmu pengetahuan dan tekhnologi, serta ajaran tentang cinta kasih. Kedatangan agama Kristen ini sedikit banyak turut mempengaruhi perkembangan aliran kepercayaan di Indonesia dengan pendekatan baru, yakni cinta kasih pada sesama (welas asih).

Dengan demikian semakin jelas peta sejarah perkembangan aliran kepercayaan di Indonesia di tengah-tengah hadirnya agama-agama baru. Oleh sebab itu berbagai paguyuban atau perguruan aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa memiliki nuansa dan penekanan yang berbeda antara satu dengan lainnya, antara lain (1) berorientasi pada magis-religius; (2) berorientasi pada upacara ritual; (3) berorientasi pada kehalusan budi pekerti / olah rasa; dan (4) berorientasi pada cinta-kasih terhadap sesama.

 

3. Pandangan Hindu Terhadap Aliran Kepercayaan Terhadap TYME

Hindu sebagai agama tertua di dunia memiliki pemikiran yang cukup lengkap terhadap persoalan-persoalan ketuhanan. Hal ini dapat dirunut dalam perkembangan ajaran ketuhanan dalam perjalanan kebudayaan manusia, yakni dari tahap animisme hingga pantheisme.

(1)    Animisme, adalah keyakinan adanya roh-roh yang mendiami suatu tempat dan dapat menolong/mengganggu kehidupan manusia. Keyakinan animis ini rupanya telah ada dalam sejarah Hindu di India, yakni sejak zaman Pra-weda. Hal ini ditandai dengan penemuan artefak peradaban lembah sungai Sindhu, yaitu ditemukannya prototipe Siwa Mahayogi, yakni Dewa Siwa sedang bersemadi dan dikelilingi oleh binatang-binatang. Dalam kenyataannya, animisme masih melekat dalam kehidupan masyarakat Bali, juga penghayat aliran kepercayaan lainnya. Misalnya, masyarakat Bali masih memiliki keyakinan adanya roh-roh halus yang tinggal di pepohonan yang besar sehingga pohon tersebut diberi saput poleng dan diberi suguhan. Keyakinan ini juga diikuti oleh para penghayat aliran kepercayaan, misalnya mereka pada umumnya meyakini bahwa di dalam sebuah tempat terdapat roh-roh halus yang disebut danyang, mbahe, sing mbau rekso, dan sebagainya. Kemudian setelah Hindu datang maka keyakinan animis tersebut mendapat sentuhan dari Hinduisme sehingga melahirkan upacara-upacara keagamaan seperti Tumpek Bubuh, Tumpek Kandang, Tumpek Landep, Tumpek Wayang, Sad kertih dan sebagainya.

(2)    Dinamisme adalah keyakinan akan adanya kekuatan gaib di dalam benda-benda, seperti keris, batu permata, tombak pusaka dan sebagainya. Gejala dinamisme ini juga dapat dengan mudah diamati dalam kehidupan orang Bali, juga penghayat kepercayaan.

(3)    Polytheisme, yaitu keyakinan akan adanya banyak dewa yang menguasai jadad raya. Dalam ajaran Hindu dikenal konsep tentang ista dewata yang maknanya kurang lebih sama dengan konsep polytheisme ini, yakni setiap umat diberi kebebasan untuk menentukan dewata pujaannya sendiri. Misalnya, seorang pedagang memuja Bhatari Melanting, petani memuja Bhatara Sangkara, nelayan memuja Bhatara Baruna, dan seterusnya. Konsepsi polytheis ini pada hakikatnya juga diyakini oleh para pengahayat kepercayaan terhadap TYME. Bahkan, nama-nama dewa Hindu sangat akrab dengan kehidupan masyarakat penghayat kepercayaan, seperti Sanghyang Baruna, Sanghyang Anantabhoga, dan sebagainya. Walaupun disebut sebagai aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ini tidak bermakna bahwa para penghayat tidak meyakini adanya dewa-dewa atau kekuatan-kekuatan lain di alam ini, melainkan ini adalah bagian dari konsep teologis mereka.

(4)    Monotheisme, yakni keyakinan hanya ada satu Tuhan. Ini bermakna bahwa seluruh aspek ketuhanan yang dipuja secara terpisah-pisah dalam konsepsi monotheisme dapat diwakilkan atau difokuskan pada pemujaan terhadap satu nama Tuhan. Filosopisnya adalah jika yang banyak itu sesungguhnya satu, mengapa tidak memuja yang satu itu saja karena dengan memuja yang satu sama dengan memuja yang banyak. Secara konseptual, dasar-dasar monotheisme di Bali diletakkan oleh Danghyang Dwijendra, yaitu pendirian Padmasana dalam setiap bangunan pura. Konsep padmasana ini merupakan loncatan teologis masyarakat Hindu di Bali dari polytheis menuju monotheis. Dalam konsep ini, Tuhan dipandang sebagai ”makhluk istimewa” yang keberadaannya berada di luar manusia.

(5)    Monisme adalah paham ketuhanan yang menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan sebagai hakikat dari segala yang ada. Maksudnya, segala perbedaan yang tampak ada di alam semesta ini adalah maya, sedangkan yang sungguh-sungguh nyata adalah Tuhan itu sendiri, jiwa alam semesta. Sampai di sini kita sesungguhnya telah berbicara tentang upanisad, dimana yang nyata hanyalah brahman. Segala yang ada ini semua adalah brahman yang turun kesadarannya akibat pengaruh maya, dan saatnya nanti ketika maya telah teratasi maka semuanya akan kembali kepada brahman yang berkesadaran, manunggaling kawula lan gusti. Inilah landasan filosopis aliran-aliran kepercayaan yang berorientasi pada ajaran kasampurnan.

(6)    Pantheisme adalah paham pluralisme yang menyatakan bahwa Tuhan adalah semua ini. Ketika manusia telah sampai pada tingkat kesadaran yang tertinggi, dia akan meihat Tuhan dalam diri setiap makhluk, apapun itu. Paham tat twam asi (engkau adalah itu) dan vasudeva kutumbakam (semua makhluk bersaudara) adalah kesadaran semesta tertinggi yang hanya mungkin tercapai ketika manusia telah mengalami pencerahan rohani. Ketika manusia telah bisa menyadari bahwa segala yang ada di alam ini adalah Tuhan, maka tiada alasan baginya untuk tidak cinta kasih, welas asih kepada semua makhluk. Ini adalah puncak dari kesadaran manusia yang sesungguhnya ingin digali oleh para penghayat kepercayaan melalui tapa, brata, yoga dan samadhi.

Sampai disini dapat dipahami bahwa Hindu memberikan konsep ketuhanan yang sangat luas dan dalam, di mana aliran kepercayaan berenang di dalamnya. Pada hakikatnya, seluruh paham (isme) tersebut terangkum dalam beberapa kesusasteraan Hindu, baik dalam Weda Sruti, Smerti maupun dalam sastra-sastra Hindu berbahasa Jawa kuno, antara lain sebagai berikut.

Indram mitram warunam agnim

Ahur atho diwyah,

ekam sad viprah bahuda vadanti”

 

Mereka menyebut Indra, Mitra, Waruna, Agni, dan dia yang bercahaya yakni  Garutman yang bersayap elok. Tuhan adalah Esa, namun orang bijaksana menyebutnya dengan banya nama.

(Rg.Weda I. 164. 46)

 

”Narayano na dwityo asti kascit” (Narayana adalah suci, Esa, tiada duanya

(Narayanopanisad)

 

Ekam evam adwityam Brahman” (hanya satu Tuhan tiada duanya)

(Swetaswatara Upanisad)

Suvarnam viprah kavayo vacobhir,

Ekam santam bahuda kalpayanti

(Walaupun Tuhan itu Esa, tetapi para pujangga yang bijaksana mengungkapkan dengan banyak nama yang indah di dalam karya mereka).

(Rg. Veda X.114.5)

 

sakwehning jagat kabeh, mijil sangkeng Bhatara Siwa ika, lina ring Bhatara Siwa ya”

(Semua yang ada di alam ini muncul dari Bhatara Siwa dan akan kembali kepada Bhatara Siwa Juga)

(Bhuwana Kosa, III.80)

 

Ekatva Anekatwa swalaksana Bhatara”

(Sifat Bhatara adalah Eka dalam Aneka, satu dalam yang banyak dan yang banyak itu satu)

(Jnanasidhanta)

 

Bhineka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”

(Yang berbeda itu, satu itu, tidak ada dharma yang mendua)

(Kakawin Sutasoma)

Sebagai sebuah agama, Hindu memformulasikan dasar-dasar keyakinannya dalam lima hal, disebut Panca Sradha. Jika dicermati lebih dalam, sesungguhnya pokok-pokok ajaran filsafat Jawa (kejawen) tidaklah bertentangan dengan dasar-dasar keyakinan Hindu tersebut. Hindu dan kejawen sama-sama meyakini bahwa asal mula dari segala yang ada ini adalah dari Sang Hyang Titah, Sang Hyang Widdhi Wasa, Sang Hyang Manon, Sang Hyang Wenang dan banyak lagi nama-nama Tuhan dalam kehidupan spiritual masyarakat Jawa. Hindu dan kejawen sama-sama meyakini bahwa jiwa manusia adalah Tuhan itu sendiri, bahwa atman dengan brahman adalah tunggal (brahman atman aikyam), dalam keyakinan Jawa disebutkan bahwa antara kawulo dengan gusti sejatinya adalah satu “loro-loroning atunggal”. Bahwa keyakinan tentang hukum karma phala adalah dasar etika orang Jawa yang meyakini bahwa setiap yang berbuat pasti akan memetik hasilnya, ngunduh wohing pakarti (memetik buah dari perbuatan). Bahwa roh-roh yang belum mendapatkan kebebasan akan menjelma kembali ke dunia untuk berganti wadah kasar atau tubuh yang dikenal dengan ungkapan salin klambi (berganti baju), bahwa raja-raja di Jawa adalah penitisan dari Dewa untuk menjalankan dharma dan mensejahterakan dunia adalah keyakinan orang Jawa tentang tumitisan. Dan, tentunya moksa bagi umat Hindu dan orang Jawa adalah tujuan tertinggi yang ingin dicapai dalam kehidupannya, yaitu manunggaling  kawula lan gusti.

Lebih lanjut, Hindu mengajarkan empat jalan (catur marga) untuk menghayati Tuhan, yaitu melalui jalan kerja (karma marga), jalan bhakti (bhakti marga), jalan pengetahuan (jnana marga), dan jalan yoga (raja marga). Dasar-dasar aliran kepercayaan yang ada di Indonesia sesungguhnya menjalankan, satu, sebagian atau seluruhnya dari keempat jalan tersebut. Jalan karma misalnya, dapat diartikan sebagai jalan berhubungan dengan Tuhan melalui tindakan ritual (karma kanda) maupun tindakan etika (subha karma). Aliran kepercayaan yang menekankan ajarannya pada tindakan ritual akan melakukan berbagai ritual sebagai bentuk pelestarian tradisi, seperti petik laut, grebeg suro, wisuda bumi, dan sebagainya. Sedangkan aliran kepercayaan lainnya menekankan pada tindakan etika yang berpuncak pada terbentuknya kepribadian manusia yang berbudi pekerti luhur dan welas asih terhadap sesamanya.

Selanjutnya bhakti marga, oleh masyarakat kejawen sering disebut panembah. Artinya, jalan berhubungan dengan Tuhan melalui sembah dan persembahan. Adalah perpaduan antara tindakan ritual dan sembahyang atau sujud bhakti kepada Tuhan. Aliran Sapta Dharma misalnya, melakukan ritual sujud-an kepada Allah Yang Maha Agung untuk menggali rasa (olah rasa) yang ada dalam dirinya. Bhakti marga adalah jalan untuk mendapatkan nur (cahaya pencerahan) dari Tuhan. Sementara itu, jnana marga (jalan pengetahuan) banyak dilakukan oleh para penghayat aliran kepercayaan yang gemar menekuni sastra, gending, kekidungan dan sebagainya untuk menemukan mutiara-mutiara kebijaksanaan. Melalui jalan membaca dan mendiskusikan sastra-sastra maka tumbuh kebijaksanaan dalam diri setiap penghayat. Bagi pengikut aliran ini maka tindakan ritual yang dilakukan lebih banyak  berupa bedah sastra, perenungan mengenai makna yang terkandung di dalamnya, sampai akhirnya muncul kesadaran diri.

Namun, pada dasarnya semua aliran kepercayaan tidak dapat melepaskan diri dari ajaran raja marga yoga (jalan spiritual). Inilah yang melandasi corak aliran kepercayaan di Indonesia kental dengan nuansa magis-religius. Nuansa magis-religius ini terjadi oleh perpaduan antara tradisi ritual (sesaji) dan tindakan spiritual (tapa, brata, yoga, dan samadhi). Berbicara mengenai magis-religius ini tak dapat dilepaskan dari bentuk kebudayaan asli Indonesia dan perpaduannya dengan ajaran Tantra dari India yang dikembangkan oleh Hindu-Budha di masa lalu. Terdapat untaian benang merah dari sejarah spiritual masa lalu yang masih dipertahankan hingga saat ini oleh para penghayat kepercayan terhadap TYME. Kesan yang dapat ditangkap dari uraian ini adalah Agama Hindu-Budha telah memberikan dasar spiritualitas yang kokoh dalam diri bangsa ini sehingga aliran kepercayaan masih tetap bertahan hingga saat ini, di tengah-tengah menguatnya formalisme dan fanatisisme agama-agama doktrinal.

Bagaimana dengan di Bali ?

Para penghayat kepercayaan di Bali mungkin lebih arif dalam menerapkan agama dan kepercayaannya. Sebagai bandingan, secara konseptual agama-agama doktrinal tidak akan memberikan ruang bagi perkembangan aliran kepercayaan, bahkan secara ekstrim mungkin menganggapnya sebagai tindakan musryik. Akan tetapi, agama Hindu di Bali memberikan ruang yang luas bagi perkembangan aliran kepercayaan karena dalam praktiknya, orang Bali yang menganut aliran kepercayaan tertentu tidak pernah meninggalkan tradisi beragama Hindu seperti yang telah mereka warisi selama ini. Sederhananya, tidak ada orang Bali yang ngutang sanggah (menelantarkan merajan-nya) hanya demi memeluk satu aliran kepercayaan tertentu. Hal ini juga karena ada kesesuaian antara ajaran Hindu dan aliran kepercayaan. Misalnya, konsep sadulur papat lima pancer yang merupakan budaya asli nusantara dan diyakini oleh hampir seluruh aliran kepercayaan, secara nyata telah dilaksanakan di Bali secara turun-temurun. Konsep ini di Bali disebut dengan nyama catur/kanda pat, yang perkembangannya justru lebih luas dari di Jawa. Di Jawa, nyama catur tidak lagi dibagi-bagi menjadi kanda pat bhuta, rare, dewa, sari, seperti di Bali. Artinya, strategi dan bentuk kemasan aliran kepercayaan di Bali, setidaknya dapat dijadikan model untuk menyusun strategi dan bentuk kemasan aliran kepercayaan di Indonesia.

4. Strategi dan Bentuk Kemasan Nilai-Nilai Ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

 

Untuk menyusun strategi dan bentuk kemasan nilai-nilai ajaran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa maka perlu adanya kesepakatan pemahaman bahwa aliran kepercayaan tidak layak dipertentangkan dengan agama. Hal ini penting agar terjadi hubungan yang harmonis antara pemeluk agama dengan penghayat aliran kepercayaan. Sebaliknya, aliran kepercayaan mesti dikembalikan ke ide awal pembentukannya, yakni  ”kemerdekaan” dalam beribadat dan menghayati Tuhan. Kemerdakaan yang dimaksud adalah aliran kepercayaan terbebas dari doktrin-doktrin yang mengikat pengikutnya. Aliran kepercayaan pada hakikatnya hanya memberikan petunjuk-petunjuk hidup duniawi dan hidup spiritual, tetapi secara praksis tidak mengatur tata cara ber”kepercayaan”, sebagaimana diatur oleh agama. Misalnya, aliran kepercayaan tidak mesti memiliki tempat suci karena tempat suci ada dalam diri, aliran kepercayaan tidak mesti memiliki kitab suci karena kitab suci ada dalam diri, aliran kepercayaan tidak mesti memilki hari-hari suci karena setiap hari adalah suci, dan aliran kepercayaan tidak mesti memiliki aturan beribadah karena beribadah adalah hubungan pribadi antara manusia dengan Tuhan.

Kearifan ini penting untuk menjaga terjadinya benturan antara agama yang secara sah diakui di Indonesia dengan penghayat kepercayaan yang nota bene, juga adalah umat beragama. Selanjutnya, strategi dan bentuk kemasan aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat diuraikan sebagai berikut.

(1)     Aliran kepercayaan adalah kebudayaan spiritual asli nusantara yang mesti dilestarikan keberadaannya.

(2)     Penghayat aliran kepercayaan mesti mendapatkan pembinaan dari pemerintah karena pada dasarnya mereka juga adalah bagian integral dari negeri ini.

(3)   Pada dasarnya aliran kepercayaan tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 karena mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa.

(4)   Aliran kepercayaan merupakan tuntunan rohani yang memberikan kemerdekaan bagi penghayatnya untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

(5)   Bentuk dan kemasan nilai-nilai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus diperkenalkan melalui pendekatan sosiokultural. Artinya, bentuk kemasan itu tidak bertentangan dengan norma-norma umum yang berlaku dimasyarakat serta dapat disesuaikan dengan local genious (kearifan lokal) masyarakat.

(6)   Pada prinsipnya, ajaran-ajaran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa cukup fleksibel dan dapat hidup dalam diri orang yang menganut agama yang berbeda. Oleh sebab itu bentuk dan kemasan ajaran kepercayaan terhadap TYME harus memenuhi aspek spiritualitas, etika moralitas, dan pengembangan nilai-nilai nasionalisme. Ketiganya penting untuk dipenuhi agar keberadaan aliran kepercayaan tidak menimbulkan disintegrasi bangsa.

(7)   Para tokoh aliran kepercayaan perlu duduk bersama dengan tokoh-tokoh agama untuk mensosialisasikan ajaran-ajaran kepercayaan dan merumuskan langkah bersama agar keduanya dapat berjalan harmonis, selaras dan seimbang.

5. Penutup

Dunia ini dipenuhi dengan orang gila, termasuk juga aku.

Ada yang gila harta benda, dan sebagian lagi gila akan kemahsyuran dan kemolekan tubuh wanita, namun aku lebih beruntung karena kegilaanku adalah untuk bertemu dengan Tuhan”

(Ramakrhsna Paramahamsa)

Sesungguhnya setiap orang menginginkan kebahagiaan, baik jasmani maupun rohani. Untuk itulah setiap manusia berusaha untuk mendapatkannya dengan berbagai cara. Dari semua cara yang ada, tiada cara yang lebih bijak kecuali spiritualitas. Dengan spiritualitaslah semua tujuan hidup mungkin tercapai.

Spiritualitas menyingkap batas ruang, waktu, dan tindakan manusia. Seperti dijelaskan oleh Gita bahwa ”Dengan jalan apapun engkau datang kepadaKU, maka dengan jalan dan cara itu pula AKU hadir di hadapanmu”. Inilah sabda Tuhan bahwa di jalan spiritual tidak ada jalan yang satu lebih tinggi daripada jalan yang lain. Yang terpenting adalah disiplin dan komitmen diri terhadap jalan dan cara yang telah dipilih. Niscaya, Tuhan akan selalu bersama kita.

”Pandanglah bangsa ini dengan kacamata MULTIKULTURALISME,

Dan bangunlah bangsa ini dengan NASIONALISME,

Raihlah kemuliaan dengan SPIRITUALISME

Niscaya, pintu kebahagiaan dan kedamaian akan terbuka untukmu ”

6. Daftar Pustaka

Beatty, Andrew. (2001). Variasi Agama di Jawa. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.

 

Endraswara, Suwardi. 2003. Mistik Kejawen. Yogyakarta: Hanindita.

_________________, 2003. Budi Pekerti Dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

 

Geertz, Clifford. (1960). The Religion of Java. Glencoe,III. The free Press.

 

Geria, I Wayan. (2000). Transformasi Kebudayaan Bali memasuki Abad XXI. Percetakan Bali. Denpasar.

 

Gunadha, Ida Bagus. 2005. Pengantar Mata Kuliah : Veda. Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, UNHI Denpasar.

 

Herusatoto, Budiono. 2003. Simbolisme Dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

 

 

 

Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta.Balai Pustaka.

____________, 2004. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama.

 

Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu I – XV, Pemerintah Propinsi Bali.

 

Kumar, Bhachan. 2006. Cultural Relations Between Indonesia and India During Ancient Period. Makalah disampaikan dalam seminar Dwimingguan di Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, UNHI Denpasar.

 

Magetsari, Nurhadi. 1986. Local Genious Dalam Kehidupan Beragama, dalam Kepribadian Budaya Bangsa, Jakarta. Pustaka Jaya.

Phalgunadi, I Gusti Putu. 2006. Sekilas Sejarah Evolusi Agama Hindu. Denpasar. Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan.

 

Pudja, MA. SH. Gede. Pengantar Agama Hindu III: Weda. Jakarta. MS.

 

Purwadi, Dr. 2005. Ilmu Kasampurnan Syekh Siti Jenar. Yokyakarta. Tugu Publisher.

Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta. Kanisius.

 

Supartha, I Wayan, ed. 1994. Memahami Aliran Kepercayaan. Denpasar: BP.


1)       Penulis adalah Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, juga staff pengajar di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.